'Yerusalem ibu kota Israel': Di balik keputusan Donald Trump

US President Donald Trump delivers a statement on Jerusalem from the Diplomatic Reception Room of the White House in Washington, DC on December 6, 2017 Hak atas foto AFP
Image caption Donald Trump menyebut, presiden-presiden sebelumnya cuma menjadikan keijakan soal Yerusalem sebagai janji belaka.

Wartawan BBC Barbara Plett Usher mengulas sejumlah persoalan kunci terkait perubahan kebijakan AS tentang Yerusalem yang dilakukan Presiden Donald Trump.

Natal kelabu untuk Palestina

Kurang dari sebulan yang lalu, diplomat top Palestina di Washington mengatakan bahwa menurutnya Presiden Trump mungkin akan berhasil mewujudkan proses perdamaian Timur Tengah sesudah banyak presiden AS lain gagal.

Di setiap pertemuan Trump menegaskan bahwa dia akan 'memberikan hati dan jiwanya' kepada proses perdamaian ini, kata Husam Zomlot, perwakilan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington.

Itu sungguh tafsiran optimis pada proses yang sering berbatu dan berliku. Tapi cukup banyak langkah Trump yang memberi perasaan pada para politikus Palestina bahwa hubungan mereka dengan Gedung Putih sedang meningkat.

 

Hak atas foto EPA
Image caption Diplomat Palestina bermaksud mengadakan pesta Natal di Capitol Hill dengan para tamu yang mencakup para anggota kongres dan pejabat pemerintah.

Untuk terus membangun momentum, Zomlot bermaksud mengadakan pesta Natal di Capitol Hill dengan para tamu yang mencakup para anggota kongres dan pejabat pemerintah.

Rencananya, mereka akan melakukan siaran langsung perayaan Natal dari Bethlehem ke jantung politik Amerika.

Ketika didapat kabar tentang keputusan Trump mengenai Yerusalem, Zomlot pun membatalkan acara tersebut, dengan mengatakan bahwa acara itu tidak akan cocok, setelah pemerintah AS menyampaikan "pengumuman yang bertentangan dengan pesan perdamaian."

Tanpa strategi

Bahwa para tokoh Palestina, dan juga para pemimpin Arab, sebagian besar terkejut oleh pengumuman ini menandakan bahwa keputusan tersebut bukanlah bagian dari strategi Timur Tengah yang lebih luas.

Ada spekulasi bahwa Trump mencoba untuk mengguncang segalanya sebagai taktik untuk mempersiapkan dasar baru bagi perundingan damai.

Tapi banyak bukti lain yang menunjukkan bahwa dia sekadar berfokus pada janji kampanye kepada orang Yahudi Amerika pro Israel dan Kristen evangelis yang merupakan pendukung kuatnya.

Menurut beberapa laporan, Trump merasa frustrasi karena terus mendapat tentangan dari tim keamanan nasionalnya, yang berkumpul Senin lalu untuk membahas opsi untuk menunda pemindahan kedutaan.

Mekanisme penundaan itu berlangsung setiap enam bulan sesuai perundangan AS tahun 1995: apakah akan memindahkan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv atau mengabaikan keharusan pemindahan itu dengan dasar pertimbangan keamanan.

Pejabat AS mengatakan bahwa dia hanya setuju untuk menandatangani mekanisme pengabaian jika dilengkapi engan tekad untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan meluncurkan sebuah proses untuk memindahkan kedutaan.

"Sementara presiden-presiden sebelumnya telah menjadikan hal ini sebagai janji kampanye yang utama," kata Trump dengan penuh kemenangan dalam pidatonya, "Mereka gagal mewujudkannya. Hari ini, saya mewujudkannya."

Hak atas foto EPA
Image caption Mike Pence tersenyum di belakang Donald Trump yang memperlihatkan lembar keputusan tentang Yerusalem.

Urusan yang Kristiani 

Wajah Mike Pence yang berseri-seri di balik bahu Trump saat pengumuman tersebut mengungkapkan semuanya.

Wakil presiden adalah yang sangat berpengaruh dalam meyakinkan Trump untuk menindaklanjuti janji kampanyenya, dan ini menggambarkan kekuatan politik para evangelis Kristen garis keras yang sangat mendukung Israel.

Hal itu tak luput dari pengamatan legislator Palestina yang beragama Kristen, Hanan Ashrawi.

"Tuhan saya tidak memberitahu saya apa yang diberitahukan oleh Tuhan dia kepada (Donald Trump)," katanya dalam sebuah wawancara dengan BBC.

"Kami adalah orang Kristen yang asli," kata perempuan bekas juru runding Palestina itu.

"Kami adalah pemilik tanah itu, kami adalah rakyat yang telah berada di sini selama berabad-abad. Berani-beraninya mereka datang ke sini dan menyodorkan risalah injil dan posisi-posisi absolut begitu pada saya!"

Nah, Zomlot yang berusaha mencoba untuk memainkan kartu Kristen tersebut dengan resepsi di Capitol Hill bertemakan Betlehem, dan mengatakan motto "Yesus adalah hadiah dari Palestina" mungkin bisa membantu menerjemahkan pesan Palestina itu kepada umat Kristen Amerika.

Sebuah ujian untuk Timur Tengah yang baru

Pengumuman Trump itu sudah tentu memicu reaksi keras dari para sekutu Arab.

Yerusalem adalah tanah suci, bukan hanya ibukota yang diperebutkan, yang berarti bahwa para pemimpin Arab akan cenderung tidak melakukan pendekatan pragmatis mereka bisa terima jika menyangkut isu laindalam konflik Israel-Palestina.

Sebagai wali penjaga situs suci Islam, Yordania dan Arab Saudi telah memperingatkan bahwa langkah ini dapat memanaskan dunia Islam

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Apa yang membuat Yerusalem begitu penting.

Namun revolusi Arab telah mengalihkan prioritas dari perjuangan Palestina menjadi bagaimana menjegal Iran, terutama di kalangan negara-negara Teluk.

Untuk itu mereka membangun kerjasama intelijen yang diam-diam dengan Israel, dan membutuhkan dukungan Trump.

Jika para pemimpin Arab Teluk berbicara lantang tentang Yerusalem namun tidak melakukan tindakan apapun, ini akan menjadi bukti lebih lanjut tentang suatu Timur Tengah yang baru.

Solusi dua negara terancam?

Pada akhirnya pertanyaannya bukanlah apakah ibukota Israel adalah Yerusalem Barat, tapi apakah Yerusalem Timur yang diduduki Israel akan menjadi ibu kota negara Palestina.

Trump membuka kemungkinan dengan mengatakan bahwa pemerintahnya tidak mengambil sikap dalam status terakhir kota suci tersebut, "termasuk batas-batas spesifik kedaulatan Israel di Yerusalem, atau penyelesaian atas perbatasan-perbatasan yang disengketakan."

Hal itu sepertinya menyiratkan bahwa klaim Palestina atas Yerusalem Timur akan tetap menjadi topik dalam perundingan apapun.

Tapi dia tidak mengucapkannya secara terang-terangan, dia juga tidak mengatakan bahwa tujuan akhir dari semua ini adalah solusi dua negara.

Sebaliknya, dia mengatakan AS akan mendukung solusi semacam itu jika disetujui oleh kedua belah pihak. Itu bukanlah dukungan tegas yang diharapkan Palestina.

Pendeknya, dia tidak menawarkan apa pun pada Palestina, dan pidatonya merupakan ungkapan dukungan penuh pada Israel.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Para pengunjuk rasa di Tepi Barat meluapkan kemarahan.

Perdamaian akan menemukan jalan?

Trump berdalih, mengakui Yerusalem akan membuat proses perdamaian bergerak maju.

Tapi jauh lebih mungkin, dengan langkah ini dia telah menyabotase inisiatif perdamaiannya sendiri. Langkah ini hampir pasti akan memberi angin orang-orang Israel yang menentang berdirinya sebuah negara Palestina dan konsesi teritorial di Yerusalem.

Dan ini akan membuat Presiden Palestina Mahmoud Abbas lebih sulit lagi untuk maju ke meja perundingan.

Para pejabat pemerintah Trump mengindikasikan bahwa mereka akan terus mengupayakan rencana perdamaian dan menunggu debu mengendap. Rencana itu belum lagi siap, jadi orang-orang Palestina masih punya waktu untuk menolak proses tersebut untuk nanti mempertimbangkannya kembali.

Tapi Trump juga telah menarik AS ke dalam sengketa mengenai Yerusalem. Itu jelas bukanlah posisi yang nyaman bagi pihak yang menjadi mediator perdamaian.

Berita terkait