Presiden Rouhani :Rakyat Iran berhak mengkritik tetapi tidak menghancurkan

Iran Hak atas foto AFP
Image caption Bentrokan terjadi di sejumlah kota di Iran.

Masyarakat Iran bebas untuk memprotes pemerintah namun tidak membahayakan keamanan, kata Presiden Hassan Rouhani setelah demonstrasi berlangsung selama empat hari di negara tersebut.

Berbicara dalam rapat kabinet, Rouhani mengakui bahwa ada masalah yang harus diselesaikan tetapi memperingatkan bahwa kekerasan tidak akan ditoleransi.

Presiden Iran mengatakan bahwa warga Iran "sepenuhnya bebas untuk mengekspresikan kritik terhadap pemerintah dalam sebuah protes... sebagai cara yang dapat meningkatkan kondisi negara".

Dia mengakui adanya ketidakpuasan atas kondisi ekonomi, tidak adanya transparansi dan korupsi, namun dia mempertahankan kinerjanya.

Rouhani menambahkan menyampaikan kritik sangat berbeda dengan melakukan kekerasan atau menghancurkan properti publik.

Pembatasan "sementara" diberlakukan terhadap aplikasi Telegram dan Instagram untuk "menjaga ketenangan", seperti diberitakan kantor berita pemerintah Irib.

Dalam cuitan terbarunya mengenai masalah di Iran, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa "akhirnya semakin bijak terhadap bagaimana uang dan kekayaan mereka dicuri dan disia-siakan untuk terorisme".

Dalam pernyataan publik pertamanya, Rouhani mengkritik Trump.

"Pria di Amerika, yang sekarang berupaya untuk bersimpati terhadap bangsa kami, tampaknya lupa bahwa dia menyebut bangsa Iran sebagai teroris beberapa bulan lalu," kata Rouhani seperti diberitakan.

"Pria ini, yang merupakan musuh bangsa Iran dari ujung kepala sampai ujung kaku, tidak memiliki hak untuk bersimpati terhadap rakyat Iran," jelas dia.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Demonstrasi mengkritik kesulitan ekonomi dan kenaikan harga.

Demonstrasi berlanjut di sejumlah kota

Protes dalam beberapa hari terakhir ini merupakan yang terbesar sejak demonstrasi pada 2009 lalu.

Demonstrasi dimulai di bagian timur laut Iran, sebagai protes terhadap kesulitan ekonomi dan kenaikan harga, tetapi kemudian menyebar ke sejumlah kota lainnya. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan menentang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Rouhani dan kebijakan luar negeri Iran yang mengintervensi kawasan.

Bentrokan terjadi di sejumlah kota, dan Iran telah membatasi jaringan media sosial yang digunakan untuk mempersiapkan unjuk rasa.

Kekerasan terjadi di sejumlah tempat pada Sabtu (30/12), dan video yang diunggah secara online menunjukkan demonstasi berlanjut di lebih banyak kota pada Minggu (31/12).

Massa dengan jumlah yang sedikit berkumpul di ibukota Teheran dengan meneriakkan "kematian untuk diktator" dan polisi telah menggunakan water cannon untuk membubarkan para pemrotes- seperti dalam video yang diperoleh BBC Persia.

Topik terkait

Berita terkait