Istri-istri ISIS: Mengapa saya bergabung dengan 'kekhalifahan' di Raqqa

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Peringatan 'neraka menanti Anda' dari para istri anggota ISIS di Raqqa, Suriah

Sejumlah istri dari petempur-petempur kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) kini ditahan oleh Pasukan Demokratik Suriah pimpinan Kurdi (SDF) menyusul kemajuan yang dilaporkan dicapai SDF dalam upaya merebut Raqqa, kota yang selama ini menjadi kantong ISIS di Suriah.

Serangan SDF telah menyebabkan ribuan warga melarikan diri dari Raqqa, termasuk keluarga militan ISIS.

Para istri petempur ISIS dan anak-anak mereka kini ditahan oleh SDF di Suriah utara.

Tetapi mengapa dulu mereka bersedia bahkan tertrarik dan ingin hijrah dari negara mereka ke wilayah yang dikuasai ISIS? Beberapa di antara mereka mengungkapkannya dalam percakapan dengan wartawan BBC, Shaimaa Khalil.

Kisah Eman Othmani

Eman dan suaminya meninggalkan Tunisia dengan tujuan Raqqa, basis ISIS. Suaminya ingin menjadi petempur dan Eman sendiri ingin menjalani kehidupan sesuai dengan kehidupan Islam sejati yang dibayangkannya.

Image caption Putra Eman belum tahu tanah air ibunya di Tunisia.

Ketika ditanya apakah ia menonton video-video ISIS yang menunjukkan pemenggalan kepala dan pembakaran orang-orang hidup-hidup, sebelum ia pindah ke Raqqa, Suriah, Eman mengaku menonton video yang beredar di media sosial.

"Ada satu video yang menunjukkan para petempur ISIS memotong tangan tangan seorang laki-laki karena mencuri. Ya itu terjadi ... video-video yang menunjukkan ISIS membunuh orang hanya sedikit," ujar Eman.

Namun setibanya di Raqqa, Eman melihat keadaan yang sama sekali berbeda.

"Kami melihat hal-hal yang menakutkan. Ketika tidur saya merasa ketakutan akan suami dan anak-anak saya jika mereka akan datang pada malam hari dan membawa pergi para suami (lain) dan membunuh mereka."

Suami Eman sekarang berada di penjara yang dikelola oleh pasukan Kurdi di luar Raqqa.

Image caption Eman Othmani menuturkan ia ingin pulang ke Tunisia tetapi suaminya berada di penjara tentara Kurdi.

Eman menyatakan keinginan untuk pulang ke Tunisia dan membawa serta putranya yang kelahiran Raqqa.

"Saya manusia. Saya membuat kesalahan... Nasihat saya kepada siapapun yang berpikir untuk menjadi bagian dari ISIS adalah mereka seharusnya menyelamatkan diri mereka sendiri sekarang... Jika Anda mati bersama ISIS, Anda tidak akan masuk surga, Anda tidak akan mendapatkan apapun yang dijanjikan oleh mereka. Dan yang menunggu Anda adalah neraka!

Kisah Khadija Al-Omary

Di bawah kekuasaan ISIS, kaum perempuan diharapkan memainkan peran sebagai istri, ibu dan pengurus rumah tangga.

Namun ada sebagian yang diberi pengaruh lebih dan beberapa di antara mereka bahkan turut bertempur.

Image caption Menurut Khadija Al-Omary, seorang perempuan Maroko diberi wewenang mengawasi para perempuan di Raqqa.

Pada 2014, sebuah unit yang seluruh anggotanya perempuan, Brigade Khansaa, dibentuk ISIS di Raqqa, yang mengemban tugas utama menerapkan peraturan ketat ISIS dan mengawasi perempuan.

"Ada perempuan Maroko yang menyiksa perempuan-perempuan lain. Jika di antara kami berbicara buruk tentang ISIS, ia datang dan membawa orang tersebut dan menjebloskannya ke penjara ISIS. Ia melaporkan kepada para petempur bahwa perempuan itu adalah mata-mata," kata Khadija Al-Omary, seorang istri petempur ISIS.

Sebagaimana dilaporkan oleh wartawan BBC Shaimaa Khalil, sulit menentukan apakah perempuan-perempuan yang berhasil keluar dari kekuasaan ISIS, seperti Eman Othmani dan Khadija Al-Omary, adalah korban sebab mereka sebelumnya adalah bagian dari kelompok militan itu.

Image caption Apakah perempuan-perempuan tersebut adalah korban walaupun mereka sempat menjadi bagian dari ISIS?

Perempuan-perempuan dari berbagai negara yang masuk ke Raqqa dengan keinginan untuk hidup di bawah 'kekhalifahan' Islam, termasuk dari Indonesia.

Namun mereka dilaporkan turut mengungsi dari kota di Suriah itu setelah ISIS dilaporkan tercerai berai. Tercatat 12 WNI -terdiri dari sembilan perempuan dan tiga anak- berada di kamp pengungungi Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.

Mereka menyatakan keinginan pulang ke Indonesia tetapi masih menunggu suami mereka yang berada di tahanan.

Dari Inggris, setidaknya 60 perempuan sudah hijrah ke Suriah.

Berita terkait