Mengapa Donald Trump tak langsung mengutuk kelompok supremasi kulit putih?

amerika Hak atas foto Reuters
Image caption Sejumlah demonstran menggelar aksi protes terhadap Presiden Donald Trump dan kelompok sayap kanan setelah insiden dalam pawai supremasi kulit putih di Charlottesville.

Sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi sorotan lantaran dia dituding tidak secara gamblang mengecam aksi kelompok ekstrem kanan dalam pawai supremasi kulit putih di Charlottesville, kendati Gedung Putih memberikan klarifikasi.

Pada pawai di negara bagian Negara Bagian Virginia tersebut, seorang perempuan bernama Heather D Heyer tewas dihantam sebuah mobil yang menabraki kerumunan demonstran penentang supremasi kulit putih. Tindakan itu juga mengakibatkan 19 orang lainnya mengalami cedera.

Secara terpisah, 15 orang luka-luka setelah terlibat bentrokan terkait pawai tersebut.

Seusai kejadian, Trump merilis pernyataan dari tempat berliburnya di New Jersey.

"Kebencian dan pemisahan harus berhenti sekarang," ujar Trump. "Kita mesti bersatu padu sebagai warga Amerika dengan cinta terhadap bangsa kita," tambahnya.

Trump juga mengecam "sekeras-sekarasnya kebencian, intoleransi, dan kekerasan dari berbagai pihak."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para anggota Ku Klux Kan mengikuti pawai supremasi kulit putih di Charlottesville, Negara Bagian Virginia, 8 Juli lalu.

Namun, pernyataan Trump tersebut tidak secara gamblang mengecam kelompok-kelompok ekstrem kanan yang ikut dalam pawai supremasi kulit putih.

Hal ini menuai kritik dari Partai Republik, termasuk Senator Marco Rubio dan Ted Cruz—dua pesaingnya dalam kampanye pemilihan presiden 2016.

Senator Cory Gardner pun merilis cuitan, "Tuan Presiden, kita harus menyebut kejahatan dengan namanya. Mereka adalah kaum pendukung supremasi kulit putih dan ini adalah terorisme domestik".

Gedung Putih kemudian menyampaikan pembelaan.

"Presiden telah mengucapkan kata-kata yang sangat keras dalam pernyataannya kemarin. Dia mengecam segala bentuk kekerasan, intoleransi, dan kebencian. Tentu itu mencakup supremasi kulit putih, KKK, neo-Nazi dan semua kelompok ekstremis," kilah seorang juru bicara Gedung Putih.

Image caption Bendera Konfederasi dikibarkan dalam pawai "Unite the Right" di Charlottesville, Virginia.

'Membangkitkan sayap kanan'

Keberadaan Trump di Gedung Putih dan munculnya pawai supremasi kulit putih di Charlottesville dipandang sejumlah pihak bukan kebetulan.

Bahkan, secara blak-blakan, sebuah organisasi hak sipil bernama The Southern Poverty Law Center mengatakan, "Munculnya Trump sebagai presiden mendorong kebangkitan sayap kanan radikal, yang membuatnya sebagai penyanjung gagasan bahwa Amerika pada dasarnya merupakan negaranya kaum kulit putih."

Sejak Trump menggelar kampanye pemilihan presiden, keterkaitannya dengan kelompok sayap kanan radikal menjadi sorotan.

Hak atas foto Facebook
Image caption Heather Heyer tewas setelah sebuah mobil menabrak kerumunan demonstran penentang supremasi kulit putih.

Pada Februari 2016, Trump menolak untuk menepis dukungan dari kelompok Ku Klux Klan dan David Duke—mantan pemimpin KKK yang menjadi politikus Partai Republik di Negara Bagian Louisiana.

"Setiap kandidat yang tidak secara langsung mengecam kelompok kebencian seperti KKK tidak mewakili Partai Republik dan tidak akan menyatukan partai," kata Tim Scott, senator Partai Republik pertama yang berkulit hitam dari South Carolina.

Sepekan kemudian, Trump merilis pernyataan menepis dukungan dari KKK. Namun, sikapnya yang tidak secara langsung mengecam KKK terus dipertanyakan.

Pertanyaan itu amat mungkin akan terus ditujukan kepada Trump setelah kelompok sayap kanan memuji sikapnya.

"Komentar Trump bagus. Dia tidak menyerang kita. Dia hanya berkata bangsa ini harus bersatu," sebut sebuah poster yang muncul pada laman neo-Nazi, The Daily Stormer.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ratusan orang berkumpul di tempat Heather Heyer tewas di Charlottesville, Negara Bagian Virginia, AS.

Topik terkait

Berita terkait