Mahasiswa Kanada mengaku menembak mati jemaah di masjid

Alexandre Bissonnette Hak atas foto Facebook
Image caption Sosok dalam foto yang disebarkan oleh media Kanada ini disebut sebagai Alexandre Bissonnette.

Seorang warga Kanada, Alexandre Bissonnette, akhirnya mengaku bersalah menembak mati enam jemaah di masjid di Kota Quebec pada Januari 2017.

Bissonnette, 28, sebelumnya menolak seluruh dakwaan tetapi kemudian mengaku bersalah setelah menjalani pemeriksaan psikiatrik sesuai dengan perintah pengadilan.

Ia menghadapi enam dakwaan pembunuhan tingkat pertama dan enam usaha pembunuhan. Enam dakwaan percobaan pembunuhan itu merupakan dakwaan tambahan yang juga mencakup percobaan pembunuhan.

Dalam sidang hari Senin (26/03), ia mengaku tidak bersalah, tetapi pada Rabu (28/03) mantan mahasiswa tersebut mengubah pendiriannya.

Ia mengaku membunuh Khaled Belkacemi, 60, Azzedine Soufiane, 57, Abdelkrim Hassane, 41, Mamadou Tanou Barry, 42, Aboubaker Thabti, 44, dan Ibrahima Barry, 39, dalam serangan yang dilancarkan pada suatu Minggu malam.

Hak atas foto Reuters
Image caption Alexandre Bissonnette dipandu oleh seorang petugas ketika dihadirkan di pengadilan pada Februari 2017.

Lima orang lainnya mengalami luka serius, termasuk Aymen Derbali, yang kini lumpuh.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 29 Jantuari 2017 ketika ia menyerbu Pusat Kebudayaan Islam Quebec dan menembak para jemaah yang berada di sana untuk melakukan salat Isya.

Pandangan ekstrem

Jaksa penuntut tidak mengenakan dakwaan terorisme, meskipun semula kepolisian menyebut peristiwa itu sebagai serangan teroris dan Perdana Menteri Justin Trudeau juga menyebut insiden tersebut sebagai serangan teroris.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Berbagai ucapan duka mengalir di depan masjid yang diserang di Quebec.

Sebelum kejadian, Bissonnette menyewa apartemen bersama saudara kembarnya di dekat masjid, sebagaimana dilaporkan CBC.

Ia tercatat sebagai mahasiswa ilmu politik dan antropologi di Universitas Laval, dan para dosen mengatakan ia adalah seorang yang sopan.

Namun beberapa orang mengatakan Alexandre Bissonnette kerap mengutarakan pandangan-pandangan ekstrem sebelum ia melancarkan serangan.

Teman sesama kuliahnya, Vincent Boissoneault, kepada media Globe dan Mail mengatakan bahwa ketika politikus kanan jauh dari Prancis, Marine Le Pen, mengunjungi Quebec, Bissonnette menyampaikan pandangannya yang ekstrem lewat online sebagai bentuk dukungan kepada Le Pen.

Topik terkait

Berita terkait