Apa yang kita ketahui tentang program rudal dan nuklir Korea Utara?

Sesudah Korea Utara yang meluncurkan rudal melalui wilayah udara Jepang, perhatian kembali tertuju pada persenjataan negeri yang seperti hendak menantang semua kekuatan dunia itu. Namun seberapa canggih sebenarnya rudal-rudal Korea Utara?

Rudal rudal Korea Utara telah dikembangkan sejak beberapa dasawarsa, dimulai dari roket artileri sederhana yang berasal dari Perang Dunia II dirancang untuk menguji apa yang dikatakannya sebagai rudal jarak jauh yang mungkin bisa menyerang berbagai sasaran di AS.

Rudal antarbenua

Upaya terbaru Korea Utara difokuskan untuk membangun rudal jarak jauh handal, yang berpotensi untuk menjangkau daratan Amerika Serikat.

Pada tanggal 4 Juli 2017, Pyongyang mengatakan mereka berhasil melakukan uji coba pertama sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM). Dikatakan rudal jenis Hwasong-14 bisa menghantam 'bagian dunia mana pun,' namun awalnya AS memperkirakan jangkauan rudal tersebut lebih pendek dari yang disebutkan.

Militer AS menggambarkannya sebagai rudal jarak menengah, namun sejumlah pakar di AS mengatakan rudal tersebut bisa mencapai negara bagian Alaska, AS.

Pada tanggal 28 Juli 2017, Korea Utara melakukan uji ICBM kedua dan terbaru, dengan rudal yang mencapai ketinggian sekitar 3.000 km dan mendarat di lepas laut Jepang.

Dalam berbagai parade militer sejak 2012, Pyongyang juga menampilkan dua jenis ICBM, yang dikenal sebagai KN-08 dan KN-14.

Diangkut dan diluncurkan dari belakang sebuah truk yang dimodifikasi, rudal KN-08 tiga tingkat diyakini memiliki jangkauan sekitar 11.500km.

Rudal KN-14 tampaknya merupakan rudal dua tahap, dengan jarak tempuh sekitar 10.000 km. Keduanya belum ada yang diuji coba, dan kaitan antara keduanya serta Hwasong-14 belum jelas.

Kemajuan nuklir?

Laporan-laporan media di AS mengklaim bahwa Pyongyang sudah berhasil membuat hulu ledak nuklir yang cukup kecil yang muat di dalam rudal.

Meski belum dikonfirmasi, hal ini dilihat sebagai salah satu keberhasilan mengatasi satu hal yang menghambat Korea Utara menjadi negara dengan kekuatan senjata nuklir.

Sebuah laporan yang dimuat di Washington Post, mengutip para pejabat intelijen AS, menunjukkan Korea Utara mengembangkan senjata nuklir yang mampu menghantam AS dengan tingkat kecepatan yang lebih tinggi dari perkiraan.

Sebuah surat kabar pertahanan milik pemerintah Jepang juga mengatakan bahwa program senjata tersebut "maju secara signifikan" dan bahwa Korea Utara sekarang mungkin memiliki senjata nuklir.

Mengapa membangun rudal balistik antarbenua (ICBM)?

Rudal balistik antar benua dipandang sebagai isyarat terakhir dalam proyeksi kekuatan karena memungkinkan sebuah negara melancarkan serangan berat terhadap musuhnya yang berada di sisi lain Bumi ini.

Satu-satunya alasan nyata untuk menghabiskan uang, waktu dan usaha untuk membangun ICBM adalah memiliki kemampuan untuk menembakkan senjata nuklir.

Selama Perang Dingin, Rusia dan Amerika Serikat mencari cara yang berbeda untuk melindungi dan mengangkut rudal mereka: tersembunyi di ruang bawah tanah, digandeng dengan truk besar atau dibawa dengan kapal selam.

Semua ICBM dirancang dengan prinsip yang sama. Semuanya adalah roket multitahap yang bertenaga bahan bakar padat atau cair, dan membawa muatan senjata keluar dari atmosfer ke luar angkasa.

Muatan senjata -biasanya sebuah bom termonuklir- kemudian dilesatkan lagi ke atmosfir dan diledakkan di atas atau langsung pada sasarannya.

Beberapa nuklir ICBM bisa memuat beberapa hulu ledak atau Mirv.

Hak atas foto Reuters
Image caption Negara ini memiliki kekuatan militer penuh.

Mirv menampung banyak hulu ledak dan umpan jebakan, yang memungkinkannya menyerang bebrapa sasaran dan mengacaukan sistem pertahanan rudal lawan.

Pada periode Perang Dingin, jangkauan dan potensi ancaman ICBM dipandang sebagai kunci konsep 'kepastian kehancuran bersama,' Mutual Assured Destruction atau MAD.

MAD diandaikan bisa menjaga perdamaian karena tidak akan ada pihak yang bisa 'menang' tanpa menderita kerusakan yang tak terkira.

Tonggak sejarah rudal Korea Utara

Program rudal Korea Utara dimulai dengan Scuds, yang dilaporkan pertama kali tiba melalui Mesir pada tahun 1976.

Pada tahun 1984 Korut membuat rudal versi sendiri yang disebut Hwasongs.

Rudal-rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan maksimum sekitar 1.000 km, yang bisa membawa hulu ledak konvensional, kimia dan mungkin biologis.

Sesudah Hwasong, Korut merancang Nodong, merupakan pengembangan dari Hwasong/Scud dengan luas jangkauan sejauh 1.300km.

Dalam analisis yang dibuat April 2016, International Institute for Strategic Studies mengatakan bahwa rudal-rudal tersebut adalah "sistem yang sudah terbukti dapat menyerang seluruh Korea Selatan dan sebagian besar Jepang".

Rudal yang lebih mumpuni kemudian menyusul, dengan pengembangan rudal Musudan, yang terakhir kali diuji pada tahun 2016.

Ada beberapa perkiraan yang berbeda-beda mengenai seberapa jauh jangkauan rudal itu. Intelijen Israel memperkirakan rudal itu bisa melesat sejauh di 2.500 km dan AS memperkirakan sekitar 3.200 kilometer. Sumber lain menyebutkan kemungkinan 4.000 km.

Perkembangan lainnya terjadi pada bulan Agustus 2016 ketika Korea Utara mengumumkan bahwa mereka telah menguji sebuah rudal balistik "dari permukaan-ke-permukaan, jarak menengah-ke- jarak jauh berbasis kapal selam," yang disebut Pukguksong.

Topik terkait

Berita terkait