Mengapa Paus Fransiskus memilih tak gunakan kata Rohingya saat di Myanmar

Paus Fransiskus, Bangladesh, Rohingya, Hak atas foto AFP
Image caption Dalam kunjungan ke Bangladesh -setelah menyelesaikan lawatan ke Myanmar- Paus Fransiskus bertemu dengan sekelompok pengungsi Rohingya.

Paus Fransiskus membela keputusannya untuk tidak menyebut 'Rohingya' dalam kunjungannya ke Myanmar baru-baru ini, yang dikritik para pegiat hak asasi manusia.

Kepada wartawan dalam perjalanan pulang ke Roma dari Bangladesh -tujannya setelah lawatan di Myanmar- Paus mengatakan 'pintu akan tertutup' jika dia menyebut Rohingya untuk merujuk pada komunitas Muslim yang mengungsi ke Bangladesh karena mengalami kekerasan di Myanmar.

"Jadi saya melihat, jika saya menggunakan kata (Rohingya) itu dalam pidato saya, pintu akan tertutup."

"Namun saya mengangkat situasinya, hak-hak, dan masalah kewarganegaraan dan tak ada yang seharusnya disisihkan, sehingga saya bisa meneruskan lebih lanjut dalam pertemuan pribadi saya," tambah Paus.

Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa dia amat puas dengan pembicaraan yang bisa dilakukannya.

Sebelum kunjungan ke Myanmar, Senin (27/11), Paus pernah menggunakan rujukan 'saudara pria dan perempuan Rohingya kita' saat mengecam kekerasan atas mereka.

Hak atas foto Reuters
Image caption Paus Fransiskus menjelaskan keputusan tidak menyebut 'Rohingya' selama di Myanmar dalam perjalanan pulang ke Roma.

Namun Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, meminta agar Paus selama di Myanmar -antara lain bertemu dengan pemimpin militer dan Aung San Suu Kyi serta umat Katolik Myanmar- tidak menggunakan istilah itu demi mencegah kemarahan warga setempat.

Pemerintah Myanmar merujuk kepada umat Muslim Rohingya sebagai orang Bengali yang dianggap masuk secara gelap dari Bangladesh sehingga tidak mendapat kewarganegaraan Myanmar.

Sekitar 600.000 orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus lalu karena menghadapi kekerasan dari kelompok nasionalis Budha dan juga aparat keamanan sementara kampung-kampung mereka dibakar.

Militer Myanmar menggelar operasi keamanan di negara bagian Rakhine -tempat tinggal mayoritas Rohingya- setelah menuduh kelompok militan Rohingya menyerang sejumlah pos polisi dan militer pada akhir Agustus.

Hak atas foto Reuters
Image caption Perwakilan pengungsi Rohingya di Bangladesh menunggu pertemuan dengan Paus, yang menyebut istilah 'Rohingya' ketika berada di Bangladesh.

Bagaimanapun Paus menyebut istilah Rohingya di Bangladesh -yang merupakan tujuannya setelah Myanmar- saat bertemu dengan sekelompok pengungsi tersebut di ibu kota Dhaka, Jumat (01/12).

Dan penyebutan Rohingya itu memicu sejumlah komentar di Myanmar, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

"Dia seperti bunglon yang warnanya berubah karena cuaca," tulis seorang pengguna Facebook yang bernama Aung Soe Lin.

Pengguna lainnya, Soe Soe, mengatakan, "Dia sebaiknya menjadi petugas penjual atau makelar saja dengan menggunakan kata-kata yang berbeda walaupun dia pemimpin agama."

"Dia seharusnya mengatakan hal yang sama jika dia mencintai kebenaran," tutur pengguna Facebook bernama Ye Linn Maung.

Namun keputusan Paus tidak menyebut Rohingya di Myanmar, walau mendapat tekanan dari pegiat hak asasi, dipuji oleh Maun Thway Chun, salah seorang tokoh kelompok beraliran nasionalis di negara itu.

"Itu artinya dia menghormati rakyat Myanmar. Dia juga tidak menggunakan kata itu beberapa kali di Bangladesh... saya kira hanya satu kali untuk menenangkan organisasi hak asasi manusia," kata Maun kepada kantor berita AFP.

Berita terkait