Benarkah Donald Trump punya tombol nuklir?

Donald Trump Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden Donald Trump mencuit bahwa dia punya tombol nuklir yang 'lebih besar' dan 'lebih kuat'.

Melalui Twitter, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, bahwa dia punya tombol nuklir yang 'lebih besar' dan 'lebih kuat'. Namun, benarkah klaim itu?

Kenyataannya menembakkan senjata nuklir lebih rumit ketimbang menekan tombol pengendali jarak jauh untuk memindah saluran televisi.

'Tombol nuklir' sendiri hanyalah sebuah ungkapan dan Donald Trump sejatinya tidak punya 'tombol nuklir'.

Anehnya, untuk menembakkan senjata nuklir, Trump harus menggunakan biskuit dan bola sepak.

Apa yang Trump miliki untuk menembakkan senjata nuklir?

Pada 20 Januari 2017, bersama Barack Obama, seorang ajudan militer membawa sebuah koper kulit menuju upacara pelantikan Donald Trump.

Sesaat setelah Trump mengucapkan sumpah sebagai presiden AS, ajudan itu beralih ke sisi Trump sembari tetap menenteng koper tersebut.

Koper itu dikenal dengan sebutan 'bola sepak nuklir' alias perangkat penembakan senjata nuklir. Karena sangat sensitif, koper itu terus melekat di sisi presiden AS.

Pada Agustus tahun lalu, seorang pakar mengungkap kepada CNN bahwa ketika Trump bermain golf, 'bola sepak' itu turut bersamanya di sebuah mobil golf.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang marinir AS membawa koper yang dijuluki 'bola sepak nuklir' ke dalam helikopter.

Apa isi 'bola sepak nuklir'?

Kalaupun khalayak bisa mengintip isi koper 'bola sepak nuklir', mereka akan kecewa.

Tiada tombol di dalam perangkat tersebut dan tiada jam yang berdetak.

Yang ada hanyalah perangkat komunikasi dan buku berisi rencana perang.

Rencana perang itu disusun untuk membantu menghasilkan keputusan secara cepat.

Pada 1980, Bill Guley yang saat itu menjabat direktur Kantor Keamanan Gedung Putih, mengatakan opsi penembakan balasan mencakup "mentah, setengah matang, atau matang".

Lalu apa yang dimaksud dengan biskuit?

'Biskuit' merujuk pada sebutan secarik kartu berisi kode yang semestinya dibawa oleh presiden setiap saat.

Biskuit terpisah dengan bola sepak. Jika presiden memerintahkan penembakan senjata nuklir, dia akan menggunakan kode untuk memastikan identitas dirinya kepada militer.

Setelah menjabat sebagai presiden, ABC News bertanya kepada Trump apa rasanya menerima 'biskuit'?

"Saat mereka menjelaskan apa maknanya, dan jenis kehancuran yang bisa ditimbulkan, itu merupakan momen yang sangat membuka mata," ujarnya.

"Sangat, sangat menakutkan," tambah Trump.

Mantan penasihat militer Bill Clinton, Robert "Buzz" Patterson, mengatakan eks-bosnya itu sempat kehilangan kode tersebut saat menjabat presiden.

Patterson mengatakan Clinton biasanya menaruh 'biskuit' di dalam kantong celananya, bersama dengan kartu kredit dan karet gelang.

Ketika skandal Monica Lewinsky terungkap, Clinton mengaku dia belum melihat 'biskuit' selama beberapa waktu, kata Patterson.

Pejabat tinggi militer AS, Jenderal Hugh Shelton, bahkan mengklaim Clinton kehilangan 'biskuit' selama "berbulan-bulan".

Hak atas foto Reuters
Image caption Koper perangkat dan kode penembakan senjata nuklir atau yang disebut sebagai 'bola sepak' dan 'biskuit'.

Bagaimana mekanisme peluncuran senjata nuklir?

Hanya presiden yang bisa meluncurkan serangan senjata nuklir.

Begitu dia memastikan identitasnya, dia memberikan perintah bersiap kepada Kepala Staf Gabungan—perwira tertinggi kedua dalam tubuh militer AS setelah presiden.

Perintah kemudian diteruskan ke Markas Komando Stratregis AS di Pangkalan Udara Offutt, Negara Bagian Nebraska.

Pangkalan itu kemudian meneruskannya lagi ke 'tim lapangan' yang bisa berada di daratan, laut atau bawah laut.

Instruksi peluncuran dikemukakan menggunakan serangkaian kode yang harus sesuai dengan kode tim peluncuran—yang disimpan secara aman.

Bisakah perintah presiden ditolak?

Presiden adalah panglima tertinggi di tubuh militer AS. Dengan kata lain, apa yang dititahkannya merupakan perintah.

Namun, kemungkinan ada celah untuk menolak perintah tersebut.

Pada November 2017, untuk pertama kali dalam 40 tahun, Kongres meninjau kewenangan presiden untuk meluncurkan serangan nuklir.

Salah seorang pakar yang dihadirkan adalah C Robert Kehler, komandan Komando Strategis AS pada kurun 2011-2013.

Kepada Kongres, dia mengatakan bakal mengikuti perintah presiden untuk melancarkan serangan nuklir—tapi hanya jika perintah itu sah secara hukum.

Dalam kondisi-kondisi tertentu, menurutnya, "Saya akan mengatakan 'Saya tidak siap melanjutkan'."

Lalu seorang senator bertanya: "Lalu apa yang akan terjadi setelah itu?" Kehler membalas, "Saya tidak tahu."

Para anggota Kongres AS lantas tertawa beramai-ramai.

Berita terkait