Ketegangan di tempat suci di Jerusalem 'harus selesai sebelum salat Jumat'

Ketegangan di Jerusalem Hak atas foto Reuters
Image caption Banyak yang khawatir ketegangan terbaru di Jerusalem Timur akan makin serius jika tak segera dicari jalan keluar.

Utusan PBB untuk Timur Tengah, Nikolay Mladenov, memperingatkan seriusnya dampak sengketa di kawasan suci Haram al Sharif, Jerusalem, yang bagi pemeluk Yahudi biasa disebut Temple Mount.

Mladenov mengatakan ketegangan harus sudah mereda sebelum salat Jumat pekan ini, kalau tidak sengketa akan makin meningkat dan bisa memicu ketegangan di seluruh negara Muslim.

"Sangat penting untuk ditemukan solusi atas krisis yang tengah terjadi ini sebelum hari Jumat pekan ini. Saya berpandangan, ketegangan di lapangan akan makin parah jika hingga salat Jumat tidak ada jalan keluarnya," kata Mladenov kepada para wartawan usai mengikuti pertemuan Dewan Keamanan di New York, hari Senin (24/07), yang digelar secara tertutup.

Ia menambahkan salah besar jika ketegangan di Jerusalem dianggap sebagai masalah lokal. Masalah ini berpotensi berpengaruh terhadap jutaan orang di seluruh dunia, di luar Israel dan Palestina.

Ketegangan terbaru di Jerusalem dipicu oleh tewasnya dua anggota polisi Israel pada 14 Juli yang mendorong pemerintah Israel memasang detektor logam di semua pintu masuk kompleks Haram al Sharif, yang di dalamnya terdapat Masjid Al Aqsa.

Hak atas foto EPA
Image caption Warga Palestina salat di jalan untuk memprotes pembatasan akses atas Masjid Al Aqsa yang berada di kompleks kawasan suci Harm al Sharif atau Temple Mount.

Detektor diperlukan, kata militer Israel, untuk mencegah penyelundupan senjata ke kompleks ini yang 'mungkin dilakukan untuk melancarkan serangan serupa di masa mendatang'.

Warga Palestina memprotes langkah ini dengan melakukan salat di luar masjid. Mereka menyebut pemasangan detektor sebagai upaya Israel untuk menambah kontrol atas Harm al Sharif.

Pada hari Jumat (21/07), tiga warga Palestina tewas dalam bentrok dengan aparat keamanan Israel.

Aksi menentang kebijakan keamanan militer Israel ini diikuti oleh ribuan orang di Jerusalem Timur dan kawasan pendudukan Tepi Barat.

Pada hari yang sama, tiga warga Israel ditikam hingga tewas dan satu lagi mengalami luka-luka akibat serangan ketika ia memasuki rumahnya di permukiman Yahudi di Tepi Barat.

Harm al Sharif berada di Jerusalem Timur yang dikuasai Israel sejak Perang Timur Tengah pada 1967.

Pada hari Minggu (23/07) Israel memasang kamera perekam di kompleks Harm al Sharif dan muncul spekulasi kamera ini 'mungkin untuk menggantikan detektor logam'.

Namun hingga Senin malam waktu setempat baik kamera maupun detektor logam belum dibongkar.

Berita terkait