Perusahaan-perusahaan Cina dihantam sanksi AS terkait Korea Utara

Kim Jong-un Hak atas foto Getty Images
Image caption Korea Utara menegaskan bahwa mereka berhak untuk memiliki program nuklir dan rudal untuk pertahanan negara.

AS telah menerapkan sanksi baru, yang kali ini menghantam sejumlah perusahaan Rusia dan Cina serta individu yang dituduh membantu program senjata nuklir Korea Utara.

Cina berang, karena sebelumnya Dewan Keamanan PBB, termasuk Rusia dan Cina, menyatakan akan memperluas sanksi terhadap Pyongyang.

Kementerian Keuangan AS mengatakan aksi ini akan 'meningkatkan tekanan' terhadap Korea Utara,

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson memuji Korea Utara karena telah menunjukkan 'aksi menahan diri' dalam beberapa hari terakhir.

"Tidak ada aksi provokasi atau peluncuran rudal dari Korea Utara sejak penerapan resolusi Dewan Keamanan PBB," katanya.

Ini, menurutnya, bisa mendorong dua pihak untuk berunding 'pada suatu waktu di masa depan".

Pengucilan Korea Utara

Kantor Pengendalian Aset Asing AS menyebut ada 10 perusahaan dan 6 orang yang dikenai sanksi tersebut.

"Kementerian Keuangan akan terus memberi tekanan pada Korea Utara dengan menyasar mereka yang mendukung kemajuan program nuklir dan rudal balistik, dan mengisolasi mereka dari sistem keuangan Amerika," kata Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Sanksi ini berarti warga negara dan perusahaan AS tak diizinkan untuk berbisnis dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

Cina segera merespons, menuntut AS untuk 'segera mengoreksi kesalahan mereka' terkait sanksi pada perusahaan-perusahaan tersebut.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Korea Utara keberatan dengan latihan militer gabungan AS-Korea Selatan yang berakhir Agustus ini.
Hak atas foto Getty Images
Image caption Korea Utara menyatakan bahwa latihan gabungan ini, yang dikenal dengan Penjaga Kebebasan Ulchi, adalah untuk tujuan pertahanan.

Serangkaian uji rudal dilakukan oleh Korea Utara dalam beberapa bulan terakhir - termasuk ancaman berulang untuk melakukan uji nuklir keenam - yang meningkatkan ketegangan antara Pyongyang dan AS.

Korea Utara juga marah, oleh latihan militer rutin AS-Korea Selatan, dan mengancam untuk meluncurkan rudal ke pulau milik AS, Guam, di Pasifik Selatan.

Presiden AS Donald Trump juga mengancam rezim yang terisolasi tersebut dengan "api dan kemarahan yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh dunia".

Hak atas foto Korea Utara
Image caption Dalam video propaganda terbaru Pyongyang, Presiden Trump digambarkan berada di kuburan.

Dalam video propaganda terbaru Pyongyang, yang dirilis pada Selasa, Trump digambarkan berada di kuburan yang dimaksudkan adalah Guam.

Wakil Presiden Mike Pence juga digambarkan terbakar api.

Komentar Tillerson pada Selasa tampaknya lebih bernada rekonsiliasi.

Menurutnya, Korea Utara belum meluncurkan rudal sejak PBB menerapkan sanksi baru secara unilateral dan telah "menunjukkan aksi menahan diri yang sebelumnya tak pernah kita lihat".

"Kami berharap ini adalah awal dari sinyal yang selama ini kami cari - bahwa mereka siap menahan diridari aksi provokatif dan mungkin kita akan melihat jalan di masa depan untuk berdialog."

Meski begitu, saat berbicara di konferensi pelucutan senjata yang didukung oleh PBB di Jenewa pada Selasa, seorang diplomat Korea Utara menegaskan bahwa program senjata itu "bisa dibenarkan dan merupakan pilihan yang masuk akal untuk kepentingan pertahanan".

"Selama kebijakan AS yang penuh permusuhan dan ancaman nuklir terus tegak, maka Korea Utara tidak akan meletakkan pengurangan program pertahanan nuklir di meja negosiasi atau mundur satu inci pun dari jalan yang diambilnya untuk menjadi kekuatan nuklir," katanya.

Berita terkait