Mereka yang terlalu miskin untuk kabur dari Badai Harvey

Judie McRae
Image caption Judie McRae tidak punya uang untuk keluar kota dan menghindari terjangan badai.

Di tengah puing-puing yang berserakan akibat terjangan Badai Harvey, kain berwarna merah, putih, dan biru tampak mencolok.

Kain itu adalah bendera Amerika Serikat yang tersembunyi di balik gelimpangan pohon dan puing.

Beberapa langkah dari situ, Judie McRae tengah meninjau kerusakan yang ditimbulkan badai terhadap sebuah trailer -rumah mobil, gandengan mobil besar, semacam karavan- yang merupakan rumahnya.

Perempuan berusia 44 tahun itu telah menghabiskan setengah dari usianya di sana. Saat Badai Harvey menerjang, dia bersembunyi di bawah ranjang tanpa mampu memejamkan mata.

Badai tersebut adalah yang pertama dialaminya dalam hidupnya dan dia tidak ingin mengalami yang kedua.

"Rasanya atap akan rubuh setiap saat," ujarnya, sembari menggambarkan suara yang ditimbulkan badai.

"Saya sangat beruntung hanya dua jendela kecil yang rusak," katanya.

Hak atas foto AFP
Image caption Warga Port Aransas, Kathy Neihaet, mengungkapkan kesedihan setelah kawasan pemukiman mereka dihantam Badai Harvey.

Keberuntungan Judie terlihat jelas manakala dia menyaksikan reruntuhan rumah tiga tetangganya. Lembaran baja telah terpuntir sampai tak jelas bentuknya dan busa pelapis dinding tergantung di pohon. Buku-buku dan pakaian basah kuyup akibat terpapar huhan deras. Rumah trailer berwarna biru di salah satu sudut telah hancur porak-poranda. Rangka kayunya patah dan menonjol ke luar.

Selagi kami memeriksa skala kerusakan, seorang pemuda datang dan terlihat resah. Dia bertanya apakah kami telah memeriksa keberadaan pemilik rumah trailer tersebut. Belum.

"Dan, apakah kamu di sana?" teriak sang pemuda.

Kami menaiki puing-puing dan membantu mencari Dan. Kami agak segan menginjak barang-barang miliknya dan tempat mandinya. Tiada seorang pun di sini.

Banjir dahsyat

Saat kami tak bisa menemukan Dan, Judie mulai khawatir dengan dua tetangga lainnya. Keduanya melarikan diri sebelum badai menerjang dan belum kembali untuk memeriksa rumah mereka yang hancur diterjang badai.

Judie amat khawatir dengan seorang perempuan lanjut usia yang tinggal di sana.

"Dia tidak punya uang dan itu adalah rumahnya yang sudah hancur, jadiā€¦" Judie tak menyelesaikan kalimatnya seakan tak ada harapan lagi.

Sementara itu, di tempat lain di Rockport, Robert Zbranek berupaya mengikatkan perahunya di pelabuhan setelah moda transportasinya tersebut lepas saat badai melanda.

Di sebelah perahu, sebuah kapal yacht kecil tampak terbenam di dasar air.

Kapal yacht itu, menurut Robert, adalah rumahnya. Dia berada di dalam kapal manakala badai menerjang dan menghantam lambung kapal. Pada puncak badai terganas di Texas sejak 1961, dengan kecepatan angin mencapai 215 kilometer per jam, dia memutuskan kabur menuju mobilnya yang dia parkir di belakang truk.

Meskipun begitu, dia tidak merasa aman. Pada suatu titik, mobilnya terangkat dari tanah akibat tiupan angin.

Apa rasanya? "Kasar," ujarnya sambil tertawa.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Warga Cottage Grove di Houston menyaksikan kawasan di sekitar rumah mereka yang terendam sementara tak ada jaminan rumahnya akan selamat dari banjir karena hujan lebat diperkirakan masih akan turun di kawasan Texas dalam beberapa hari lagi.

Saya mengira beberapa orang mungkin mempertanyakan kewarasannya.

"Saya tahu saya gila," ujar pria berusia 56 tahun itu sambil tersenyum. "Badai itu semula diperkirakan masuk kategori dua, atau mungkin kategori tiga, tapi nyatanya tidak demikian. Rasanya benar-benar parah. Ganas."

"Saya masih punya rumah. Hanya sedikit rusak," tambahnya.

Image caption Sebuah kapal terguling di Rockport akibat tiupan badai.

Saat kami mengobrol, teman Robert, Craig Hack, muncul. Pria yang berusia hampir 60 tahun itu juga berada di kapal yacht-nya ketika badai menerjang.

"Saya hampir kehilangan sebuah tiang," katanya dengan terbahak-bahak ketika saya bertanya bagaimana rasanya saat badai melanda.

Kedua pria itu bertahan karena mereka mengaku ingin bersama rumah kapal dan kendaraan mereka. Mereka sepakat banyak orang seperti mereka bakal kehilangan harta benda akibat badai karena mereka tidak punya asuransi.

Kota pelik

Di kota pesisir ini penduduknya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jangankan sejahtera.

Rockport didirikan sebagai tempat penampungan hewan ternak dan pelabuhan pengirim daging setelah Perang Saudara Amerika pada 1861-1865.

Sesuai namanya, kota itu berada di atas bebatuan kokoh. Kota tetangga, Fulton, cukup sukses selama beberapa tahun berkat perdagangan sapi, perikanan, dan udang.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Badai Harvey juga menjungkirkan pesawat di Bandara Distrik Aransas.

Menjelang akhir abad ke-20, rel kereta api juga mendatangkan turis.

Kaum wisatawan masih datang ke sana guna menyaksikan burung bangau dan spesies lainnya bersama pakar unggas. Namun, uang dari sektor wisata sepertinya tidak mengubah tingkat perekonomian warga setempat dan daerah sekitarnya.

'Kota pelik' adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kawasan seperti Rockport. Penduduknya mayoritas kulit putih (88,7% dalam sensus terakhir pada 2010) dan memilih Donald Trump secara mutlak dalam pemilihan presiden 2016.

Saat ini kehidupan di sana, menurut Judie, mencapai masa tersulit.

Bagaimanapun, ada kabar baik. Judie mengira Dan, pria yang hilang, berhasil bergabung dengan keluarga atau teman sesaat sebelum badai tiba.

"Tuhan bersama kami," ujarnya dengan nada tak yakin sembari menebar pandangan ke arah kehancuran yang ditimbulkan Badai Harvey.

Judie bertahan di rumah trailer-nya karena dia tidak punya uang untuk pergi. Baginya, tiada tempat lain untuk berlindung.

"Saya sulit keluar kota karena saya tidak punya uang. Jadi saya di rumah saja dan mencoba bertahan."

"Kami semua orang-orang kelas pekerja. Kami adalah orang-orang yang melayani Anda dan membuang sampah Anda. Kami tidak punya banyak uang. Berjuang mendapatkan mimpi Amerika," ujarnya, seraya tertawa getir.

Berita terkait