Sidang korupsi beras Thailand: Mantan PM Yingluck Shinawatra segera ditahan

yingluck Hak atas foto EPA
Image caption Yingluck Shinawatra, yang menjadi perdana menteri perempuan perdana di Thailand pada 2011, dimakzulkan pada 2015 lantaran kasus skema subsidi beras.

Mahkamah Agung Thailand merilis surat penahanan terhadap mantan Perdana Menteri, Yingluck Shinawatra, setelah yang bersangkutan tidak hadir dalam sidang putusan kasus subsidi beras pada Jumat (25/08).

Pengacara Yingluck meminta Mahkamah Agung menunda sidang putusan karena kliennya mengalami sakit vertigo. Mahkamah Agung kemudian memutuskan untuk menunda sidang putusan pada 27 September mendatang, namun jaksa penuntut mengatakan "tidak percaya tergugat memang betul sakit karena tidak ada surat medis."

Pihak Mahkamah Agung, sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, mengeluarkan surat penahanan guna mencegah Yingluck kabur ke luar negeri. MA juga menyita US$900.000 yang diberikan Yingluck sebagai jaminan kepada pengadilan sebelum sidang dimulai.

Dalam kasus itu, Yingluck berulang kali membantah melakukan kesalahan skema subsidi beras yang menghabiskan biaya sebesar US$8 miliar atau setara dengan Rp106,7 triliun.

Jika terbukti bersalah, dia menghadapi ancaman hukuman penjara seumur hidup dan larangan berkiprah di dunia politik.

Yingluck, yang menjadi perdana menteri perempuan perdana di Thailand pada 2011, dimakzulkan pada 2015 lantaran kasus skema subsidi beras. Skema tersebut adalah andalannya sewaktu menjalani kampanye pemilihan umum.

Inti skema subsidi beras adalah meningkatkan pendapatan petani dan memberantas kemiskinan di daerah pedesaan. Untuk mewujudkannya, pemerintah Thailand membayar panen petani dua kali lipat dari rata-rata harga pasar.

Meski bagi Yingluck langkah ini mendulang popularitas, pemerintah Thailand mengalami kerugian ekspor dan tumpukan beras petani tidak mampu dijual. Skema itu juga dipandang membuka celah korupsi.

Selama masa persidangan, Yingluck berkilah bahwa bukan dia yang bertanggung jawab menjalankan skema subsidi beras dan dia adalah korban persekusi politik.

Yingluck, yang merupakan adik bungsu taipan sekaligus mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, dipandang kubu oposisi sebagai boneka kakaknya yang dilengserkan militer pada 2006.

Baik Yingluck maupun Thaksin amat populer di kalangan petani pedesaan, namun dibenci kelas menengah di perkotaan.

Partai mereka, Pheu Thai, memenangi setiap pemilihan umum sejak 2001.

Hak atas foto Reuters
Image caption Para pendukung Yingluck Shinawatra menghadiri sidang putusan di Mahkamah Agung Thailand, Bangkok, Jumat (25/08). Yingluck populer di kalangan petani berkat skema subsidi beras.

Rekam jejak kontroversi subsidi beras Yingluck

  • Mei 2011: Yingluck Shinawatra terpilih sebagai perdana menteri. Tak lama kemudian dia memulai skema subsidi beras.
  • Januari 2014: Aparat antikorupsi Thailand menyelidiki keterlibatan Yingluck dalam skema subsidi beras.
  • Mei 2014: Yingluck dipaksa mundur dari jabatannya setelah Mahkamah Konstitusi Thailand memvonisnya bersalah atas penyalahgunaan wewenang.
  • Januari 2015: Parlemen Thailand yang disokong militer melengserkan Yingluck atas tuduhan korupsi dalam skema subsidi beras. Yingluck juga dilarang berkiprah dalam dunia politik selama lima tahun. Gugatan hukum terhadapnya kemudian dimulai.
  • Agustus 2017: Yingluck mangkir dari sidang putusan kasus subsidi beras dengan alasan sakit.

Topik terkait

Berita terkait