Puluhan ribu orang memprotes mimbar kalangan kanan Amerika

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Ketegangan tetap tinggi di beberapa tempat.

Puluhan ribu demonstran anti-rasisme menentang mimbar 'Kebebasan Bicara' di kota Boston, AS yang diselenggarakan kalangan sayap kanan.

Mimbar itu sendiri, di Boston Common, hanya menarik sedikit pengunjung, dan dibubarkan lebih awal, dan para pesertanya dikawal keluar oleh polisi.

Penyelenggara menegaskan, mimbar itu tidak memberi ruang pada rasisme atau kepicikan pandangan.

Ketegangan meningkat setelah demonstrasi di Charlottesville, Virginia, akhir pekan lalu berujung terbunuhnya seorang perempuan pengunjuk rasa anti rasis.

The Boston Herald melaporkan bahwa demonstrasi kali ini dihadiri sekitar 30.000. Para demonstran berkumpul di pusat olahraga Boston dan kemudian bergerak bersama ke Boston Common.

Para pengunjung mimbar bebas kalangan konservatif hanya berkumpul sekitar panggung di Boston Common. Kerumunan demonstran anti-rasisme mengepung panggung itu, tapi dijaga polisi agar jaraknya cukup jauh.

Ratusan polisi dikerahkan dan bentrokan meletus antara sejumlah pengunjuk rasa dan demonstran anti-rasis.

Hak atas foto Reuters
Image caption Puluhan ribu pengunjuk rasa anti-rasis bergerak menuju Boston Common

Polisi mengatakan bahwa petugas dilempari batu dan botol berisi air kencing, dan tiga puluh tiga orang ditangkap.

Di baju banyak pengunjuk rasa anti-mimbar ditempelkan stiker wajah Heather Heyer yang berusia 32 tahun, yang meninggal saat sebuah mobil menabrak sengaja kalangan anti-rasis yang melakukan unjuk rasa tandingan terhadap kalangan ultra kanan Sabtu lalu di Charlottesville.

"Saatnya untuk melakukan sesuatu, kami berada di sini untuk menambahkan tubuh tambahan terhadap jumlah mereka yang menolak," kata Katie Zipps, yang melakukan perjalanan dari Malden, utara Boston, untuk bergabung dalam demonstrasi tersebut.

Kerumunan itu meneriakkan "Tidak untuk Nazi, tidak untuk KKK, tidak untuk fasis di Amerika Serikat!" Dan membawa spanduk dengan slogan seperti "Stop berpura-pura bahwa rasisme Anda adalah patriotisme."

Walikota Boston Marty Walsh kemudian mengucapkan terima kasih kepada para pengunjuk rasa itu, yang dia katakan "turun untuk berbagi pesan cinta, bukan kebencian."

"Atas perlawanan terhadap kalangan supremasi kulit putih dan Nazi yang datang ke kota kami, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang datang," katanya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Monumen-monumen Konfederasi dipandang ofensif secara rasial.

Sementara penyelenggara mimbar 'Kebebasan Bicara' berkilah bahwa ada "informasi salah di media" yang "menyamakan organisasi kami dengan orang-orang yang melangsungkan demonstrasi Charlottesville."

"Kendati kami berprinsip bahwa setiap individu berhak atas kebebasan berbicara mereka dan kami membela hak asasi tersebut, kami tidak akan menyediakan acara kami untuk rasisme atau kepicikan," tulis kelompok tersebut di sebuah halaman Facebook untuk acara tersebut. "Kami mengecam politik supremasi dan kekerasan."

Chris Hood, seorang warga Boston berusia 18 tahun yang berdiri di antara orang-orang yang berencana bergabung dalam demonstrasi 'Kebebasan Bicara,' mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Inti acara ini adalah untuk mendapatkan pidato politik dari seluruh spektrum: konservatif, libertarian, sentris. "

Daftar pembicara berubah beberapa kali di hari-hari menjelang acara. Beberapa kali mencakup pembicara yang dikaitkan dengan kalangan ultra kanan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Bentrokan polisi dengan sejumlah pengunjuk rasa di luar taman tempat berlangsungnya mimbar bebas 'Kebebasan Bicara.'

Kekerasan di Charlottesville dimulai dengan sebuah demonstrasi dan unjuk rasa tandingan rencana pemindahan patung komandan Konfederasi Jenderal Robert E. Lee.

Sebagai akibatnya, seluruh patung Konfederasi di seluruh Amerika mendapat sorotan baru.

Duke University di North Carolina memindahkan patung Robert E Lee dari pintu masuk kapelnya pada dini hari Sabtu pagi, menyusul terjadinya perusakan sebelumnya.

Rektor Universitas itu, Vincent Price mengatakan keputusan tersebut dibuat untuk alasan keamanan dan "terutama untuk mengungkapkan nilai-nilai universitas kami yang dalam dan mengikat."

Berita terkait