Benarkah Rusia memasok senjata ke Taliban? Sejumlah hal yang perlu diketahui

Pasukan keamanan Afghanistan Hak atas foto WAKIL KOHSAR/AFP/Getty Images
Image caption Pasukan keamanan Afghanistan mengamankan lokasi ledakan bom mobil di Kabul, Januari lalu, yang menurut pemerintah menewaskan sedikitnya 17 orang. Pemerintah menyalahkan Taliban atas serangan ini.

Amerika Serikat menuduh Rusia berusaha mendestabilisasi Afghanistan dengan mendukung Taliban. Beberapa pejabat tinggi AS mengatakan bahwa Moskow bahkan memasok senjata kepada para militan tersebut.

Rusia dan Taliban, yang dalam sejarahnya justrusaling bermusuhan, menyangkal tuduhan tersebut. Tudingan ini muncul di tengah apa yang disebut beberapa pengamat sebagai "Perang Dingin baru" -jadi seberapa benarkah tudingan AS?

Apa persisnya tuduhan AS itu?

Dalam wawancara dengan BBC pada akhir Maret, komandan tentara AS di Afghanistan Jenderal John Nicholson melontarkan dugaan bahwa senjata dari Rusia diselundupkan lewat perbatasan Tajik ke Taliban.

Ia menuduh Rusia membesar-besarkan jumlah petarung ISIS di Afghanistan "untuk melegitimasi tindakan Taliban dan memberikan dukungan kepada Taliban".

"Ada senjata yang dibawa ke markas kami dan diberikan oleh para pemimpin Afghanistan dan [mereka] berkata, senjata itu diberikan oleh Rusia kepada Taliban," ujarnya.

Beberapa polisi Afghanistan dan petugas militer mengatakan kepada BBC bahwa peralatan militer dari Rusia meliputi kacamata penglihatan-malam, senapan mesin kaliber berat dan menengah, dan senjata ringan.

Siapa yang sepaham?

Beberapa pejabat AS telah menuduh Moskow mendukung Taliban sejak lebih dari setahun. Pada Desember 2016, Jenderal Nicholson mengkritik Rusia dan Iran menjalin hubungan dengan Taliban dan "melegitimasi" kelompok tersebut.

Sejak itu sejumlah pejabat tinggi AS, sebagian besar militer, melontarkan tuduhan serupa, beberapa berpendapat bahwa Rusia juga mempersenjatai Taliban.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Jenderal John Nicholson menuduh Rusia dan Iran "melegitimasi" Taliban.

Tapi sejumlah pejabat AS dan Nato lebih berhati-hati.

Dalam kesaksian di sidang dengar Senat, Mei 2017, Direktur Badan Intelijen Pertahanan AS Letjen Vincent R. Stewart berkata: "Saya belum melihat bukti fisik yang nyata terkait pengiriman senjata atau uang."

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata di DPR pada Oktober 2017 bahwa ia ingin melihat lebih banyak bukti tentang sejauh mana dukungan Rusia terhadap Taliban. Ia menambahkan bahwa yang ia lihat sejauh ini "tidak masuk akal".

Sekretaris Jenderal Nato Jens Stoltenberg mengatakan kepada media, pada Juli 2017, bahwa "kami belum melihat bukti apapun, informasi apapun yang pasti tentang dukungan seperti itu".

Sebagai salah satu pihak yang disebut terlibat, Tajikistan menyangkal tudingan menyalurkan senjata Rusia ke Taliban, dan menyebut klaim Jenderal Nicholson "tak berdasar".

Apa pandangan para pejabat Afghan?

Otorita Afghanistan juga memberikan pernyataan yang bertentangan.

Hanya sedikit pejabat provinsi yang secara eksplisit menuduh tentara Moskow mendukung Taliban. Tapi juru bicara pejabat tertinggi eksekutif Afghanistan berkata pada Mei 2017 bahwa tidak ada bukti.

Oktober lalu, Presiden Ashraf Ghani terang-terangan mencela Taliban karena menerima senjata Rusia.

Akan tetapi menteri pertahanannya berkata di bulan berikutnya bahwa laporan tersebut hanya "rumor" dan "kami tidak punya bukti".

Apa kata Rusia dan Taliban?

Moskow dan Taliban membantah klaim AS bahwa mereka bekerja sama. Mereka secara terpisah membantah komentar Jenderal Nicholson kepada BBC, berkata sang jenderal tidak punya bukti.

Hak atas foto EPA
Image caption Presiden Afganistan Ashraf Ghani mengklaim Rusia mempersenjatai Taliban.

Duta besar Rusia di Kabul dan menteri luar negeri di Moskow mengabaikan klaim tersebut, menyebutnya "tak berdasar" dan "gosip ngawur".

Juru bicara Taliban mengatakan mereka belum pernah "menerima bantuan militer dari negara manapun".

Moskow telah berulang kali menuduh AS dan Nato berusaha menyalahkan Rusia atas "kegagalan" mereka dan memperburuk situasi keamanan di Afghanistan.

Pejabat dan politikus Rusia bahkan menyindir kalau AS dan Nato mendukung ISIS di Afghanistan; tuduhan yang dibantah keras oleh AS dan dipandang tidak mungkin oleh banyak pengamat.

Apakah Rusia dan Taliban mengakui adanya kaitan?

Rusia membantah telah memberi dukungan materiil kepada kelompok pemberontak tapi mengakui "kontak" dengan Taliban.

Menurut beberapa sumber dari Taliban, saluran komunikasi antara Moskow dan Taliban dibuka hampir satu dekade lalu, menyusul diturunkannya Taliban dari kekuasaan oleh AS pada 2001.

Tapi hubungan antara Moskow dan Taliban telah cukup membaik selama tiga tahun ke belakang, khususnya sejak pendirian kelompok yang menyebut diri mereka "ISIS Khorasan" di Afghanistan pada Januari 2015.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Pasukan Tentara Merah pada Februari 1989 dalam penarikan Tentara Soviet dari Perang Afganistan.

Sumber dari Taliban mengkonfirmasi bahwa perwakilan mereka pernah menemui pejabat Rusia di Rusia dan negara "lain" beberapa kali.

Sebagai bagian dari "hubungan" baru ini, beberapa anggota Taliban mengharapkan senjata canggih dari Rusia yang bisa mengubah peperangan di Afghanistan sehingga berpihak kepada mereka -misalnya senapan dan rudal anti-pesawat terbang yang bisa menantang kekuatan AS di udara; serupa dengan rudal Stinger yang diberikan AS kepada pasukan perlawanan Afghanistan pada perang Soviet-Afghan di tahun '80-an.

Sejauh ini harapan tersebut masih angan-angan bagi Taliban, terutama karena dua alasan -senjata seperti itu bisa dengan mudah dilacak ke sumbernya dan hubungan AS-Rusia tidak cukup buruk untuk memungkinkan langkah sedrastis itu.

Apa yang didapatkan Taliban dari Rusia?

Bagi Taliban, dukungan moral dan politik dari kekuatan besar di kawasan lebih penting daripada senjata ringan yang menurut mereka banyak tersedia di Afghanistan, dan bisa dibeli di pasar gelap di daerah sekitarnya.

Jangkauan diplomatik Taliban juga meliputi menjalin hubungan dengan Cina dan Iran.

Hak atas foto Reuters
Image caption Orang-orang yang diduga sebagai militan Taliban ditahan pasukan keamanan Afganistan di Jalalabad.

Ini merupakan dukungan moral dan telah memperkuat keyakinan Taliban akan "legitimasi" perjuangan mereka untuk mengusir tentara yang dipimpin AS dari Afghanistan.

Fakta bahwa Rusia dan Iran dituduh mendukung Taliban menantang narasi bahwa kelompok militan tersebut sepenuhnya bergantung pada Pakistan.

Dari musuh jadi teman?

Melunakkan pendekatannya terhadap Taliban di Afghanistan adalah perubahan yang dramatis dan tak disangka-sangka bagi Rusia.

Hampir semua anggota pendiri pergerakan Taliban adalah bagian dari mujahidin, yang berperang melawan pendudukan Soviet di Afghanistan pada tahun '80-an. Selama perang faksi yang menyusul kepergian Soviet, Rusia memberikan dukungan finansial dan militer kepada kelompok yang bertentangan dengan Taliban.

Tapi setelah invasi AS ke Afganistan menyusul serangan 9 September di AS, Taliban tampaknya melihat kesempatan untuk bekerja sama dengan Rusia.

Apa untungnya bagi Rusia?

Ada tiga alasan besar yang mendasari hubungan Rusia-Taliban.

Pertama-tama, pejabat Rusia mengatakan hubungan ini bertujuan memastikan keamanan warga dan kantor politik Rusia di Afghanistan, khususnya di wilayah tempat Taliban memperluas wilayah kekuasaannya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Sedikitnya dua warga Rusia ditangkap Taliban dalam dua kejadian terpisah, pada 2013 dan 2016, ketika helikopter mereka jatuh di wilayah yang dikuasai Taliban. Keduanya dilepaskan setelah negosiasi panjang.

Kedua, kemunculan ISIS di Afghanistan menimbulkan rasa takut di Moscow kalau kelompok tersebut akan berkembang ke Asia Tengah dan Rusia.

Hak atas foto EPA
Image caption Taliban terus melakukan serangan bunuh diri, contohnya serangan yang menyasar perusahaan keamanan G4S di Kabul ini.

Taliban telah bertempur melawan ISIS di Afghanistan dan berkali-kali meyakinkan negara tetangga, bahwa berbeda dari ISIS, perjuangan bersenjata mereka terbatas di Afghanistan.

Pada Desember 2015, utusan khusus presiden Rusia untuk Afghanistan, Zamir Kabulov, menyatakan bahwa "kepentingan Taliban secara objektif selaras dengan kami" dalam pertempuran melawan ISIS.

Rusia juga mengajukan kemungkinan melakukan intervensi di Afghanistan, seperti yang mereka lakukan di Suriah, jika ISIS semakin kuat dan menjadi "ancaman serius" bagi stabilitas negara-negara Asia Tengah dengan dalih melindungi "halaman belakang" mereka.

Namun demikian, pemerintah AS berkata Moskow menggunakan keberadaan ISIS sebagai dalih untuk membenarkan campur tangannya di Afghanistan dan terus menumbuhkan pengaruh militernya di Asia Tengah.

Ketiga, pemerintah Rusia bersikeras bahwa konflik Afghanistan membutuhkan solusi politik, bukan militer. Mereka terus bertambah kecewa dan curiga akan strategi AS yang sampai saat ini belum berhasil menstabilkan Afghanistan setelah 16 tahun pertempuran.

Moskow mengatakan bahwa kontaknya dimaksudkan untuk mendorong Taliban mengikuti perundingan perdamaian.

Apa dampaknya pada konflik Afghanistan?

Rusia yang bangkit di bawah pimpinan Presiden Putin telah berusaha keras menetapkan pengaruhnya di Afghanistan, dengan langkah-langkah yang dipandang sebagai bagian dari upaya Moskow mendapatkan kursi tertinggi dalam menentukan masa depan negara tersebut.

Ini terjadi di saat hubungan AS-Rusia berada di titik terendah dan situasi geopolitik berubah dengan cepat.

Sikap Moskow yang semakin asertif terkait dengan ketegangan AS-Rusia di tempat lainnya di dunia, khusus di Ukraina dan Suriah.

Dengan membuka hubungan dengan Taliban, Moskow tampaknya berusaha menekan dan bahkan menghalangi upaya AS dan Nato.

Sementara itu, seiring jurang antara Washington dan Islamabad semakin lebar, Rusia dan Pakistan membangun hubungan diplomatik dan militer setelah permusuhan selama berpuluh-puluh tahun.

Kehadiran kembali Moskow dalam urusan Afghanistan terutama dirancang untuk membuat kesal Amerika.

Tudingan yang saling dilemparkan oleh bekas-bekas kekuatan di Perang Dingin ini perlu dilihat dalam konteks perang tudingan yang lebih luas. Persaingan mereka memperumit konflik di Afghanistan, yang mana jumlah pemainnya terus bertambah.

Ini telah memunculkan kembali ketakutan akan "Permainan Besar baru", dengan Afghanistan sekali lagi menjadi medan pertempuran bagi para pemain regional dan internasional. Jalan keluar dari situasi sulit yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun ini tampak semakin jauh.

Berita terkait