Pemrotes Buddha tuduh badan bantuan memihak Rohingya

Demonstrasi di Rakhine Hak atas foto NYUNT WIN/EPA
Image caption Para biksu mengikuti demonstrasi di Sittwe menentang organisasi-organisasi internasional yang beroperasi di Rakhine.

Kepolisian Myanmar mengatakan ratusan warga dari komunitas Buddha di negara bagian Rakhine menggelar protes untuk menentang badan-badan bantuan internasional yang mereka tuduh memihak kelompok Muslim Rohingya.

Kepolisian mengatakan unjuk rasa, yang diikuti oleh para biksu dan warga dari etnik Rakhine itu, diadakan di setidaknya 15 kota, termasuk di ibu kota negara bagian Rakhine, Sittwe pada Minggu (13/08).

"Protes berjalan damai hari ini," kata pejabat kepolisian Mayor Cho Lwin, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters.

Para pemrotes menuduh PBB dan badan-badan bantuan internasional lainnya membela kelompok Muslim Rohingya sehingga mereka harus segera meninggalkan Rakhine, negara bagian yang juga ditempati oleh Rohingya.

'Kamp militan'

Etnik mayoritas Rakhine, yang pada umumnya beragama Buddha, telah lama menuduh PBB dan badan-badan bantuan lainnya memprioritaskan Rohingya dalam pemberian bantuan.

Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar tetapi digolongkan sebagai pendatang dari Bangladesh walaupun mereka secara turun temurun telah berada di Rakhine.

Hak atas foto NYUNT WIN/EPA
Image caption Etnik mayoritas Rakhine telah lama menuduh PBB dan badan-badan bantuan lainnya memihak kelompok Rohingya.

Oleh pemerintah Myanmar maupun oleh masyarakat di negara itu pada umumnya, Rohingya dipanggil dengan sebutan orang-orang Bengali atau orang Muslim, tidak pernah digunakan sebutan Rohingya.

Para pengunjuk rasa juga menuntut pembentukan tentara sipil bersenjata di Rakhine sebagai bentuk bela diri bagi etnik mayoritas Rakhine.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang penjaga perbatasan Myanmar berjaga-jaga di Buthidaung, Rakhine. Militer telah menambah personel di Rakhine.

Ketegangan di Rakhine kembali memanas belakangan ini setelah tujuh warga Buddha ditemukan diparang hingga meninggal dunia di kawasan pegunungan pada Juli lalu.

Pihak berwenang mengaku telah menemukan perkemahan-perkemahan di pegunungan May Yu yang menunjukkan keterlibatan "orang-orang ekstremis" dalam pembunuhan itu.

Di satu lokasi yang diduga sebagai kamp militan, bulan lalu ditemukan biskuit yang berasal dari bantuan Program Pangan Dunia (WFP).

Militer mengirimkan pasukan tambahan ke Rakhine pekan lalu.

Topik terkait

Berita terkait