Keluarga kecil tanpa hubungan darah kabur dari sekapan Boko Haram

Mohamed
Image caption Mohamed mengatakan ia tidak bisa menghitung lagi jumlah orang yang terpaksa harus ia bunuh.

Mohamed dipaksa untuk bertempur bersama Boko Haram sampai ketika istri salah satu pemimpinnya, mengajaknya untuk kabur bersama dengan bocah laki-laki berusia empat tahun. Wartawan BBC Stephanie Hegarty bertemu dengannya di sebuah pangkalan militer di timur laut Nigeria.

Seorang bocah lakil-laki duduk dibawah naungan pohon nimba yang rindang, bermain dengan tongkat di pasir. Seorang pria, bukan ayahnya, mengamatinya dengan seksama. Dan seorang wanita, bukan ibunya, menjemputnya untuk masuk ke dalam.

Ketiga orang yang tidak saling berkaitan ini dipersatukan oleh situasi yang paling tragis.

Sebelumnya, mereka adalah orang asing bagi satu sama lain. Tapi mereka memiliki kesamaan, mereka hidup dengan Boko Haram di sebuah kamp yang berlokasi di dalam hutan Sambisa sebelum akhirnya meerka melarikan diri, lebih dari sebulan lalu.

Kami datang ke pangkalan militer yang berlokasi di timur laut Nigeria untuk bertemu pria itu, Mohamed (bukan nama sebenarnya). Dia adalah anggota dari Boko Haram sampai dia memutuskan untuk melarikan diri dari kelompok tersebut dan menyerah kepada tentara Nigeria.

Dari apa yang ia katakana kepadaku, Mohamad mungkin berusia sekitar 30an tapi keriput di sekitar matanya membuatnya tampak lebih tua.

Perawakan tubuhnya kecil tapi kokoh, mengenakan kemeja polo dengan corak strip biru yang ia dapat dari tentara -yang telah memfasilitasi pertemuan kami. Ketika dia keluar dari hutan, dia bilang dia sudah tidak punya apa-apa.

Mohamed bergabung dengan Boko Haram tiga tahun lalu, ketika mereka menduduki kota tempatnya tinggal, Banki.

Ia memiliki usaha jual-beli dan reparasi ponsel. Ketika para militan mendekat, ia lari ratusan mil menuju perbatasan Nigeria dan Kamerun.

Dijebak oleh seorang teman

Tapi seorang teman meyakinkannya untuk kembali untuk mengurus bisnisnya, meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ketika dia kembali, temannya itu memaksanya bergabung dengan kelompok tersebut.

Selama tiga minggu mereka berkendara menyerang desa-desa di daerah tersebut. Dia mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan, tapi dia takut itu justru akan mengancam hidupnya.

"Kami hanya berkeliaran dari desa ke desa untuk mengumpulkan wanita untuk dinikahi."

Tak lama kemudian, mereka dipukul mundur dari Banki oleh tentara Nigeria, menuju pedalaman hutan Sambosa -daerah yang luas di perbatasan antara Nigeria dan Kamerun.

Image caption Banyak dari wilayah timur laut Nigeria masih belum aman.

Kamp kami terletak di jauh di dalam hutan dimana ada pohon yang sangat besar dan kami menggunakan lembaran atap alumunium untuk membangun rumah-rumah besar dimana kami semua tinggal," katanya.

"Ada sekitar 500 orang di setiap kamp, masing-masing kamp dinamai dengan nama kota. Saya menghitung setidaknya ada 12 kamp."

Tapi perampasan terus berlanjut. Selama bersama Boko Haram, Mohamed mengatakan ia bertempur dalam enam pertempuran.

"Ketika kami merebut sebuah kota, imam yang memimpin penaklukan akan menjadi pemimpin kota itu. Orang-orang ada di rumah mereka dan kami akan datangi rumah ke rumah untuk mengumpulkan wanita-wanita itu.

"Beberapa orang berlari, tapi jika mereka anggota pengurus desa kami akan membunuh mereka.

"Ketika kami menyerang mereka, kami menembak tanpa pandang bulu, saya tidak tahu berapa banyak orang yang sudah saya bunuh."

Toko ponsel di hutan

Dalam tahun-tahun awal, militan tampak didanai dengan baik. Mereka menggaji para petempur, tapi ketika tentara mengebom lokasi penyimpanan uang, gaji tersebut mengering.

Jadi Mohamed membuka bisnis yang ia tekuni sebelumnya dengan membuka toko jual-beli ponsel, kali ini di hutan.

"Semua orang punya telepon, jika kita pergi berperang, mereka mengumpulkan telepon milik orang-orang, mereka memberikannya kepada saya dan saya akan menjualnya."

Tak lama setelah itu, ia ditunjuk sebagai pengawal seorang komandan senior dan mendapatkan wawasan tentang cara kerja eselon atas Boko Haram, meskipun dia tidak tahu dari mana uang yang mendanai mereka berasal.

Dia mengatakan kepada saya bahwa sebagai prajurit biasa dia tidak pernah bertemu dengan pemimpin kelompoknya, Abubaker Shekau.

Namun Shekau akan mengirim salah satu utusannya dari tempat persembunyiannya untuk memberikan perintah kepada para komandan.

Sebagai pengawal, Mohamad bertugas menjaga istri muda sang komandan, Aisha (bukan nama sebenarnya.

Image caption Putus asa, Aisha mengajak Mohamed untuk melarikan diri.

Aisha ditangkap bersama putrinya tiga tahun lalu di kota Mubi. Dia dipaksa untuk menikah tiga kali, setiap kali dipilih oleh komandan senior.

"Komandan mengajariku cara menembak," kata Aisha kepadaku. Beberapa tahun setelah ditangkap, anak perempuannya jatuh sakit dan meninggal.

Ia sangat ingin melarikan diri.

Saat kami berbicara, dia melindungi bibirnya dengan jilbabnya. Dia pemalu dan lembut berbicara, namun keras kepala.

"Suamiku tahu saya ingin kabur," katanya. "Karena itulah dia menyuruh pengawalnya mengikuti saya kemana-mana.

Tapi Aisha melihat sesuatu di pengawal ini yang tidak dia lihat di anggota Boko Haram lainnya. "Saya tahu dia pria yang baik hati," katanya. Dia memutuskan untuk meyakinkannya agar melarikan diri.

Mereka mulai menyusun rencana, tapi Mohamed dirundung ketakutan.

Dia pikir militer akan menghukumnya jika mereka menyerah. Tapi Aisha telah mendengarkan siaran radio BBC Hausa dan mendapati bahwa tentara akan menawarkan amnesti kepada anggota Boko Haram yang membelot dan dia berkata kepadanya bahwa semua akan baik-baik saja.

Mereka tertangkap sedang bertemu larut malam, komandan mengira mereka berselingkuh dan mereka diikat.

Tapi Aisha yang berhasil melonggarkan tali yang mengikat pergelangan tangannya, kemudian membebaskan Mohamed dan mereka melarikan diri.

Hak atas foto EPA
Image caption Tentara Nigeria di tengah pertempuran sengit dengan Boko Haram di hutan Sambisa.

"Saya tahu daerah itu dengan sangat baik sehingga kami hanya mengikuti semak-semak," Mohamed menjelaskan. Mereka akhirnya sampai di jalan raya milite, mengangkat tangan di udara dan menyerahkan diri.

Sejak menyerahkan diri, mereka mengatakan tentara memperlakukan mereka dengan baik. Meskipun kami berbicara dengan mereka di hadapan juru bicara tentara, mereka tampak santai.

Aisha dan Mohamed beralasan pelarian mereka karena pada kenyataannya saat ini Boko Haram sudah berantakan.

Salah satu komandan senior dan pendirinya, Mamman Nur, membelot dan membentuk faksi sendiri pada tahun lalu.

Dia membawa serta banyak militan, serta senjata dan amunisi, bahkan tank yang dikumpulkan kelompok tersebut dalam serangan terhadap tentara Nigeria.

Menurut Mohamed, pembelotan itu merupakan hasil dari perbedaaan ideologis yang mendalam.

"Mamman Nur membenci cara Shekau yang menggunakan bom untuk menyerang kota -penggunaan bom bunuh diri, terutama perempuan, untuk menyerang kota-kota, gereja, masjid dan pasar," katanya.

Saat saya berbicara dengan Aisha dan Mohammed, bocah kecil yang bersama mereka berkeliaran dibawah pengawasan mereka - sering kali berseru kegirangan ketika bocah berusia empat tahun ini menendang pasir.

Ketika mereka kabur dari hutan itu, bocah itu terus mengikuti mereka, keduanya menjelaskan.

Mereka tidak tahu namanya, namun Aisha mengenali wajahnya -dia pernah bertemu dengannya bersama ibunya sebelum masa Boko Haram.

Image caption Pendiri Boko Haram Mohammed Yusuf tewas ketika ditangkap polisi pada 2009

Dia tidak tahu dimana orang tuanya sekarang.

Kami diberitahu oleh tentara yang mendampingi mereka bahwa Aisha, Mohamed dan bocah laki-laki ini akan mengikuti sebuah 'program deradikalisasi', yang dijalankan oleh pemerintah Nigeria.

Namun demikian, pemerintah masih ragu untuk membagikan rincian program tersebut.

Sekarang masa depan mereka berada di tangan pihak berwenang dan terserah pada mereka apakah keluarga kecil yang terdiri dari orang-orang asing ini diizinkan tinggal bersama atau tidak.

Berita terkait