Penembak massal Las Vegas sempat mengincar konser yang dihadiri dua puteri Obama

A view of the Samsung Stage at Lollapalooza 2016 Hak atas foto Getty Images
Image caption Lollopalooza tahun 2016 -konser ini sudah berlangsung di Grant Park Chicago sejak tahun 2003.

Pria yang melakukan penembakan massal di Las Vegas, Minggu (01/10) lalu, ternyata pernah memesan kamar yang mengarah ke acara musik terbuka lain sebelumnya, yang dihadiri putri-putri mantan Presiden Barack Obama.

Penyidik mengungkapkan, ada pemesanan kamar hotel atas nama Stephen Paddock di Blackstone Hotel, di Chicago, saat berlangsungnya festival musik Lollapalooza di kota Illinois.

Dia tak jadi menginap, dan seorang juru bicara hotel mengatakan mereka tak bisa mengukuhkan apakah pemesan itu "adalah Stephen Paddock" -yang menembaki orang di Las Vegas.

Di antara yang berkeriaan di festival bulan Agustus itu terdapat dua puteri mantan Presiden Barack Obama, Malia dan Sasha.

Menurut penyidik, Stephen Paddock sempat pula memesan kamar saat festival Life is Beautiful di Vegas sepekan sebelum ia menembaki para pengunjuk konser musik conutry yang menewaskan 59 orang dan melukai ratusan lainnya.

Bahkan Paddock juga sempat mengincar sebuah acara di Boston.

Pemesanan hotel terungkap setelah Sheriff Clark County, Lombardo, Paddock juga memesan sebuah apartemen di Las Vegas sepekan sebelum pembantaian hari Minggu lalu.

Apartemen itu berlokasi di Ogden, sebuah gedung menara yang di bawahnya berlangsung konser terbuka Life is Beautiful saat itu, yang menampilkan sejumlah musikus terkemuka seperti Muse, Lorde dan Chance the Rapper. Sementara The Boston Globe, dengan mengutip pejabat yang tak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Paddock juga diketahui menjelajahi intrnet untuk melihat detil Fenway Park dan Boston Center for the Arts.

Kedua lokasi itu beberapa waktu terakhir menampilkan konser di udara terbuka.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Horor itu dalam tayangan dua menit.

Belum jelas apa motivasi serangan dan lebih dari 100 penyidik bekerja untuk mengungkap bagaimana kehidupan Paddock, yang disebut-sebut sebagai manusia "yang mengalami gangguan, dan berbahaya."

Stephen Paddock memiliki 'kehidupan rahasia yang sebagian besar mungkin tidak bisa dipahami sepenuhnya', jelas Sherif Joe Lombardo kepada para wartawan.

Pacarnya, Marilou Danley -yang berada di luar Amerika Serikat saat insiden- mengatakan tidak tahu apa yang direncanakan Paddock.

Motif pria berusia 64 tahun itu melepas tembakan bertubi-tubi hingga menewaskan 58 orang dan melukai 500 lebih lainnya -yang merupakan korban terbesar dalam insiden penembakan sepanjang sejarah Amerika Serikat- masih tetap merupakan misteri.

Hak atas foto Boston 25

Polisi menemukan pensiunan akuntan tersebut di dalam sebuah kamar hotel di lantai 32 setelah melepas tembakan ke arah para penonton konser musik di lapangan seberang hotel.

Dia tampaknya bunuh diri dengan menggunakan salah satu dari sekian banyak senjata yang ditemukan di kamar tersebut.

Dalam konferensi pers, Sheriff Lombardo ditanya para wartawan apakah Paddock sudah merencanakan pelarian setelah serangan dan dia menjawab, "Ya."

Ketika ditanyakan lebih lanjut tentang rencana pelarian itu, Sheriff Lombardo mengatakan tidak bisa menjelaskannya.

Jumlah korban serangan Paddock -58 tewas dan 500 lebih cedera- merupakan yang terburuk sepanjang sejarah modern Amerika Serikat.

Para wartawan juga menanyakan apakah Paddock mendapat bantuan dalam merencanakan atau melakukan serangan.

"Dia mungkin manusia super, mungkin dia bekerja sendirian untuk semua ini, namun akan sulit bagi saya meyakini hal tersebut," jawab Sherif Lombardo.

Kemungkinan bahwa Paddock mendapat bantuan merupakan pergeseran dalam arah penyelidikan karena tak lama setelah serangan, para pejabat mengatakan dia 'main tunggal' dan 'sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakannya yang mengerikan."

Topik terkait

Berita terkait