Rusia desak AS hentikan rencana aksi militer ke Suriah

suriah Hak atas foto Getty Images
Image caption Tank dan tentara Suriah berkumpul di dekat Kota Douma, lokasi dugaan serangan kimia.

Rusia mendesak Amerika Serikat menghentikan rencana aksi militer ke Suriah guna menanggapi dugaan serangan kimia di negara tersebut.

"Sekali lagi saya mendesak Anda menghentikan rencana yang saat ini Anda kembangkan," kata Utusan Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia.

Dia menegaskan Washington DC akan "memikul tanggung jawab" untuk setiap "petualangan militer secara ilegal".

Ucapan tersebut mengemuka setelah sejumlah pemimpin Barat mengaku sepakat bekerja sama untuk menyasar siapapun yang bertanggung jawab atas dugaan serangan kimia di Douma, 7 April lalu.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan serangan hanya akan menargetkan fasilitas kimia pemerintah Suriah.

Kemudian, Presiden AS, Donald Trump, bertekad akan melakukan balasan "secara kuat".

Secara terpisah, pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, membantah berada di balik serangan kimia apapun.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, dan Dubes Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia bentrok di Dewan Keamanan PBB.

Apa yang dilakukan PBB?

Peringatan yang dicetuskan delegasi Rusia muncul di sela-sela pertemuan Dewan Keamanan PBB yang gagal mengeluarkan langkah apapun demi menyelidiki dugaan serangan.

Sebagai anggota permanen DK PBB, baik Rusia maupun AS punya hak veto dan keduanya saling memveto proposal yang diajukan satu sama lain.

Draf resolusi karya AS menyerukan pembentukan tim penyelidik independen dengan wewenang untuk mengeluarkan kesimpulan pihak mana yang berada di balik dugaan serangan.

Adapun versi Rusia menyerahkan wewenang itu kepada DK PBB.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Siapa yang bertanggung jawab atas serangan senjata kimia di Suriah?

Utusan Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzia, menuding AS sengaja mengeluarkan draf resolusi sebagai "dasar" untuk membenarkan aksi militer.

"Kita bisa berada di ambang kejadian yang serius dan sangat menyedihkan," ujarnya.

Utusan AS untuk PBB, Nikki Haley, menanggapi veto Rusia sebagai "kesalahan".

"Rusia telah merusak kredibilitas dewan ini. Kapanpun kami mengajukan sesuatu yang bermakna mengenai Suriah, Rusia memvetonya."

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Trump memerintahkan puluhan rudal penjelajah ditembakkan dari kapal-kapal AL AS di Mediterania ke arah pangkalan udara Suriah.

Apakah akan ada serangan militer?

Tampaknya AS dan sekutu-sekutunya sedang menyiapkannya.

Trump membatalkan kunjungan perdananya ke Amerika Latin agar dia bisa fokus pada Suriah.

Keputusan itu mengisyaratkan bahwa AS mungkin tengah menyiapkan operasi militer yang lebih besar ketimbang serangan terbatas, sebut wartawan BBC di Washington DC, Barbara Plett Usher.

Washington DC juga diketahui telah terlibat dalam diskusi dengan Prancis dan Inggris, sehingga meningkatkan prospek akan aksi militer Barat yang terkoordinasi.

Saat ini kapal Angkatan Laut AS yang memiliki roket kendali, USS Donald Cook, berada di perairan Laut Mediterania dan badan pengendali lalu lintas udara di Eropa, Eurocontrol, telah memperingatkan semua maskapai yang menerbangkan pesawat di bagian timur Mediterania agar waspada mengingat ada kemungkinan peluncuran rudal ke Suriah.

Pada awal April lalu, setelah gas Sarin menewaskan lebih dari 80 orang di kota yang dikendalikan kubu oposisi, Trump memerintahkan puluhan rudal penjelajah ditembakkan dari kapal-kapal AL AS di Mediterania ke arah pangkalan udara Suriah.

Tindakan itu adakah aksi langsung pertama militer AS terhadap pasukan pemerintah Suriah.

Apa yang terjadi dalam dugaan serangan kimia?

Sejumlah pegiat oposisi Suriah, pekerja medis, dan relawan gawat darurat menuduh serangan di Douma pada 7 April lalu dilakukan pasukan pemerintah menggunakan bom berisi zat kimia beracun.

Komunitas Medis Suriah-Amerika mengklaim ada lebih dari 500 orang yang dibawa ke pusat medis dengan gejala "indikasi terpapar zat kimia".

Gejala itu meliputi kesulitan bernapas, kulit membiru, mulut berbusa, luka bakar, dan aroma "seperti bau klorin".

Perkiraan jumlah korban tewas akibat dugaan serangan kimia berkisar antar 42 orang hingga 60 orang. Namun, relawan medis mengatakan jumlah itu bisa jadi lebih banyak lantaran regu penyelamat kesulitan mengakses ruang bawah tanah yang dipakai sejumlah keluarga sebagai tempat berlindung dari pengeboman.

Berita terkait