Perasaan haru di kalangan keluarga korban saat peresmian 'Taman MH17'

MH17 Hak atas foto REMKO DE WAAL
Image caption Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima menghadiri peresmian taman bagi keluarga korban MH17.

Salah seorang keluarga korban jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH 17 dari Indonesia, Joss Wibisono, mengaku terharu dan teringat kembali momen saat dia menerima kabar bahwa salah satu korban korban adalah bibinya.

Hal itu diungkapkannya setelah mengikuti upacara peresmian taman yang didedikasikan untuk para korban MH17 di Vijfhuizen, di dekat bandara Schiphol di Amsterdam, tempat pesawat naas itu lepas landas menuju Kuala Lumpur pada 17 Juli 2014.

"Saya juga ingat bagaimana mengantar bibi saya ke bandara Schiphol untuk terbang ke Jakarta dan ternyata beliau tidak pernah kembali", kata Joss kepada wartawan BBC Indonesia Mehulika Sitepu.

Joss bersama keluarga korban lain diundang dalam acara peresmian taman yang dihadiri oleh Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima, Senin (17/07), beserta pemerintah Belanda dan pejabat internasional. Dalam acara itu, semua nama korban juga disebut satu per satu.

"Semua merasakan yang sama. Dan ketika nama-nama dibacakan oleh keluarga, banyak di antara mereka juga yang terharu, menangis tersedu sedan karena mengingat lagi tiga tahun yang lalu."

Taman itu terdiri atas 298 pohon, mewakili setiap penumpang dan kru yang tewas dalam pesewat yang jatuh ditembak rudal di atas wilayah Ukraina, yang saat itu sedang dilanda konflik.

"Seperti yang dikatakan salah seseorang keluarga yang berpidato, penembakan pesawat MH17 ini telah menyebabkan semacam lubang di masing-masing keluarga korban," tambah Joss.

Hak atas foto JOSS WIBISONO
Image caption Acara peresmian taman yang dihadiri oleh Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima, Senin (17/07), beserta pemerintah Belanda dan pejabat internasional.

Kebanyakan korban berasal dari Belanda namun 17 di antaranya adalah warga negara Indonesia, Malaysia, Inggris dan Australia.

Kelompok perkumpulan keluarga korban menyatakan bahwa pohon melambangkan 'harapan' dan 'masa depan' dalam banyak budaya.

"Kami tidak hanya ingin memperingati para korban MH17, namun juga menciptakan sebuah tempat di mana semua orang dapat menyimpan memori ke 298 penumpang tetap hidup."

Hak atas foto REMKO DE WAAL / POOL
Image caption Nama-nama korban yang diukir di monumen baja di tengah-tengah taman.

'Mata' yang memandang ke langit

Satu pohon apel didedikasikan ke Gary, seorang anak 16 tahun dari Rotterdam, yang jasadnya masih belum dapat diidentifikasi.

"Rasanya senang memikirkan dia memiliki sebuah pohon, karena kami masih belum mendapatkan jasadnya. Kami tidak ingin Gary dilupakan. Kami tidak ingin ada yang dilupakan dari ke 298 penumpang", kata ayah Gary, Jan Slok kepada surat kabar AD.

Hak atas foto JOSS WIBISONO
Image caption Taman 'peringatan hidup' dikelilingi dengan bunga matahari yang mekar setiap Juli.
Hak atas foto Getty Images
Image caption Konstruksi taman pada April 2017.

'Monumen hidup' ini dirancang sejak akhir 2015 oleh seniman Ronald A. Westerhuis dan arsitek landscape Robbert de Koning, dengan dana yang dihimpun dari sejumlah sumbangan.

Taman 'peringatan hidup' ini dikelilingi bunga matahari yang mekar setiap Juli dan 'memancarkan cahaya keemasan' ke pepohonan.

Di tengah-tengah taman yang terdiri atas 11 varietas pohon terdapat tugu terbuat dari baja berbentuk mata yang memandang ke langit.

Harian Trouw menulis bahwa tugu berbentuk alis sepanjang 16 meter melambangkan 'beban orang-orang yang kehilangan', dan karat yang muncul seiring waktu melambangkan perjalanan rasa sakit. Nama para korban juga diukir di bagian bola mata.

"Jika anda melihat ke dalam, anda dapat melihat diri anda sendiri dan nama orang yang anda kasihi", kata seniman Westerhuis di harian Trouw.

Hak atas foto AFP
Image caption Bunga yang diberikan oleh keluarga salah satu korban asal Australia di bangkai pesawat MH17 pada Juli 2014 yang jatuh di wilayah Donetsk.

Penyelesaian hukum

Meski sudah tiga tahun berlalu, belum ada tersangka yang ditangkap terkait kasus penembakan pesawat MH17, meski diumumkan pada 5 Juli lalu bahwa setiap persidangan tersangka pelaku penembakan MH17 akan dilangsungkan di Belanda.

Sekitar 100 orang dicari terkait kasus ini setelah penyelidikan yang dipimpin oleh Belanda menyimpulkan pesawat ditembak jatuh oleh rudal buatan Rusia yang ditujukan ke pemberontak Rusia.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko menuntut agar Rusia bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

"Itu adalah kejahatan yang memalukan yang dapat dihindari jika tidak karena serangan Rusia, sistem dan rudal Rusia yang datang dari wilayah Rusia", tulis Poroshenko di media sosial Facebook.

Meski begitu, Rusia kerap menyangkal keterlibatan mereka dan terus meyalahkan Ukraina.

Yayasan keluarga korban MH17, seperti diutarakan Joss Wibisono kepada BBC Indonesia, akan "terus bekerja sampai tersangka pelaku penembakan pesawat benar-benar diadili".

Berita terkait