Kesepakatan Iklim Paris : AS bantah akan bertahan

Iklim Hak atas foto Reuters
Image caption Kesepakatan Paris disetujui oleh AS dan 187 negara untuk menjaga kenaikan suhu global "dibawah" 2 derajat celcius di atas tingkat pra-industri.

AS berkeras untuk mundur dari Kesepakatan Iklim Paris, meskipun ada laporan negara itu akan memperlunak pendiriannya.

Pejabat yang bertemu dengan perwakilan Gedung Putih pada Sabtu (16/09) mengatakan lalu AS akan bertahan pada kesepakatan 2015 atau mengubah pendekatannya.

Gedung Putih mengatakan "tidak ada perubahan" posisi AS "kecuali kami dapat memasukan kembali syarat yang lebih menguntungkan negara kami".

Presiden Donald Trump mengatakan pada Juni lalu bahwa dia ingin sebuah kesepakatan baru yang "adil" bagi AS.

Dia menambahkan kesepakatan baru itu sangat penting untuk tidak merugikan kepentingan AS, tetapi penentangnya mengatakan penarikan diri dari kesepakatan itu merupakan sebuah kemunduran dari kepemimpinan AS dalam menghadapi tantangan global.

Kesepakatan Paris disetujui oleh AS dan 187 negara untuk menjaga kenaikan suhu global "dibawah" 2 derajat celcius di atas tingkat pra-industri dan bahkan "berupaya untuk membatasnya" menjadi 1,5 derajat celcius.

Hanya Suriah dan Nikaragua yang tidak menandatangani kesepakatan tersebut.

Apa yang sebanarnya diumumkan Trump pada Juni lalu?

Berbicara di Taman Mawar Gedung putih, dia menyebut kesepakatan Paris merupakan sebuah kesepakatan yang bertujuan untuk mengikat, merugikan dan memiskinkan AS.

Dia mengklaim kesepakatan itu akan menyebabkan AS kehilangan 6,5 juta pekerjaan dan kehilangan $3 trilun atau Rp 2.208 trilliun pada pendapatan per kapita - sementara saingannya Cina dan India bahkan lebih rentan terancam.

"Untuk memenuhi kewajiban saya untuk melindungi Amerika dan warganya, Amerika Serika akan mundur dari Kesepakatan Iklim Paris.... tetapi mulai berunding untuk kembali masuk dalam Kesepakatan Paris atau membahas transaksi baru dengan persyaratan yang lebih adil bagi Amerika Serikat," kata dia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Trump menyebut kesepakatan Paris merupakan sebuah kesepakatan yang bertujuan untuk mengikat, merugikan dan memiskinkan AS.

Selama kunjungannya di Prancis, Juli, bagaimanapun, Trump mengisyarakatkan bahwa AS dapat mengubah posisinya terhadap kesepakatan tersebut- tetapi dia tidak menjelaskannya.

"Dengan segala hormat terhadap Kesepakatan paris, sesuatu dapat terjadi... Kami akan melihat apa yang terjadi."

Pada Sabtu (16/09), Wall Street Journal mengutip Komisioner Eropa untuk Aksi Iklim dan Energi Miguel Arias Canete yang mengatakan bahwa pejabat pemerintahan Trump mengatakan AS tidak akan menarik diri dari kesepakatan dan menawarkan diri untuk kembali terlibat dalam kesepakatan internasional untuk melawan perubahan iklim.

WSJ menyebutkan bahwa perubahan posisi itu terjadi setelah pertemuan menteri-menteri lingkungan dari 30 negara yang berkumpul di Montreal, Kanada.

Pertemuan itu dihadiri oleh seorang pemantau AS.

AS "menyatakan bahwa mereka tidak akan merundingkan kembali Kesepakatan Paris, tetapi mereka (akan) mengkaji persyaratan yang dapat mereka lakukan dalam kesepakatan ini," jelas Canete.

Dia mengatakan bahwa akan ada pertemuan "untuk menilai seperti apa sebenarnya posisi AS," yang digelar di sela-sela Sidang Umum PBB pada pekan depan dengan perwakilan Amerika seperti dilaporkan kantor berita AFP.

"Ini merupakan sebuah pesan yang cukup berbeda dengan yang pernah kita dengar dari Presiden Trump di masa lalu," jelas Canete.

Di saat yang sama, Menteri Lingkungan Cile Marcelo Mena menulis cuitan (dalam bahasa Spanyol):" Saya berada dalam pertemuan, dan juru runding (AS) secara efektif tidak menutup pintu untuk melanjutkan kesepakatan, dan memutuskan untuk mencari sebuah kesepakatan baru."

Tetapi dalam sebuah pernyataan yang disampaikan pada Sabtu malam, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan: "Tidak ada perubahan sikap AS terhadap Kesepakatan Paris.

"Dan presiden telah menyampaikan dengan jelas, Amerika Serikat akan mundur kecuali kami dapat memasukan syarat baru yang lebih menguntungkan bagi negara kami."

Hak atas foto Reuters
Image caption Pembangunan energi terbarukan untuk mengganti bahan bakar fosil.

Bagaimana ini dapat mengubah sesuatu?

Bloomberg melaporkan bahwa AS "tidak lagi berupaya untuk mundur dari pakta dan kemudian merundingkannya, namun ingin kembali terlibat dalam Kesepakatan paris dari dalam".

Sementara Gedung Putih berkeras bahwa sikapnya tidak berubah, memutuskan untuk tidak mundur dari Kesepakatan Paris dan malahan fokus untuk negosiasi sembari tetap menjadi salah satu penandatangan merupakan sebuah sinyal penting.

Los Angeles Times mengatakan tetap pada Kesepakatan Paris akan menjadi "salah satu yang kontroversial" bagi pemerintahan Trump.

Dan juga akan berisiko memicu kemarahan pendukung Trump yang konservatif, ditengah kritik yang menyebutkan dia berhubungan dengan pemimpin Demokrat, seperti ditulis oleh majalah liberal Mother Jones.

Berita terkait