Trump tentang 'Yerusalem ibukota Israel: Apa risikonya bagi upaya anti-teror?

US aircraft carrier USS Dwight D. Eisenhower (CVN 69) in the Gulf Hak atas foto Getty Images
Image caption Armada kelima AS berpatroli di kawasan teluk, jadi pengimbang bagi Iran, namun apakah para sekutu AS di dunia Arab kini akan lebih waspada terhadap Washington?

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengumumkan pengakuan tentang Yerusalem sebagai ibu kota Israel memicu lebih dari sekadar kritik dari para sekutu Amerika.

Di Bahrain, pada konferensi keamanan tahunan Dialog Manama, menyeruak kecemasan yang hampir universal bahwa pengumuman tersebut justru akan merupakan hadiah bagi sejumlah pihak lawan kawasan itu: Iran dan sejumlah kelompok teror jihadis: al-Qaeda dan yang disebut Negara Islam (ISIS).

"Presiden telah menyalakan api dan membiarkan para sekutu Arab menghadapi kobarannya," kata Elisabeth Marteu, Konsultan Senior di Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS), Inggris.

Seorang mantan perwira Pasukan Khusus Inggris, yang meminta tak disebut identitasnya, menyebut pengumuman tersebut ibarat 'melemparkan granat tangan ke sebuah ruangan dengan pin yang sudah dilepas".

Secara resmi, para penguasa Teluk Arab selalu mendukung hak Palestina atas tanah air mereka. Palestina selalu menjadi sumber keprihatinan yang terus berlanjut di seluruh wilayah Timur Tengah dan merupakan subyek perjuangan pan-Islam dan pan-Islam yang populer.

Betapa pun, diam-diam, banyak anggota keluarga para penguasa yang berusia lanjut, tidak pernah sepenuhnya memaafkan Otoritas Palestina karena memihak Saddam Hussein dalam invasi diktator Irak itu ke Kuwait pada tahun 1990.

Segera setelah pembebasan Kuwait waktu itu, saya melihat sepotong grafiti di sebidang dinding Kota Kuwait yang berbunyi: "Yerusalem adalah rumah abadi bangsa Yahudi dan saya, yang menulis ini adalah seorang Kuwait."

Itu terjadi pada tahun 1991 dan sekarang banyak hal yang berbeda. Sebagian besar penduduk dunia Arab terlalu muda untuk mengingat, atau bahkan peduli, pada invasi tahun 1990, namun mereka peduli dengan Yerusalem.

 

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Mengapa Yerusalem begitu berarti?

Yerusalem adalah situs tersuci ketiga dalam Islam, setelah Mekah dan Madinah, dan merupakan tempat istimewa di hati banyak orang. Apa maknanya bagi kontra-terorisme? Perkembangan terbaru ini berarti dua risiko.

Yang pertama adalah risiko bahwa mereka yang mungkin tidak begitu suka terhadap Barat tapi tidak merencanakan untuk mengungkapkannya ke dalam tindakan kekerasan sekarang mungkin berpikir ulang.

Hediya Fathalla, pakar keamanan Teluk dan mantan pejabat pemerintah Bahrain, mengatakan kepada BBC: "Ada mentalitas jihad yang tidak aktif yang beranggapan, 'Saya tidak operasional tapi saya memiliki perasaan seorang jihadis.' Jadi akankah (perkembangan terbaru) ini mendorong mereka melompati pagar?"

Risiko kedua ada di sisi lain dari rumus ini, yaitu bahwa seseorang yang sebelumnya bekerja sama dengan badan-badan pemerintah AS sekarang mungkin kurang berminat lagi bekerja sama.

Mereka mungkin saja memiliki hubungan kerja yang baik dengan, misalnya, sejawat mereka di CIA atau NSA. Namun, di benak mereka. sekarang mungkin ada keraguan yang meluas mengenai apakah pemerintah AS yang telah bertindak seperti ini benar-benar tulus.

Bahkan di puncak hirarki sebuah negara, di Balairung Kerajaan Arab Saudi, pasti sekarang ada kekhawatiran terkait fakta bahwa Arab Saudi telah memilih untuk bekerja sangat dekat dengan Gedung Putih yang baru saja membangkitkan kemarahan besar dunia Arab.

Lalu ada Iran

Republik Islam ini terus menjadi seteru Arab Saudi ihwal pengaruh, kekuasaan dan prestise di Timur Tengah. Mereka telah lama mendukung milisi militan anti-Israel, Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Wilayah Palestina. Jangkauan Pasukan Garda Revolusioner mereka di luar negeri disebut "Lasykar al-Quds," yang berarti "Lasykar Yerusalem".

"Iran selalu menggunakan Yerusalem sebagai semacam narasi dalam mempengaruhi publik Arab, inilah yang membantu persekutuan mereka dengan Hamas ... jadi saya pikir (perkembangan baru) ini pasti akan permainan jatuh ke tangan Iran," kata Hediya Fathalla.

Hak atas foto Reuters
Image caption Hezbollah dan pemimpinnya, Hassan Nasrallah adalah kekuatan penting di Lebanon yang sangat anti Israel.

Dalam komentarnya di akhir pekan lalu di edisi online IISS Voices for the International Institute for Strategic Studies yang menyelenggarakan Dialog Manama, Elisabeth Marteu memiliki kecemasan yang sama, bahwa pengumuman Trump tentang Yerusalem tersebut akan menguntungkan kepentingan Iran.

"Hal ini akan menjadi dorongan besar bagi Teheran, yang sedang berusaha memperbaiki citranya setelah konflik Suriah dan Irak," tulisnya.

Seiring waktu, kerusakan hubungan AS dengan mitra-mitranya di Teluk Arab akan diperbaiki. Washington terlalu besar, terlalu kuat dan terlalu penting untuk diabaikan.

Armada Kelima AS yang berpatroli Teluk, memberikan kekuatan penyeimbang terhadap Iran, sementara persenjataan canggih AS merupakan peralatan utama negara-negara di kawasan itu.

Namun keputusan Presiden Trump untuk mengumumkan perubahan sikapnya tentang Yerusalem adalah sebuah peringatan bagi para penguasa di sini bahwa pemerintahan Gedung Putih ini masih bisa mempermalukan mereka.

Berita terkait