Mengapa serangan teror di Eropa selalu pakai mobil, termasuk di Barcelona?

(ki-ka) Mohamed Houli Chemlal, Driss Oukabir, Salah El Karib, dan Mohamed Aallaa. Hak atas foto STRINGER/AFP/Getty Images
Image caption Terdakwa pelaku penyerangan di Barcelona (ki-ka) Mohamed Houli Chemlal, Driss Oukabir, Salah El Karib, dan Mohamed Aallaa.

Perkembangan berita tentang insiden serangan di Barcelona terus bergulir, namun mungkin di tengah banyaknya informasi yang tersedia, masih ada informasi atau pertanyaan Anda tentang peristiwa ini.

Kami menanyakan kepada Anda, pembaca BBC Indonesia, apa yang ingin Anda ketahui tentang serangan di Barcelona yang menewaskan total 15 orang. Anda menyampaikannya kepada kami dan kami menjawabnya lewat artikel ini.

Berikut pertanyaan yang Anda sampaikan ke redaksi dan jawaban yang kami peroleh berdasarkan wawancara pakar dan kumpulan berita-berita terdahulu.

Mengapa modus operandi serangan terorisme selalu sama, menggunakan mobil?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami mewawancarai peneliti di Institute for International Peace Building dan pakar terorisme, Taufik Andrie.

Menurut Taufik, dalam dokumen berisi propaganda ISIS, memang ada anjuran untuk menggunakan alat apa saja yang paling memungkinkan untuk membunuh. Kendaraan adalah salah satunya dan menabrak musuh juga merupakan bagian yang diajarkan oleh ISIS.

Hak atas foto Reuters
Image caption Doa dan ucapan dukacita untuk korban serangan di Las Ramblas, Barcelona.

Selain tidak membutuhkan perencanaan rumit, mobil dianggap lebih murah, karena untuk memperolehnya tidak harus membeli, bisa menyewa bahkan mencuri. Selain itu mobil juga tidak perlu memenuhi aturan spesifikasi tertentu untuk melakukan serangan yang efektif.

Tipe-tipe serangan menggunakan mobil yang mengejutkan menyulitkan orang untuk menghindarinya karena rata-rata terjadi di tempat umum, di mana "orang tidak punya perkiraan apa-apa untuk munculnya serangan".

"Dan karena efektivitas serangan itu lebih mudah dilakukan, maka banyak yang memilih mobil, di Nice, Prancis, Inggris, dan Barcelona. Ini wajar dipakai di Eropa karena konsentrasi massa yang demikian mudah untuk ditemukan," ujar Taufik.

Meski begitu, dia tidak bisa memastikan apakah serangan seperti ini akan terjadi di Asia Tenggara atau tidak,

Apakah serangkaian serangan di Eropa akhir-akhir ini dilakukan oleh latar belakang kelompok/organisasi teroris yang sama dengan serangan sebelumnya?

Menurut Taufik, walaupun masih ada faksi-faksi Al Qaida yang melakukan serangan, namun dalam tiga tahun terakhir "serangan-serangan di Eropa sebagian besar didominasi oleh simpatisan atau pendukung ISIS".

Namun belum jelas apakah dalam melakukan serangan, masing-masing sel itu saling berkomunikasi, meski begitu, menurut Taufik, "hampir semua bermuara ke ISIS".

"Sel-sel tersebut berbasis kewilayahan dan tidak tersentral. Mereka pasti punya mekanisme membangun sel sendiri berbasis teritori, mereka tidak saling kenal juga kadang-kadang," ujar Taufik.

Dia memperkirakan sel-sel terorisme yang aktif di Eropa "lebih banyak, karena secara statistik jumlah orang Eropa yang berperang di Suriah dan Irak lebih tinggi daripada Asia Tenggara, dan lalu lintas orang pulang pergi ke Suriah dan Irak lebih cepat dibanding Asia Tenggara".

Hak atas foto LLUIS GENE/AFP/Getty Images
Image caption Sebagian besar dari 12 tersangka tinggal di Ripoll, kota di utara Barcelona yang berbatasan dengan Prancis.

Taufik membandingkannya dengan jumlah serangan di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura yang relatif sedikit jika dibandingkan dengan di Eropa. "Kecuali di Filipina Selatan," ujar Taufik.

Menurut media setempat, para tersangka dilaporkan 'tak punya kaitan dengan kelompok di Prancis'.

Apakah penabrak sudah tertangkap?

Polisi Spanyol sudah menembak mati Younes Abouyaaqoub, laki-laki Maroko berusia 22 tahun yang diperkirakan menabrakkan mobil barang ke arah kerumunan di Barcelona, di satu desa di barat Barcelona, hari Senin (21/08).

Imam dari Maroko, Abdelbaki Es Satty, yang diyakini memperkenalkan paham radikal kepada para tersangka dilaporkan tewas di rumah yang menjadi tempat membuat bahan peledak di Alcanar, Rabu (16/08).

Selain dia dan satu tersangka lain, polisi juga menembak mati lima tersangka dalam serangan di Cambrils.

Sementara salah satu tersangka serangan teror di Barcelona, Spanyol, pekan lalu, kepada hakim mengatakan bahwa kelompoknya sebenarnya merencanakan serangan yang jauh lebih besar.

Mohamed Houli Chemlal, mengatakan kelompok Chemlal menjadikan beberapa target sebagai sasaran, termasuk katedral ikonik di Barcelona, Sagrada Familia.

Chemlal bersama tiga tersangka lain sudah dihadirkan di pengadilan yang digelar secara tertutup.

Apa latar belakang pelaku, keluarga, serta lingkungan dan pergaulan mereka?

Sebagian besar dari 12 tersangka tinggal di Ripoll, kota di utara Barcelona yang berbatasan dengan Prancis. Anak-anak muda yang menjadi tersangka ini semuanya keturunan Afrika Utara.

Ayah dari dua tersangka penyerang di kota wisata pantai Cambrils menuding Imam Es Satty yang membuat anak-anak muda di kota Ripoll -dan kedua putranya- menjadi radikal.

Hecham Igasi mengatakan kepada BBC bahwa ulama Abdel Baqui es Satti yang bertanggung jawab atas radikalisme Mohamed dan Omar Hychami.

Keduanya termasuk dalam lima tersangka penyerang mobil yang ditembak mati oleh polisi setelah menabrak kawasan pejalan kaki di Cambrils, wilayah wisata tepi laut sekitar 110 km di barat daya Barcelona.

Es Satty, menurut beberapa laporan media, pernah dipenjara dan bertemu dengan para tahanan yang terlibat atau memiliki kaitan dengan pengeboman kereta di Madrid pada tahun 2004, yang menewaskan 191 orang.

Dia juga tinggal di Belgia sekitar tiga bulan tahun lalu untuk mencari kerja, antara lain di Vilvoorde, sebuah kota kecil berpenduduk 42.000 jiwa namun memiliki 20 jihadis yang pergi ke Suriah pada tahun 2014.

Delapan dari tersangka yang terkait dengan serangan di Barcelona dan Cambrils berasal dari kota Ripoll, tempat ulama Abdel Baqui es Satti berkotbah.

Topik terkait

Berita terkait