Tajikistan keluarkan aturan busana kaum perempuan, antara lain melarang hijab

Aturan berpakaian Hak atas foto TAJIK CULTURE MINISTRY/ASIA-PLUS
Image caption Kementerian Kebudayaan merekomendasikan pakaian tradisional Tajik, dan menyarankan untuk tidak mengenakan pakaian yang kebarat-baratan atau bergaya Islami.

Pemerintah Tajikistan menerbitkan sebuah buku yang berisi panduan bagi perempuan tentang pakaian apa yang seharusnya - dan yang tidak semestinya - mereka kenakan.

"Buku Rekomendasi" ini diterbitkan oleh Kementerian Kebudayaan, dan diisi dengan foto-foto model yang mengenakan pakaian yang pantas untuk "kalangan perempuan dari umur tujuh hingga tujuh puluh tahun", demikian laporan situs berita Asia-Plus.

Dalam buku tersebut ada bab yang menganjurkan pakaian apa yang harus dikenakan perempuan di tempat kerja, hari libur nasional, untuk pernikahan, dan bahkan untuk berakhir pekan.

Lalu dalam buku tersebut dibahas juga tentang pakaian yang tidak boleh dikenakan oleh perempuan Tajik.

Mereka menganjurkan para perempuan untuk tidak mengenakan gaun hitam, kerudung dan jilbab, sebagai bagian dari kampanye menentang busana Muslim, yang masih disenangi sebagian kalangan meskipun dikecam Presiden Emomali Rahmon.

Hak atas foto TAJIK CULTURE MINISTRY/ASIA-PLUS
Image caption Ini adalah pakaian yang pantas dikenakan para perempuan untuk pergi ke kantor menurut Kementerian Kebudayaan.

Betapa pun, mereka juga melarang perempuan mengenakan busana yang dianggap terlalu kebarat-baratan, seperti pakaian terbuka dan rok mini, gaun yang memperlihatkan belahan dada dan bagian punggung.

"Juga tidak dianjurkan untuk memakai sandal jepit atau sandal karet di tempat-tempat umum, atau mengenakan celana ketat atau pakaian sintetis yang berbahaya bagi kesehatan," tulis situs itu.

Mayoritas penduduk di negara bekas pecahan Uni Soviet adalah Muslim, tetapi pemerintahannya berusaha untuk menegaskan budaya yang lebih sekuler namun tetap menjaga tradisi.

'Sangat bagus, jika mampu membelinya'

Reaksi media sosial terhadap buku baru ini tak terlalu positif.

Ada pengguna yang berkomentar dan memuji buku itu "bagus", namun sebagian mengeluhkan mahalnya harga-harga baju nasional yang ditunjukkan dalam buku tersebut.

"Biarlah para pejabat Kementerian Kebudayaan membelikan pakaian untuk kami," kata mereka.

Hak atas foto TAJIK CULTURE MINISTRY/ASIA-PLUS
Image caption Sebagian busana ala Barat boleh dikenakan saat akhir pekan, kata buku tersebut.

Sementara pengguna lainnya menuding para pejabat ingin mengubah negara itu menjadi Korea Utara.

"Kementerian Kebudayaan seharusnya menangani masalah lain dan tidak menciptakan jenis omong kosong begini."

Ada pula pengguna media sosial yang menggarisbawahi larangan terhadap "pakaian ketat yang menonjolkan beberapa bagian tubuh", dengan menanyakan "bagian tubuh yang mana? Apakah itu termasuk benjolan di otak mereka?"

Topik terkait

Berita terkait