Apa yang belum kita ketahui tentang serangan Las Vegas

Las Vegas Hak atas foto Getty Images
Image caption Polisi Las Vegas menggelar malam renungan untuk mengenang petugas polisi Charleston Hartfield, yang tewas dalam penembakkan massal.

Polisi Las Vegas telah mengejar "lebih dari 1.000 petunjuk" sebagai upaya untuk menemukan motif pelaku serangan yang menewaskan 58 orang di sebuah festival musik.

Para penyintas masih terguncang sampai lima hari setelah Stephen Paddock, 64 tahun, menembakkan peluru dari kamar hotelnya ke kerumunan orang sebelum membunuh dirinya sendiri.

Serangan Las Vegas diperkirakan merupakan penembakkan massal yang mematikan dalam sejarah AS baru-baru ini.

Polisi mengatakan "telah memeriksa semuanya" telah masih belum dapat mengungkapkan mengapa Paddock melakukan penembakan membabi buta.

"Kami memeriksa semuanya, dengan sungguh-sungguh, termasuk kehidupan pribadi tersangka, afiliasi politik, perilaku sosialnya, situasi ekonomi, dan apakah ada potensi radikalisasi yang telah banyak diklaim," kata Kevin McMahill, deputi shrerif di Departemen Polisi Metropolitan Las Vegas.

"Kami ingin semua jawaban," kata dia kepada wartawan, Jumat (06/09).

Namun, seiring dengan upaya polisi mengumpulkan segala informasi yang dapat menjadi petunjuk motif pelaku penembakan, sejumlah pertanyaan masih tak terjawab, termasuk bagaimana seorang pensiunan akuntan yang kaya itu melakukan kejahatan seperti itu.

Mengapa dia melakukannya?

Sherif di Departemen Polisi Metropolitan Las Vegas Joseph Lombardo mengatakan polisi menyelidiki sebuah komputer dan berbagai perangkat elektronik yang ditemukan di kamar Paddock di Hotel dan Kasino Mandalay Bay dan juga bukti-bukti yang diambil dari rumahnya di Mesquite dan Reno, Nevada.

Para penyelidik juga menemukan sebuah catatan berisi sejumlah nomor di dalam kamar hotel, tetapi polisi mengatakan itu bukan merupakan sebuah catatan bunuh diri ataupun manifesto.

Dia juga diyakini tidak memiliki pandangan ekstremis dan tidak menelpon polisi untuk menjelaskan aksinya seperti yang dilakukan Omar Mateen, penembak di klub malam di Orlando yang menembak fatal 49 orang pada akhir tahun lalu.

Hak atas foto AFP/Gettyimages
Image caption Penembakan di Las Vegas menewaskan 58 orang.

Otoritas telah mengungkapkan sejumlah rincian temuan mengenai penemuan dan apakah berisi petunjuk tentang motif serangan.

Andrew McCabe, deputi direktur FBI, mengatakan pada Rabu lalu bahwa kasus ini "berbeda dengan banyak kasus yang telah kita tangani pada masa lalu".

Apakah dia merencanakan serangan lain?

Paddock mengumpulkan senjata lebih dari 13 bulan, membeli 33 senjata secara ilegal, yang beberapa dimodifikasinya denganbump-stocks, atau alat yang membuat senjata dipoerasikan secara otomatis.

Dia menyelundupkan 24 senjata ke dalam hotel dan ribuan amunisi di dalam 10 koper, untuk "merencanakan dengan cermat" serangan itu, jelas polisi.

Tetapi Paddock kemungkinan telah bepergian ke lokasi lain, termasuk festival musik Life is Beautiful, yang digelar di Las Vegas pada akhir pekan sebelum serangan pada Minggu lalu.

Pria bersenjata itu menyewa unit mewah di Ogden, sebuah bangunan bertingkat yang menjulang ke tempat terbuka untuk menggelar konser yang menampilkan Muse, Lorde dan Chance the Rapper.

Media AS melaporkan bahwa tersangka mungkin mempertimbangkan untuk menyerang festival lain, termasuk Lollapalooza di Chicago, sebuah festival besar pada Agustus yang dihadiri ratusan ribu orang.

Dia juga memantau hotel di dekat Taman Fenway Boston dan Pusat Seni Boston, jelas komisioner polisi William Evans pada Jumat (06/09)/

Tidak ada indikasi dia bepergian ke kota lain, kata polisi.

Apakah dia berencana melarikan diri ?

Dalam keterangan pers Rabu (04/09) lalu, Sherif Joseph Lombardo mengatakan dia melihat bukti bahwa Paddock merencanakan untuk melarikan diri setelah serangan, tetapi menolak untuk mengelaborasinya. Paddock kemudian memilih untuk menembak dirinya sendiri ketika polisi mengrebek kamarnya.

Adam Lankford, seorang kriminolog dan peneliti Universitas Alabama yang melacak penembakkan global, mengatakan pada BBC bahwa dia yakin semua bukti dari rencana melarikan diri mungkin merupakan sebuah fantasi.

Dia merujuk pada Eric Harris dan Dylan Klebold, dua remaja bersenjata yang menewaskan 12 murid dan seorang guru di sekolah menengah Colorado sebelum menembak diri mereka pada 1999, yang memiliki fantasi untuk melakukan serangan kedua.

Harris menuliskan rencananya secara rinci pada sebuah jurnal dan menunjukkan bahwa dua remaja ini akan membajak sebuah pesawat dan menjatuhkannya ke Kota New York jika mereka selamat dalam penembakan di sekolah itu - sebuah fantasi pelarian, kata Lankford.

Hak atas foto CBS NEWS
Image caption Stephen Paddock disebutkan tidak memiliki hubungan dengan kelompok politik ataupun agama.

Lankford juga mengatakan ruang bawah tanah yang dibangun Paddock di kamar hotel, yang dilengkapi dengan kamera pengawas untuk melihat setiap orang yang mendekati lokasinya.

"Anda memasang kamera jadi Anda tidak akan tertangkap dalam keadaan hidup," kata Lankford.

Paddock juga memiliki lebih dari 22 kilogram bahan peledak, 1.600 amunisi dan bubuk, yang dapat digunakan untuk membuat ledakan, yang dapat dianggap sebagai sebuah rencana untuk melarikan diri.

Tetapi dia juga membeli sebuah tiket pesawat ke Filipina untuk pacarnya dan mengirim uang RP 1,3 miliar sebelum melakukan penembakkan, yang dianggap seorang ahli sebagai upaya untuk memastikan kekasihnya yang merupakan keturunan Filipina itu terjamin setelah kematiannya.

Apa ada orang lain yang terlibat?

Polisi telah meminta keterangan kekasih Paddock, Marilou Danley, yang telah bekerja sama dengan polisi setelah kembali dari negara asalnya Filipina pada awal pekan ini.

Danley, 62 tahun, mengatakan dia tidak mengetahui mengenai rencana Paddock, dan menanggap transfer uang itu sebagai tanda untuk mengakhiri hubungan mereka.

Eric Paddock, saudara laki-laki tersangka, mengatakan pada wartawan bahwa saudaranya itu tidak memiliki hubungan dengan kelompok politik ataupun agama.

Sherif Lombardo sebelumnya memperkirakan bahwa penyelidik telah membuka kemungkinan bahwa orang lain terlibat dalam serangan tersebut.

Ketika ditanya apakan dia memiliki kaku tangan, Lombardo mengatakan bahwa dia memiliki "asumsi bahwa dia mendapatkan pertolongan seseorang".

Topik terkait

Berita terkait