Empat hal tentang PPC, obat keras yang 'menggemparkan' Kendari

narkotik Hak atas foto Siti Harlina/Detikcom
Image caption Salah satu remaja di Kendari dilarikan ke rumah sakit di Kendari, diduga setelah mengkonsumsi PCC.

Setidaknya 76 orang yang terdiri dari enam perempuan dewasa dan sisanya remaja, di Kendari, Sulawesi Tenggara, dilarikan ke rumah sakit sejak awal pekan ini.

Mereka kejang-kejang setelah diduga mengonsumsi obat bernama PCC. Akibat obat yang sama, seorang pemuda bernama Riski dilaporkan meloncat ke laut sebelum tenggelam dan tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Rikwanto menyebut polisi menangkap lima terduga pengedar obat tersebut di Kendari. Dua dari terduga penyebar PPC itu berprofesi apoteker.

Dalam perkembangan lain, kemarin Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Badan Narkotika Nasional masih terus meneliti obat yang menyebabkan puluhan orang masuk rumah sakit di Kendari tersebut.

Tidak dijual bebas

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menyebut PCC merupakan penghilang rasa sakit. Obat ini, kata dia, juga biasa dikonsumsi untuk mengobati penyakit jantung.

Arman menuturkan, PCC tidak diperjualbelikan secara bebas. Ia menjelaskan pembelian obat ini harus disertai resep dokter.

"Tapi (di Kendari) ternyata beredar bebas bahkan dijual ke anak sekolah dengan harga Rp25 ribu per 20 biji," ujar Arman di Jakarta, kemarin.

Hak atas foto Ari Saputra/Detikcom
Image caption Irjen Arman Depari menyebut pemerintah masih terus menguji obat yang diduga PCC.

BPOM melalui keterangan tertulis menyebut PCC memiliki kandungan parasetamol, kafein, dan carisoprodol. PCC merupakan akronim dari tiga zat tersebut.

Di Indonesia, carisoprodol dijual melalui merek Somadril. Merujuk SK Menteri Kesehatan tahun 1973, Somadril dikategorikan sebagai obat keras.

Apoteker, sesuai Peraturan Pemerintah 51/1999 tentang Pekerjaan Kefarmasian, hanya dapat memberikan obat keras ke pasien atas dasar resep dokter.

'Disalahgunakan'

BPOM menyatakan, pemerintah sejak tahun 2014 telah melarang peredaran Somadril. Alasannya, kata dia, obat itu kerap disalahgunakan untuk kepentingan nonkesehatan.

Berdasarkan catatan Badan Pengendali Penyimpangan Obat di Kementerian Kehakiman Amerika Serikat, carisoprodol juga kerap disalahgunakan masyarakat negara itu.

"Carisoprodol terus menjadi salah satu obat yang paling sering disalahgunakan. Penyimpangan itu umum terjadi di berbagai daerah," tulis laporan yang dipublikasikan Juni 2009 itu.

Hak atas foto Joe Raedle/Getty Images
Image caption Ilustrasi: PCC yang berbentuk pil kerap disalahgunakan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat.

Laporan itu juga merujuk data Departemen Penegakan Hukum Florida yang menyebut carisoprodol diduga kuat berkaitan dengan 208 kematian di negara bagian itu pada 2003.

Lima tahun setelahnya, jumlah kematian akibat carisoprodol di negara bagian Amerika Serikat itu melonjak hampir 100% menjadi 415 kasus, melebihi kematian yang disebabkan penggunaan heroin.

Hilang konsentrasi

Ahli kimia farmasi di BNN, Mufti Djusnir, menyatakan carisoprodol yang terkandung di PCC dapat melemaskan otot sehingga rasa sakit ke saraf dan otak terhambat.

Mufti mengatakan, penyalahguna PCC bisa mengalami efek seolah melayang atau terbang. Penyebabnya, konsumsi PCC mengganggu konsentrasi dan keseimbangan.

"Kalau dibiarkan disalahgunakan, pengguna bisa menjadi ketagihan," ujar Mufti.

Seperti dilaporkan Kompascom, orang tua pengguna PCC, Adi Putra, menyebut anaknya yang berinisial HN meracau dan terlihat tidak tenang sebelum dilarikan ke rumah sakit.

"Dia cari perlengkapan sekolahnya dan mondar-mandir terus di dalam rumah," kata Adi.

Saat tiba di rumah sakit, Adi menyebut HN bahkan mengamuk dan sempat melukai diri sendiri.

Adapun, Rauf, ayah Riski yang tewas setelah melompat ke laut, menyebut anaknya merasa kepanasan usai mengkonsumsi PCC.

Ribuan pil

Bersamaan dengan penangkapan lima terduga pengedar PCC di Kendari, kepolisian menyita ribuan pil jenis tramadol dan yang diduga PCC. Tramadol merupakan obat penghilang rasa sakit yang biasa dikonsumsi pascaoperasi.

Adapun, hingga saat ini, seperti diutarakan Arman Depari, carisoprodol yang terkandung dalam obat-obat itu tidak masuk daftar narkotik dan psikotropika.

"Menurut literatur, kandungan obat ini sementara bukan narkotik atau flakka (narkotik berbentuk kristal)," kata Arman.

Topik terkait

Berita terkait