Perang Duterte lawan narkoba dipergencar, 58 tewas ditembak pekan ini

Tersangka pengedar narkoba Hak atas foto EPA
Image caption Keluarga tersangka pelaku kejahatan narkoba menangis di dekat korban yang tergelatak di jalan.

Pemberantasan kejahatan narkoba di Filipina tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, meski sejumlah kalangan mengecam tindakan yang dilakukan pemerintah pimpinan Presiden Rodrigo Duterte.

Dalam operasi yang digelar sepanjang Rabu (16/08) malam di ibu kota Manila, polisi mengatakan mereka menewaskan setidaknya 26 tersangka pelaku kejahatan narkoba.

Senin (14/08) lalu polisi menggelar operasi serupa di Provinsi Bulacan, provinsi tetangga Manila, yang menewaskan 32 orang, menjadikan total korban keseluruhan dalam empat hari terakhir mencapai setidaknya 58 orang.

Presiden Duterte memuji langkah polisi dan mengatakan Filipina memang perlu mempergencar perang melawan kejahatan dan narkoba.

Ia mengatakan jika banyak tersangka penjahat yang ditembak mati setiap hari, negaranya akan bisa mengatasi masalah narkoba.

"Tiga puluh dua orang tewas dalam operasi besar di Bulacan. Ini perkembangan yang bagus. Jika kita bisa menewaskan 32 tersangka setiap hari, kita akan bisa mengatasi masalah narkoba di negara ini," kata Presiden Duterte.

Juru bicara kelolisian Manila, Kolonel Erwin Margarejo, kepada kantor berita Reuters, mengatakan bahwa operasi di Manila pada Rabu malam digolongkan sebagai 'operasi besar' yang mengacu pada operasi terkoordinasi yang mengerahkan personel dalam jumlah besar.

Lokasi operasi adalah distrik-distrik rawan kejahatan, biasanya dihuni oleh masyarakat kalangan bawah.

Dikecan Komisi HAM

Ia mengatakan tindakan tegas harus diambil karena para tersangka melawan aparat.

Hak atas foto Reuters
Image caption Warga di Manila melihat korban yang tewas (tidak tampak dalam foto) ditembak polisi dalam operasi antinarkoba.

Tidak ada penjelasan mengapa polisi Filipina mempergencar operasi menindak penjahat narkoba pekan ini.

Laporan polisi menyebutkan 223 orang ditahan dalam operasi di Manila dan Bulacan.

"Presiden tidak memerintahkan (polisi) untuk membunuh," kata Ronald dela Rosa, kepala kepolisian Filipina kepada para wartawan.

"Saya juga tidak memerintahkan anak buah saya untuk menembak mati. Tapi perintah Presiden sangat jelas, bahwa perang melawan narkoba harus terus dilakukan. Mereka tewas karena melawan (petugas)," kata Dela Rosa.

Duterte meningkatkan upaya melawan narkoba sejak menjabat sebagai presiden akhir Juni 2016. Selama kampanye ia berjanji untuk menggunakan kekuatan untuk menekan angka kejahatan dan peredaran narkoba.

Namun Komisi HAM Filipina menggambarkan langkah ini sebagai 'pemberian cek kosong kepada polisi'.

"Polisi pada dasarnya diberi kebebasan (untuk melakukan apa saja) dengan jaminan mereka tidak akan diselidiki atau didakwa (melakukan pelanggaran hukum)," kata ketua Komisi HAM, Chito Gascon.

Topik terkait

Berita terkait