Turki, Iran dan Rusia tegaskan solusi politik di Suriah lebih penting dibanding aksi militer

rouhani, erdogan, putin Hak atas foto European Photopress Agency
Image caption Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan President Rusia Vladimir Putin berjabat tangan pada KTT di Ankara.

Presiden Turki, Iran dan Rusia telah menegaskan prioritas mereka di Suriah setelah melakukan KTT, Rabu (04/04), di Ankara, ibukota Turki.

Lewat sebuah konferensi pers di Ankara, ketiga pemimpin menekankan dukungan mereka bagi jalan keluar politik dan bukan militer dalam menyelesakan masalah meskipun pasukan mereka terus beroperasi di Suriah.

Pernyataan ketiga negara pasca-KTT menyebutkan keinginan mereka untuk 'mempercepat usaha memastikan perdamaian di wilayah' Suriah.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan kedaulatan wilayah Suriah ditentukan pada kebijakan yang menjaga jarak dari semua organisasi teror.

Pernyataan ini dipandang sebagai sebuah kecaman tidak langsung terhadap Amerika Serikat yang mendukung pejuang Kurdi yang dipandang pemerintah di Ankara sebagai teroris.

Hak atas foto U.S. NAVY / GETTY
Image caption Salah satu rudal Tomahawk yang diluncurkan dari kapal USS Porter ke Suriah pada bulan April 2017.

Seperti dilaporkan kantor berita Reuters, usai KTT, Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan perkembangan di Suriah, dengan keberhasilan militer Suriah dan sekutunya memukul mundur pemberontak dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan AS telah "gagal menjatuhkan pemerintahan Suriah" Presiden Bashar al-Assad.

Iran dan Rusia sangat mendukung presiden Suriah, sementara Turki sebenarnya mendukung kelompok pemberontak yang menentang Presiden Assad.

Gedung Putih menyatakan keputusan terkait dengan masa depan pasukan Amerika di Suriah akan segera diumumkan.

Meskipun demikian seorang pejabat senior AS mengatakan," Kami tidak akan segera menarik diri, tetapi presiden juga tidak bersedia memberikan janji untuk jangka panjang," demikian dilaporkan Reuters.

Sekitar 2.000 pasukan Amerika ditempatkan di Suriah utara sebagai bagian dari misi melawan sisa kelompok yang menamakan diri Negara Islam, yang sebelumnya menguasai daerah tersebut.

Berita terkait