Penyelesaian diplomatik, tegas Menhan AS, tujuan Washington di Korea

Mattis, Korea Selatan, Panmunjom Hak atas foto AFP
Image caption Menteri Pertahanan Jim Mattis (tengah) juga mengunjungi Zona Demiliterisasi di Panmunjom, sekitar 50km dari ibu kota Seoul.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Jim Mattis, dalam lawatan ke Korea Selatan menegaskan Washington tetap berkomitmen pada penyelesaian diplomatik di Semenanjung Korea.

Ketegangan meningkat di kawasan itu setelah uji coba rudal dan nuklir Korea Utara yang disusul dengan saling komentar pedas antara Presiden Donald Trump dan Presiden Kim Jong-un.

Presiden Trump juga dilaporkan berbeda pendapat dengan Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson, dengan menulis pesan di Twitter bahwa Tillerson 'membuang-buang waktu' karena berupaya berunding dengan pemerintah Pyongyang.

Saat berkunjung ke Zona Demiliterisasi di perbatasan Korea Utara dan Selatan, Mattis kembali mengecam Korea Utara yang mengupayakan senjata nuklir namun menegaskan bahwa tujuan AS bukan perang.

"Seperti yang sudah dijelaskan Menteri Luar Negeri Tillerson, tujuan kami bukan perang namun lebih pada denuklirisasi yang utuh, terbukti, dan tidak terulang lagi di Semenanjung Korea," tutur Mattis saat berada di Panmunjom, sekitar 50 km di barat laut ibu kota Seoul.

Dari Panmunjom, Mattis kemudian bertemu dengan Presiden Korea Selatan Song Young-Moo, yang menurutnya menegaskan kembali komitmen bersama untuk penyelesaian diplomatik dalam menghadapi perilaku Korea yang 'gegabah dan melanggar hukum'.

Hak atas foto AFP
Image caption Presiden Donald Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong-un, terlibat perang kata-kata menyusul rangkaian uji coba nuklir dan rudal Korut.

Kunjungan Mattis ini menjadi semacam pengantar untuk lawatan Presiden Donald Trump ke Korea Selatan yang direncanakan pada 7 hingga 8 November mendatang.

Banyak yang menanti pesan yang akan disampaikan Trump dalam kunjungan tersebut mengingat selama ini dia terlibat perang kata-kata secara terbuka dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Hak atas foto KCNA
Image caption Kantor berita resmi Korut, KCNA, menyebarkan foto Kim Jong-un merayakan uji coba rudal pada 5 Juli 2017 lalu.

Pyongyang menggelar uji coba nuklirnya yang keenam pada September lalu dan meluncurkan beberapa rudal yang diperkirakan bisa mencapai daratan Amerika Serikat, yang mereka sebut sebagai 'musuh imperialis'.

Walau dikecam dunia internasional -yang menjatuhkan sanksi tambahan- pemerintah Pyongyang tetap belum menyatakan akan menghentikan program senjata nuklirnya.

Presiden Trump antara lain menanggapinya dengan mengatakan 'semua pilihan tersedia di atas meja' dan pemerintah Korea Utara tidak akan bertahan lama jika terus mengeluarkan ancaman.

Sementara Pyongyang berpendapat bahwa komentar 'pemerintah Korut tidak akan bertahan lama' tersebut merupakan pernyataan perang dari Amerika Serikat sehingga mereka bisa menembak jatuh pesawat-pesawat tempur AS walau berada di luar udara Korut.

Berita terkait