Survei: Hampir separuh warga Muslim AS alami diskriminasi

Beberapa Muslim merayakan Idul Fitri di Pittsburgh, Pennsylvania. Hak atas foto Getty Images
Image caption Beberapa Muslim merayakan Idul Fitri di Pittsburgh, Pennsylvania.

Hampir setengah dari warga Muslim di AS mengaku telah mengalami diskriminasi dalam setahun ke belakang, menurut studi Pew Research Center.

Tiga-perempatnya mengatakan bahwa terdapat "banyak" diskriminasi terhadap Muslim, sedangkan 74% menyebut Presiden Donald Trump "tidak bersahabat" kepada mereka.

Pada studi serupa di tahun 2011, 64% menilai Presiden Barack Obama "bersahabat" kepada mereka.

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa Muslim di AS menjadi semakin liberal secara sosial.

Bagian yang berpendapat masyarakat harus menerima homoseksualitas telah meningkat hampir dua kali lipat.

Para peneliti mewawancarai 1.001 Muslim AS lewat sambungan telepon. Mereka menyatakan bahwa responden yang dipilih merupakan sampel representatif.

Lebih banyak diskriminasi - tapi juga dukungan

Setengah dari responden mengatakan hidup sebagai Muslim di AS telah menjadi semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan 48% mengaku mereka secara pribadi pernah mengalami diskriminasi selama setahun belakangan.

Bentuk diskriminasi paling umum yang mereka sebutkan ialah diperlakukan dengan prasangka (32% dari responden), diperlakukan secara khusus oleh petugas keamanan bandara (19%), disebut dengan nama panggilan yang menghina (18%), diperlakukan secara khusus oleh penegak hukum (10%), dan diancam secara fisik atau diserang (6%).

Perlakuan tersebut membuat beberapa orang merasa tidak aman, dan seorang pria imigran berkata: "Kami perlu ekstra hati-hati mengawasi sekeliling; menyadari tempat kami berada, siapa di sekitar, dan pandangan seperti apa yang mungkin mereka punya tentang Islam."

Mereka yang berpenampilan khas Muslim - misalnya mengenakan pakaian seperti hijab - lebih mungkin mengaku telah mengalami diskriminasi. Bahkan, perempuan Muslim lebih mungkin dibanding laki-laki Muslim untuk mengatakan bahwa hidup sebagai Muslim di AS telah menjadi semakin sulit.

Angka semua bentuk diskriminasi tersebut telah bertambah sejak 2007, ketika George W. Bush menjabat presiden, namun sebagian besar telah menurun atau tetap sejak 2011, di bawah rezim Presiden Obama.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Angka semua bentuk diskriminasi sebagian besar telah menurun atau tetap sejak 2011, di bawah rezim Presiden Obama.

Pada saat yang sama, terdapat bukti tumbuhnya dukungan vokal bagi Muslim.

Hampir setengah kelompok responden (49%) mengatakan seseorang telah menyampaikan dukungan kepada mereka karena agama mereka selama satu tahun ke belakang.

Tidak senang dengan arah perkembangan terakhir

Mayoritas warga Muslim mendukung Hillary Clinton, jadi mungkin sudah diduga bahwa mereka tidak senang dengan orang-orang di puncak pemerintahan saat ini. Namun pengalaman mereka didiskriminasi, dan upaya Presiden Donald Trump untuk membatasi masuknya orang-orang dari beberapa negara Muslim, juga memengaruhi pandangan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pegiat berunjuk rasa di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), AS pada hari pertama penerapan kembali sebagian larangan perjalanan Trump, yang sementara melarang pendatang dari enam negara mayoritas Muslim.

Seorang laki-laki berkata: "Ketika larangan bagi Muslim diajukan untuk pertama kali, saya merasa seperti persekusi telah dimulai. Karena kami telah membaca sejarah Eropa dan apa yang terjadi pada orang Yahudi di Jerman."

Lainnya berkata: "Kami hampir merasakan atmosfer pasca-9/11 karena ada penekanan terhadap minoritas serta pemikiran dan suara minoritas.

"Orang-orang seperti kelompok alternatif-kanan atau ultrakonservatif pendukung Trump kini dapat kesempatan untuk bersuara lebih lantang, yang dipendam hanya beberapa tahun lalu, dan kini pemikiran mereka tentang Muslim dan minoritas pada umumnya bisa didengar, jadi ketegangan terus bertambah."

Menjadi lebih liberal

Pandangan Muslim AS tentang homoseksualitas telah berubah dalam satu dekade terakhir. Tahun ini, lebih dari setengah (52%) menyatakan bahwa masyarakat harus menerima homoseksualitas - naik dari 27% pada 2007.

Hak atas foto AFP
Image caption Studi terbaru menunjukkan bahwa Muslim di AS telah menjadi lebih liberal dalam sepuluh tahun terakhir.

Kenaikan tersebut disertai dengan lonjakan yang lebih kecil dalam jumlah Muslim AS yang mengatakan terdapat lebih dari satu cara untuk menafsirkan ajaran Islam. Pada tahun 2007, sebanyak 57% setuju dengan pandangan liberal ini; pada tahun ini, angkanya mencapai 64%.

Pandangan terhadap terorisme dan ekstremisme

Kelompok Muslim lebih mungkin mengecam terorisme daripada populasi AS pada umumnya.

Kepada mereka diajukan pertanyaan berikut ini: "Beberapa orang berpikir bahwa menyasar dan membunuh warga sipil bisa dibenarkan demi memajukan perjuangan politik, sosial, atau agama. Orang lain percaya bahwa apapun alasannya, kekerasan seperti ini tak bisa dibenarkan. Bagaimana perasaan Anda pribadi?"

Sebanyak 75% Muslim mengatakan itu tidak akan pernah bisa dibenarkan, sedangkan hanya 59% masyarakat umum mengatakan hal yang sama.

Beberapa orang dengan latar belakang Muslim atau non-Muslim berkata bahwa mereka berpikir tindakan tersebut sering atau terkadang dibenarkan. Demi memahami jawaban mereka dengan lebih baik, para peneliti menelepon mereka kembali dan menanyakan maksudnya. Kebanyakan dari mereka menyebut situasi selain terorisme, termasuk aksi militer dan membela diri.

Tiga perempat Muslim mengatakan mereka merasa tidak ada dukungan terhadap ekstremisme di antara Muslim AS, dan kalaupun ada, dukungan itu sangat sedikit. Sementara 6% mengatakan mereka melihat 'cukup banyak' dukungan kepada ekstremisme itu.

Masyarakat umum lebih mungkin memandang Muslim sebagai pendukung ekstremisme.

Dan Muslim lebih mungkin dari masyarakat umum untuk khawatir tentang ekstremisme atas nama Islam, di AS dan di seluruh dunia.

Apakah komunitas Muslim berpikir mereka cocok dengan kehidupan di Amerika?

Kebanyakan Muslim berpikir mereka tidak dipandang sebagai bagian dari warga Amerika biasa, dan 60% menganggap liputan tentang mereka di media arus utama "tidak adil".

Hak atas foto AFP
Image caption Warga Muslim berbuka puasa dengan makanan Meksiko halal di Islamic Center Santa Ana, California.

Namun 92% mengatakan mereka bangga menjadi warga Amerika. Sebanyak 89% mengatakan mereka bangga menjadi Muslim dan warga Amerika.

Seorang perempuan berusia 40-an berkata kepada para peneliti: "Kesamaan saya dengan kebanyakan warga Amerika adalah dedikasi kepada negara ini.

"Kami juga sama-sama manusia. Kami semua berjuang untuk mencari nafkah, membayar pajak, dan membesarkan anak-anak kami."

Pew Research Center memperkirakan bahwa terdapat 3,35 juta Muslim dari segala usia di AS, satu juta lebih banyak dari jumlah pada tahun 2007. Mayoritas Muslim dewasa dilahirkan di luar AS, di lebih dari 70 negara asal. Secara keseluruhan, mereka lebih muda daripada populasi AS pada umumnya.

Berita terkait