Krisis Rohingya: 'Kami dengar orang-orang berteriak bakar, bakar, bakar'

rohingya Hak atas foto Reuters
Image caption Para pengungsi Rohingya baru tiba di kamp pengungsian Kutupalang, Cox's Bazar, Bangladesh, pada 30 Agustus 2017.

Aparat keamanan Myanmar diduga mencoba untuk mengusir warga Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine, kata kelompok pemantauan Rohingya, Arakan Project.

Pegiat Arakan Project, Chris Lewa, mengatakan kelompok pengamanan swakarsa di Rakhine 'ikut serta dalam pembakaran desa-desa yang dihuni warga Rohingya'.

"Apa yang kami dengar adalah (orang-orang berteriak) 'bakar, bakar, bakar'. Dan sepertinya (pembakaran) menyebar dari selatan ke utara," kata Lewa, seperti dikutip kantor berita Reuters, hari Jumat (01/09).

Hak atas foto Reuters
Image caption Di tengah guyuran hujan, pengungsi Rohingya tertahan di perbatasan Myanmar-Bangladesh. Foto diambil pada 31 Agustus.

Dalam wawancara dengan BBC, Lewa mengatakan pembakaran rumah-rumah warga Rohingya 'berlangsung secara sistematis'.

"Menurut saya sangat sistematis. Dari satu desa ke desa-desa yang lain. Kami juga mendengar orang-orang dibunuh ketika desa mereka diserang," kata Lewa.

Foto-foto yang beredar dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan asap hitam membumbung ke angkasa dari desa-desa yang ditinggalkan warga Rohingya.

Apa yang disampaikan Lewa menguatkan kesaksian Abdullah, salah seorang pengungsi Rohingya, yang saat ini berusaha masuk ke negara tetangga, Bangladesh.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sisa-sisa rumah yang dibakar di Maungdaw, di negara bagian Rakhine.

"Sangat menakutkan ... rumah-rumah dibakar, orang-orang berlarian meninggalkan rumah mereka, anak dan orang tua terpisah, beberapa di antaranya hilang, yang lainnya tewas," kata Abdullah kepada wartawan Reuters, hari Rabu (30/08).

Lewa juga menuturkan 'pembunuhan 130 warga Rohingya' di Desa Chut Pyin yang diduga dilakukan aparat keamanan Myanmar dan kelompok pam swakarsa.

"Kami diberi tahu bahwa tentara mengepung desa dan menyerang warga yang mencoba menyelamatkan diri," kata Lewa seperti dikutip koran Inggris, The Guardian, hari Jumat (01/09).

"Informasi yang kami peroleh dari lapangan menyebutkan, setidaknya 130 tewas, sebagian besar akibat luka tembak. Angka ini kami dapatkan dari jumlah korban yang telah dikubur," katanya seraya menambahkan bahwa insiden ini terjadi pada hari Minggu (27/08).

'Operasi pembersihan'

Pemerintah Myanmar tidak membolehkan wartawan masuk ke kawasan Rakhine, sehingga pernyataan di atas belum bisa diverifikasi.

Namun, foto-foto yang didapatkan wartawan memperlihatkan desa-desa yang dibakar dan juga para korban yang mengalami luka tembak.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pengungsi Rohingya menunggu masuk kamp-kamp di ke Cox's Bazar, Bangladesh.

PBB mengatakan hampir 40.000 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh dalam sepekan terakhir.

Krisis terbaru dipicu oleh serangan oleh milisi Rohingya terhadap beberapa pos keamanan pekan lalu, yang kemudian dibalas dengan aksi militer oleh pemerintah Myanmar.

Sumber militer Myanmar mengatakan tak kurang dari 400 orang tewas dalam gelombang kekerasan terbaru.

Dubes Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, mengecam keras serangan milisi Rohingya, tapi juga mendesak militer Myanmar untuk tidak menyerang warga sipil yang tidak berdosa.

Haley mengatakan aparat keamanan Myanmar wajib mematuhi hukum kemanusiaan internasional, dengan tidak menyerang warga sipil atau petugas bantuan kemanusiaan.

Militer Myanmar mengatakan apa yang mereka lakukan adalah 'operasi membersihkan Rakhine dari unsur-unsur teroris'.

Topik terkait

Berita terkait