Trump kenakan bea masuk pada produk Cina, Beijing segera lancarkan balasan

cina Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Presiden AS Donald Trump menjabat tangan Presiden Cina Xi Jinping ketika keduanya bertemu pada November 2017 lalu.

Beijing berikrar akan membalas tindakan pemerintah Amerika Serikat yang mengenakan bea masuk sebesar 25% terhadap 1.300 produk impor Cina.

Barang-barang yang akan dikenai bea masuk itu mencakup, antara lain produk medis, televisi, dan sepeda motor. Secara keseluruhan nilai barang-barang yang diimpor dari Cina tersebut mencapai US$50 miliar (Rp687 triliun) per tahun.

Gedung Putih menyatakan bea itu diberlakukan sebagai respons atas praktik tidak adil yang dilakukan Cina di bidang hak kekayaan intelektual.

Atas kebijakan itu, Beijing "menentang secara tegas dan sangat mengecamnya".

"Aksi proteksionis dan sepihak semacam ini telah melanggar prinsip-prinsip dan nilai-nilai fundamental WTO," sebut pernyataan Kedutaan Cina di Washington DC.

"Sebagaimana dinyatakan dalam pepatah Cina, tindakan sopan adalah melakukan balasan setimpal.

"Pihak Cina akan memilih menggunakan mekanisme pertikaian WTO dan menempuh langkah-langkah yang sama kuatnya terhadap produk-produk AS sesuai dengan hukum di Cina."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anggur AS tergolong produk yang terdampak dalam 'perang dagang' ini.

Ancaman perang dagang

Berbagai ahli ekonomi telah memperingatkan pemerintah AS bahwa menerapkan bea tambahan terhadap Cina hanya mendorong Beijing melakukan tindakan balasan yang berdampak pada peningkatan harga barang sehari-hari. Konsumen di AS diprediksi akan segera merasakannya.

Penerapan bea masuk sebesar 25% terhadap 1.300 produk Cina mengemuka setelah Cina memberlakukan bea sebesar 28% terhadap 128 produk AS yang meliputi daging babi dan minuman anggur.

Sebelumnya, pada Maret lalu, Presiden AS Donald Trump menaikkan bea masuk terhadap baja dan aluminium dari Cina.

Hak atas foto BBC Indonesia

Menurut sejumlah analis dari S&P Global Ratings, ekonomi Cina semakin kurang bergantung pada ekspor selama beberapa tahun terakhir sehingga dampak kenaikan bea masuk di AS kurang begitu besar.

Sebanyak 18,2% dari produk Cina sepanjang 2016 dikirim ke AS, sebagaimana dipaparkan Departemen Perdagangan AS.

Produk-produk itu mencakup satelit komunikasi, semikonduktor, peralatan penerbangan, mesin peramu minuman, hingga peluncur roket.

Sebaliknya, menurut Joseph Brusuelas selaku kepala ekonom di lembaga RSM US, perang dagang antara Cina dan AS akan menyebabkan perusahaan-perusahaan AS harus merogoh kocek lebih besar. Hal ini dipandang akan membuat harga meningkat dan membebani konsumen.

"Jika pemerintahan Trump tidak menjalankannya mereka akan kehilangan muka dan kredibilitas," ujarnya.

Berita terkait