Raqqa, 'ibu kota' ISIS, jatuh setelah pertempuran selama beberapa bulan

Raqqa Hak atas foto AFP
Image caption Kota Raqqa jatuh ke tangan tentara Arab dan Kurdi (SDF) dukungan AS namun diperkirakan masih ada ratusan milisi ISIS yang bertahan.

Bendera kekuatan anti-ISIS dikibarkan di Raqqa, Suriah, hari Selasa (17/10), setelah kekuatan yang didukung militer Amerika Serikat merebut kota tersebut, menyusul pertempuran sengit selama berbulan-bulan.

Tentara Kurdi dan Arab yang juga dikenal dengan sebutan Syrian Democratic Forces (SDF) mengatakan mereka sekarang sepenuhnya menguasai Raqqa.

"(ISIS) sudah habis ... tentara kami sudah sepenuhnya menguasai Raqqa," kata Talal Sello, juru bicara SDF kepada kantor berita AFP, Selasa petang waktu setempat.

"Operasi militer (SDF) di Raqqa sudah dinyatakan selesai, namun kami masih melakukan operasi untuk menemukan sel-sel (milisi ISIS) dan mengangkat ranjau," imbuhnya.

Ia mengatakan pernyataan resmi dikuasainya Raqqa akan diumumkan secepatnya.

Namun pejabat militer Amerika memperingatkan masih ada ratusan milisi ISIS di kota tersebut dan mereka masih bisa memberikan perlawanan.

Tantangan lain yang dihadapi adalah membersihkan bom-bom rakitran yang ditanam di sekitar Raqqa.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) menjadikan Raqqa sebagai 'ibu kota kekhalifahan' setelah menguasai kota ini pada awal 2014.

Hak atas foto Reuters
Image caption Lebih dari 270.000 warga Raqqa mengungsi untuk menghindari kekerasan dan pertempuran sejak April 2017.

ISIS menerapkan syariat Islam, di antaranya memberlakukan hukum pancung bagi orang-orang yang dinyatakan melanggar hukum.

Raqqa juga menjadi tempat bermukim baru bagi ribuan warga dari berbagai negara yang memenuhi panggilan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.

Penyelidik kejahatan perang PBB mengatakan 'kerugian yang dialami warga sipil di Raqqa sangat besar'.

PBB pekan lalu mengatakan sekitar 8.000 orang terperangkap di Raqqa dan hampir 270.000 orang terpaksa mengungsi sejak April.

Pemantauan Hak Asasi Manusia Suriah, organisasi HAM yang berkantor di Inggris, mengatakan setidaknya 3.250 orang tewas di Raqqa dalam lima bulan terakhir, 1.130 di antaranya adalah warga sipil.

Ratusan masih dinyatakan hilang dan mereka mungkin saja tertimbun reruntuhan bangunan.

Berita terkait