Rudal Korut: AS sebut sidang dewan keamanan PBB ‘tidak ada gunanya’

pesawat
Image caption Pesawat pengebom B-1 Amerika bergabung dengan pesawat Jepang dan Korea Selatan.

Amerika Serikat menegaskan tidak akan meminta PBB untuk melangsungkan sidang Dewan Keamanan, terkait uji coba rudal Korea Utara. Menurut pemerintah Amerika Serikat, pertemuan seperti itu "tidak ada gunanya".

Rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) disebut malah akan "memberikan pesan kepada Korea Utara bahwa komunitas internasional tidak berniat melawan Korea Utara," kata Duta Besar Amerika untuk PBB, Nikki Haley.

Sebelumnya Pyongyang mengklaim bahwa uji coba membuktikan bahwa rudal mereka bisa mencapai seluruh wilayah Amerika Serikat.

Amerika Serikat sendiri menjawab aksi Korut itu dengan melakukan uji coba sistem anti-rudal dan menerbangkan pesawat pengebom ke Semenanjung Korea.

Haley mengungkapkan Korea Utara selama ini telah menjadi subyek berbagai resolusi Dewan keamanan PBB, tetapi negara itu "tetap tidak tersentuh hukuman".

Hak atas foto SNS
Image caption Haley menegaskan sidang Dewan Keamanan PBB "tidak ada gunanya".

"Pertemuan tambahan Dewan Keamanan PBB berikut resolusinya yang tidak memberikan tekanan signifikan dari dunia internasional kepada Korea Utara, tidaklah berguna," kata Haley.

"Faktanya, itu hanya akan memperburuk keadaan, karena akan membuat diktator Korea Utara melihat bahwa dunia internasional tidak berniat secara serius menentang mereka."

Image caption Gambar jangkauan rudal Korea Utara.

Haley pun meminta Cina untuk meningkatkan pengawasan pada Korea Utara.

"Cina harus memutuskan dan segera bertindak jika sudah merasa perlu. Waktu untuk berdialog sudah usai," katanya.

Pada Jumat (28/07), Korea Utara untuk kedua kalinya menguji coba rudal balistik antar benua (ICBM).

Hak atas foto Reuters
Image caption Amerika Serikat menegaskan dalam uji coba, sistem Thaad-nya telah berhasil menembak jatuh sebuah rudal.

Uji coba itu dilakukan tiga minggu setelah tes ICBM yang pertama.

Meskipun dikecam Cina, militer Amerika telah mulai memasang sistem Thaad di Korea Utara, sebuah sistem yang bisa menembak jatuh rudal yang ditembakkan Korea Utara.

Selain itu, pesawat pengebom B-1 Amerika, juga telah melaksanakan pelatihan di semenanjung Korea Selatan dan Jepang pada Sabtu, (29/07).

'Anak manja'

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah mengecam Cina yang dinilainya tidak bertindak aktif menghentikan program rudal Korea Utara, dan malah melakukan kegiatan perdagangan bernilai "miliaran dollar" dengan Korut.

Di Twitter-nya, Trump mencuit "sangat kecewa" dengan Cina, dan menuding Cina "tidak berbuat apa-apa" terhadap negara yang terisolasi itu.

Namun, Victor Gao, seorang mantan diplomat dan penasehat pemerintah Cina, mengungkapkan bahwa cuitan Trump itu tidak membantu. Amerika bahkan disebutnya bertingkah seperti 'anak manja.'

Cina, yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, sebelumnya mengutuk uji coba rudal yang dilakukan negara itu.

Image caption Gambar Thaad.

Trump dan presiden Cina Xi Jinping sendiri telah bertemu membahas Korea Utara awal tahun ini. Pejabat pemerintah Amerika menyebut kedua negara sedang mempertimbangkan "berbagai opsi".

Namun, Jumat lalu Korea Utara beraksi lebih keras lagi. Rudal ICBM-nya disebut negara tetannganya, Korea Selatan "telah lebih maju secara teknologi".

Berita terkait