Sebuah kota di Kanada tolak pemakaman Islam

Pusat Kebudayaan Islam Quebec Hak atas foto EPA
Image caption Pusat Kebudayaan Islam Quebec berada di area Sainte Foy di Quebec

Sebuah kota di Kanada telah memutuskan untuk menolak sebuah perubahan zonasi yang dapat mengizinkan pembangunan pemakaman Muslim.

Keputusan diambil dalam sebuah referendum pada Minggu (16/07) di Saint-Apollinaire, sebuah kota yang berada di dekat Kota Quebec.

Menurut aturan di provinsi tersebut, hanya 49 orang yang memenuhi syarat untuk memilih ; suara yang tidak setuju menang dalam referendum tersebut, dengan perolehan suara 19-16 dan satu kertas suara tidak sah.

Pembangunan pemakaman diajukan oleh Pusat Kebudayaan Islam Quebec, di kota tempat tewasnya enam orang dan 19 orang terluka akibat penembakan pada Januari lalu.

"Kami tidak pernah berpikir bahwa orang dapat menolak pembangunan sebuah pemakaman" kata presiden Pusat Kebudayaan Islam Quebec , Mohamed Labidi kepada Radio-Canada. "Apa yang mereka takutkan?"

Pusat Kebudayaan Islam Quebec telah membeli sebidang tanah di sebuah area hutan di dekat sebuah pemakaman, setelah peristiwa penembakan. Satu-satunya pemakaman Muslim di Quebec yaitu di Laval, beberapa jam dari Kota Quebec.

Keputusan penduduk kota untuk menolak pembangunan pemakaman telah menimbulkan kemarahan di kalangan Muslim dan ahli hukum hak sipil di seluruh negara itu dan mungkin akan memicu masalah hak asasi, kata Kabidi.

Walikota yang mendukung pembanguan pemakaman itu telah mengatakan dia khawatir keputusan itu akan mencederai reputasi kotanya.

"Mereka tidak mengetahui orang-orang ini jadi mereka memutuskan berdasarkan desas-desus" kata Walikota Bernard Ouellet kepada Canadian Broadcasting Corporation.

Para penentang mendatangi rumah-rumah untuk mengumpulkan tandatangan untuk menggelar referendum, karena pembangunan pemakanan akan membutuhkan sebuah perubahan zonasi. Aturan hukum yang berlaku di provinsi tersebut mengizinkan referendum digelar untuk mentukan masalah zonasi, dan hanya orang-orang yang tinggal di lokasi yang terdampak yang memiliki hak suara.

Artinya hanya 49 orang di kota berpenduduk 5.000 jiwa itu yang dapat memilih, dan hanya 36 orang yang memberikan suara.

"Kami butuh pemakaman yang menerima semua orang, tidak peduli apa agama mereka, dari mana mereka berasal, apa warna kulit mereka, buadaya mereka. Anda harus memikirkan mengenai hal itu karena dalam 20 tahun mendatang itu akan menjadi sebuah masalah," jelas seorang yang menolak pembangunan pemakaman, Sunny L├ętourneau pada CBC.

Dia mengatakan dia hanya mendukung pemakaman non-denominasi.

Berita terkait