'Katalan menangkan hak untuk merdeka' dari Spanyol

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Warga Katalan menyanyikan lagu kebangsaan mereka, 'Els Segadors.'

Wilayah Katalonia yang sekarang bagian dari Spanyol, telah memenangkan hak untuk menjadi negara berdaulat setelah referendum kemerdekaan yang ditentang Spanyol dan ditandai kekerasan, kata tokoh Katalan.

Pemimpin Katalan Carles Puigdemont mengatakan bahwa pintu telah dibuka untuk suatu pernyataan deklarasi kemerdekaan secara sepihak.

Para pejabat Katalan mengatakan 90% pemilih yang datang ke TPS dalam pencoblosan hari Minggu (1/10), mendukung kemerdekaan.

Mahkamah Konstitusi Spanyol sebelumnya menyatakan jajak pendapat tersebut ilegal, dan ratusan orang terluka saat polisi menggunakan kekerasan dalam upaya menghalangi berlangsungnya pemungutan suara.

Aparat polisi menyita surat-surat suara dan kotak-kotak suara di berbagai tempat pemungutan suara.

Dalam beberapa peristiwa, penyitaan dan pembubaran TPS dilakukan dengan kekerasan. Batapa pun, jumlah yang menggunakan hak pilih, menurut para pejabat Katalan, mencapai 42,3%.

Hak atas foto Reuters
Image caption Pemimpin Katalan Carles Puigdemont diapitpara anggota kabinetnya saat memberi pernyataan.

"Dengan harapan dan penderitaan ini, warga Katalonia telah memenangkan hak untuk sebuah negara merdeka berbentuk republik," kata Puigdemont, diapit dua tokoh Katalan lainnya, dalam sebuah pidato di televisi.

"Pemerintahan saya, dalam beberapa hari ke depan akan mengirimkan hasil pemungutan suara hari ini kepada parlemen Katalan, tempat kedaulatan rakyat kita terletak, sehingga bisa bertindak sesuai dengan hukum referendum."

Dia mengatakan Uni Eropa tidak bisa lagi 'terus menoleh ke arah lain.'

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Analisis: Tom Burridge, BBC News, Barcelona

Hubungan rumit Spanyol dengan kawasan Katalonia kini mengarah pada keadaan yang tidak bisa diduga.

Tindak kekerasan oleh polisi Spanyol membuat suatu deklarasi kemerdekaan sepihak oleh pemerintah daerah Katalonia tampaknya jadi lebih mungkin terjadi daripada sebelumnya.

Pemerintahan Katalonia mengklaim bahwa jumlah pemilih yang menggunakan hak suara mencapai 2,2 juta orang - hampir separuh dari jumlah pemili hak pilih. Ia juga mengatakan bahwa 90% memilih 'ya' untuk kemerdekaan dari Spanyol.

Tapi mengingat kemelut dan kekerasan saat pemungutan suara, angka-angka yang muncul seutar pereferendum harus diperlakukan lebih hati-hati. Pada hari Senin (1/10) ini, pemerintah di Madrid akan mengadakan pembicaraan dengan partai-partai politik Spanyol untuk membahas tanggapan mereka terhadap krisis politik terbesar yang pernah terjadi di negeri itu sejak beberapa dasawarsa.

Dalam perkembangan lain, lebih dari 40 serikat pekerja dan asosiasi Katalan menyerukan pemogokan di seluruh wilayah Katalonia pada hari Selasa untuk memprotes 'pelanggaran berat terhadap HAM dan kebebasan.'

Sebelumnya, saat pemungutan suara berakhir, Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy mengatakan bahwa rakyat Katalan telah tertipu untuk mengambil bagian dalam pemungutan suara secara ilegal. Dia menyebutnya sebagai 'olok-olok' demokrasi.

"Pada jam ini saya dapat mengatakan dengan ungkapan paling keras tentang apa yang sudah Anda ketahui dan apa yang telah kita lihat sepanjang hari ini. Tidak ada referendum tentang penentuan nasib sendiri di Katalonia," kata PM Rajoy.

Sejumlah besar pendukung kemerdekaan berkumpul di pusat kota Barcelona -ibukota Katalaonia, pada hari Minggu malam, mengibar-kibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Katalan. Demonstran anti-kemerdekaan juga mengadakan demonstrasi di Barcelona dan kota-kota Spanyol lainnya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Polisi menggunakan pentungan untuk mencegah berlangsungnya referendum.

Seburuk apa kekerasan itu?

Pemerintah Katalan mengatakan lebih dari 800 orang terluka dalam bentrokan di seluruh wilayah Katalonia, yang meliputi juga orang-orang yang melaporkan keluhan ringan seperti serangan kecemasan.

Kementerian dalam negeri Spanyol mengatakan 12 petugas polisi terluka dan tiga orang ditangkap. Disebutkan juga, bahwa mereka menutup 92 TPS.

Di Girona, polisi anti huru hara menerobos sebuah tempat pemungutan suara tempat pemimpin katalan, Puigdemont dijadwalkan untuk memilih, dan secara paksa mengeluarkan orang-orang yang ada di dalamnya. Puigdemont kemudian memilih di TPS lain.

Wartawan BBC Tom Burridge di Barcelona menyaksikan polisi diusir dari sebuah tempat pemungutan suara yang mereka gerebek.

Tayangan TV menunjukkan polisi anti huru hara menggunakan pentungan untuk memukuli sekelompok anggota tim pemadam kebakaran yang melindungi khalayak di Girona.

Hak atas foto Reuters
Image caption Perempuan ini menderita luka pada kepalanya akibat kekerasan yang terjadi di Barcelona

Polisi nasional dan Guardia Civil - pasukan militer yang melakukan tugas kepolisian - dikerahkan ke Katalonia dalam jumlah besar untuk mencegah pemungutan suara.

Polisi Katalan - Mossos d'Esquadra - diambil alih dalam komando Madrid, namun saksi mengatakan mereka polisi-polisi ini tidak menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan kekerasa dalam menindak para pemrotes.

Walikota Barcelona Ada Colau mengecam tindakan polisi terhadap 'rakyat tak berdaya' di kawasan ini, namun Wakil Perdana Menteri Spanyol Soraya Saenz de Santamaria mengatakan bahwa polisi "bertindak dengan profesionalisme dan dengan cara yang proporsional".

 

Hak atas foto Boris Llona via Twitter
Image caption Polisi Katalan, Mossos d'Esquadra dihormati warga karena menahan diri dalam menggunakan kekerasan.

Berapa banyak suara yang terkumpul?

Otoritas Katalan mengatakan 319 dari sekitar 2.300 tempat pemungutan suara di seluruh wilayah mereka ditutup oleh polisi sementara pemerintah Spanyol mengatakan yang ditiutup berjumlah 92 TPS.

Sejak Jumat, ribuan orang telah menduduki sekolah dan bangunan lainnya yang dijadikan sebagai tempat pemungutan suara untuk mencegah tindakan penutupan oleh polisi. 

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Para pemilih brusaha mencegah tindakan polisi dan berteriak: "Kami akan memilih. Kami manusia damai."

Banyak di antara mereka adalah orang tua dan anak-anak mereka, yang tetap tinggal di gedung-gedung sekolah setelah pelajaran berakhir pada hari Jumat dan tidur dengan kantong tidur atau matras alat kebugaran.

Katalonia, daerah kaya berpenduduk 7,5 juta orang di timur laut Spanyol, memiliki bahasa dan budayanya sendiri, namun konstitusi Spanyol tidak mengakuinya sebagai negara sendiri.

Berita terkait