Krisis Rohingya masih jadi perhatian sejumlah media dunia

Rohignya, Myanmar, Burma Hak atas foto The Guardian
Image caption Laporan wartawan The Guardian Oliver Holmes dari kamp pengungsi Cox's Bazar di Bangladesh, sempat menjadi berita utama.

Beberapa media internasional masih menerbitkan berita laporan krisis pengungsi Rohingya walau sebagian tidak menempatkannya lagi sebagai berita utama.

Salah satu situs berita utama di Inggris, The Guardian, pada edisi tengah hari, Kamis 07/09) waktu setempat, misalnya, menurunkan laporan ekskulif berjudul 'Pembunuhan masal di Tula Toli: penduduk Rohingya mengenang horor serangan militer Myanmar'.

Ditulis oleh wartawan Oliver Holmes dari kamp pengungsi Cox's Bazar di Bangladesh, antara lain mengutip Zahir Ahmed yang mengatakan kalangan remaja dan dewasa ditembak dengan senapan, sementara bayi dan anak kecil -termasuk adik bungsu perempuanya- dilempar ke dalam air.

Holmes melaporkan dari wawancara dengan belasan warga Rohingya dari Tula Toli, didapat gambaran tentang 'pembantaian besar-besaran' ketika tentara Myanmar mendatangi kampung itu pada tanggal 30 Agustus.

The Guardian -yang beraliran politik kiri- juga masih menempatkan di situsnya ulasan pengamat sosial politik Inggris, George Monbiot, yang berpendapat Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi seharusnya dicabut karena dia tidak lagi layak mendapatkannya.

"Dia pernah menjadi inspirasi. Kini, berdiam dalam nasib pengungsi Rohingya di Myanmar, dia terlibat dalam kejahatan atas kemanusiaan," tulis Monbiot.

Hingga saat ini, sejak maraknya kembali kekerasan Jumat (25/08) pekan lalu, PBB memperkirakan hampir 250.000 warga Rohingya mengungsi dari kampung-kampung mereka di Myanmar ke Bangladesh.

Berita tentang Rohingya juga turun di The Times, yang mengulas pernyataan Suu Kyi bahwa persekusi atas Muslim adalah berita palsu dalam edisi cetaknya Kamis (07/09).

Liputan itu antara lain memasukkan kunjungan PM India, Narendra Modi, ke Myanmar yang dianggap mendukung Suu Kyi karena akan memulangkan sekitar 40.000 warga Rohingya dari India.

Hak atas foto The Telegraph
Image caption Badai Irma menjadi berita utama di beberapa media di Eropa, termasuk The Telegraph.

Sedangkan The Telegraph menurunkan Badai Irma di Karibia yang sejauh ini menewaskan 10 orang sebagai berita utama di halaman internasionalnya.

Adapun tentang Rohingya, The Telegrapgh mengutip kesaksian seorang ibu yang menempuh perjalanan panjang membawa putranya yang berusia satu bulan. Ada juga ibu lain yang membawa putranya berusia 14 tahun dengan tandu karena tertembak di bagian paha.

Rohingya jelas masih menjadi berita utama di situs berita berbahasa Inggris di Bangladesh, The Daily Star, dengan judul 'Turki berdiri bersama pengungsi Rohingya: Ibu Negara' yang melaporkan kunjungan Emine Erdogan-istri Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan- ke kamp pengungsian di Kutupalong, Cox's Bazar, Bangladesh.

Bahkan berita keduanya juga menyangkut pengungsi Rohingya, tentang kekhawatiran pemerintah bahwa penyelundupan narkoba dan senjata ikut menyusup dalam gelombang para pengungsi Rohingya yang tiba di Bangladesh, seperti disampaikan Menteri Perhubungan dan Jembata, Obaidul Quader.

Hak atas foto The Daily Star
Image caption Kunjungan Ibu Negara Turki ke kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh jadi berita utama The Daily Star.

Namun situs Hurriyet di Turki malah tidak menurunkan berita kunjungan Ibu Negara mereka ke kamp pengungsi Bangladesh dan memilih Badai Irma sebagai berita utama internasionalnya.

Di Malaysia -salah satu negara dengan penduduk mayoritas Islam- The Star mengutip Menteri Luar Negeri Datuk Seri Anifah Aman yang berpendapat ASEAN telah gagal dalam menangani isu Rohingya secara efisien sehingga pemerintah akan terus mengangkatnya lewat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Di dalam ASEAN, saya sudah tidak punya harapan. Kami sudah melihat tujuh pertemuan dan Malaysia mengungkapkan keprihatinan atas Myanmar dan (Myanmar) berjanji untuk menanggapi keprihatinan," tuturnya seperti dikutip The Star.

Hak atas foto Myanmar Times
Image caption Berita di Myanmar Times menegaskan bahwa pengungsi 'yang tidak punya bukti kewarganegaraan tidak diizinkan' masuk kembali ke Myanmar.

The Bangkok Post -koran utama di Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha seperti Myanmar- dalam situs edisi Kamis (07/09) meng-'update' berita tentang Rohingya di laporan khususnya dengan kesaksian para pengungsi tentang pembantaian dan pembakaran di Myanmar.

Koran itu mengutip keterangan seorang saksi, Kadil Hussein, yang menuturkan kepada kantor berita Reuters bahwa tentara membawa sekelompok umat Buddha untuk membakar kampung-kampung mereka.

Dan bagaimana dengan di Myanmar?

Situs berita bahasa Inggris yang independen dan terbesar di sana, Myanmar Times, menurunkan peningkatan kerja sama India dan Myanmar, sejalan dengan kunjungan PM India, Narendra Modi, sebagai berita utama.

Sementara berita terkait Rohingya berupa penegasan Penasihat Keamanan Nasional, Thaung Tun, bahwa orang-orang yang mengungsi ke Bangladesh dari Negara Bagian Rakhine tidak akan diizinkan kembali jika tidak memiliki bukti kewarganegaraan.

Topik terkait

Berita terkait