Dalam sehari 32 tersangka pengedar narkoba ditembak mati polisi Filipina

Manila, Filipina, narkoba Hak atas foto Getty
Image caption Kebijakan Presiden Duterte agar menembak tersangka pengedar narkoba mendapat kecaman meluas.

Polisi Filipina menewaskan 32 tersangka pengedar narkoba, yang diduga merupakan korban jiwa terbesar selama satu hari dalam perang melawan narkoba.

Operasi penggerebekan itu berlangsung 24 jam, Selasa (15/08), di Provinsi Bulachan, di sebelah utara ibu kota Manila dan lebih dari 100 orang ditangkap.

Mereka yang tewas ditembak, menurut polisi, adalah tersangka penjahat narkoba yang bersenjata dan melawan petugas.

Ribuan orang tersangka pengedar narkoba tewas ditembak setelah Presiden Rodridgo Duterte melancarkan perang melawan narkoba sejak terpilih sebagai presiden pertengahan Juni 2016.

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo juga sudah meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dengan menembak para pengedar narkoba.

"Terutama pengedar-pengedar narkoba asing, yang masuk kemudian sedikit melawan, sudah langsung ditembak saja," kata Presiden Jokowi saat penutupan musyarawarah kerja nasional Partai Persatuan Pembangunan, akhir Juli.

Hak atas foto EPA/MAST IRHAM
Image caption Presiden Joko Widodo juga menyerukan tindakan keras atas para pengedar narkoba.

Sejumlah pegiat hak asasi mengecam seruan yang dianggap bukan hanya melanggar HAM, namun juga tidak akan efektif dalam mengatasi narkoba di Indonesia.

Dua pekan setelah seruan tersebut, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menembak mati seorang terduga bandar narkoba warga negara Malaysia di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Cheng Kheng Hoe alias Ahoi -yang diduga menyelundupkan 17 kg sabu- ditembak petugas karena dianggap melawan.

Ditentang pegiat hak asasi

Sama seperti di Indonesia, kebijakan menembak mati tersangkat pengedar narkoba di Filipina juga dikritik sejumlah pihak.

Para pegiat hak asasi manusia di Filipina menuduh polisi merencanakan pembunuhan di luar hukum dan dalam beberapa kasus mengambil keuntungan dari para tersangka.

Polisi Filipina menegaskan bahwa para tersangka ditembak mati karena melakukan perlawanan bersenjata, namun banyak yang meragukan pernyataan tersebut.

Dunia internasional juga mengecam langkah keras Filipina untuk memberantas narkoba.

Hak atas foto EPA
Image caption Aksi unjuk rasa menentang kebijakan tembak mati pengedar narkoba di depan Markas Besar Kepolisian Filipina, 20 Juli 2017.

Bagaimanapun banyak warga Filipina yang mendukung kebijakan Presiden Duterte walau rekor 32 kematian dalam sehari -seperti dilaporkan wartawan BBC, Howard Johnson, dari Manila- tampaknya memperlihatkan bahwa perang melawan narkoba masih jauh dari selesai.

Bulan Januari tahun ini, Presiden Duterte sempat menghentikan operasi atas para penjahat narkoba dengan alasan untuk 'membersihkan' kepolisian dan mengorganisir kembali unit antinarkoba.

Operasi melawan narkoba kemudian dilanjutkan kembali pada Bulan Maret.

Topik terkait

Berita terkait