Sempat lawan Houthi, separatis Yaman berontak dan ‘hampir kuasai’ Kota Aden

yaman Hak atas foto AFP
Image caption Milisi kubu separatis berpatroli di jalan-jalan utama Kota Aden, pada Selasa (30/01).

Kubu separatis Yaman disebut hampir sepenuhnya menguasai Kota Aden setelah beberapa hari bertempur melawan pasukan pemerintah. Padahal kedua kubu awalnya merupakan sekutu menghadapi pemberontak Houthi.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata, kubu separatis dilaporkan telah merebut kawasan kekuasaan pasukan pengawal presiden di Distrik Dar Saad, bagian utara Aden.

Dari sana, mereka bergerak menuju Istana Kepresidenan—tempat Perdana Menteri Ahmed bin Daghar dan sejumlah anggota kabinetnya berlindung.

Sumber-sumber kubu separatis mengaku kepada kantor berita Reuters bahwa perundingan tengah berlangsung agar perdana menteri bisa meninggalkan kota dengan aman, namun sumber pemerintah menegaskan yang bersangkutan sama sekali tidak berniat pergi.

Bagaimana pertempuran bermula?

Pertempuran dimulai pada Minggu (28/01), setelah tenggat perombakan kabinet yang ditetapkan Dewan Transisi Selatan (STC) berakhir. STC menuntut agar seluruh anggota kabinet diganti, termasuk PM Ahmed bin Daghar.

Kelompok tersebut menuding pemerintah melakukan "korupsi besar-besaran" sehingga menyebabkan "memburuknya ekonomi, keamanan, dan situasi sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah (Yaman) selatan".

STC kemudian melancarkan serangan, yang melibatkan tank dan artileri berat, ke Distrik Khor Maksar di bagian timur yang terdapat bandara. Pertempuran kemudian merembet ke Distrik Crater di bagan selatan dekat istana kepresidenan.

Selama beberapa hari bertempur, kubu separatis menguasai kantor-kantor pemerintah dan sejumlah pangkalan militer. PM Ahmed bin Daghar menyebut STC melancarkan "kudeta".

Sementara itu, Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi yang kini berada di Riyadh telah memerintahkan militer untuk mengamankan Aden.

Sejak Minggu, Palang Merah mencatat terdapat 40 korban tewas.

Hak atas foto Reuters
Image caption Sejak pemberontak Houthi menyerbu Sana'a pada 2015, Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi terpaksa memindahkan ibu kota ke Aden.

Upaya apa yang telah dilakukan untuk mengakhiri pertempuran?

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi mendesak kedua pihak untuk mengakhiri ketegangan, pada Selasa (30/01).

"Koalisi akan menempuh segala cara yang dipandang patut dilakukan untuk memulihkan stabilitas dan keamanan di Aden," sebut pernyataan itu.

Amerika Serikat, yang mendukung upaya koalisi dalam memerangi pemberontak Houthi, mengutarakan keprihatinan dan menyerukan "dialog di antara semua pihak di Aden untuk mencapai solusi politik".

"Rakyat Yaman kini menghadapi krisis kemanusiaan yang parah. Perpecahan dan kekerasan di dalam Yaman hanya akan menambah penderitaan mereka," sambung pernyataan AS.

Koordinator kemanusiaan PBB di Yaman, Stephen Anderson, mengungkap bahwa aksi kekerasan berdampak buruk pada layanan kemanusiaan di bagian selatan Yaman.

"Pergerakan layanan kemanusiaan di dalam kota telah dihentikan dan pekerja kemanusiaan terjebak di dalam rumah mereka, tidak bisa meneruskan kegiatan menyelamatkan nyawa kritis," ujarnya.

Hak atas foto EPA
Image caption Kubu separatis selatan menuntut agar seluruh anggota kabinet diganti, termasuk PM Ahmed bin Daghar.

Mengapa STC dan pemerintah bertempur?

Sejak pemberontak Houthi menyerbu Sana'a pada 2015, Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi terpaksa memindahkan ibu kota ke Aden.

Guna mencegah Houthi menguasai Aden dan mengusir sepenuhnya dari bagian selatan, Presiden Hadi menjalin persekutuan dengan STC. Namun, aliansi itu tidak sepenuhnya rekat.

Sebelum konflik dengan Houthi dimulai, gerakan separatisme di bagian selatan telah berlangsung meskipun Yaman Utara dan Yaman Selatan memutuskan untuk membentuk Yaman bersatu pada 1990.

STC juga menaruh curiga pada Presiden Hadi—figur asal selatan tapi mendukung persatuan dengan utara.

Dalam kondisi seperti itu, militer Yaman tetap menggandeng kubu separatis selatan.

Setelah kubu pemberontak Houthi melancarkan serangan, situasinya semakin dirumitkan oleh faksi-faksi di dalam koalisi pimpinan Arab Saudi.

Arab Saudi mendukung Presiden Hadi yang kini berada di Riyadh. Sedangkan Uni Emirat Arab, yang merupakan salah satu mitra penting dalam koalisi, terkait erat dengan kubu separatis di Yaman selatan.

Berita terkait