Pelaku serangan teror Paris dinyatakan bersalah di Belgia

Images of Salah Abdeslam Hak atas foto Belgian/French police

Salah Abdeslam, satu-satunya tersangka pelaku serangan Paris 2015 yang masih hidup, dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh pengadilan di Belgia.

Namun vonis ini untuk peristiwa baku tembak sebelum penangkapannya, bukan untuk serangan Paris itu sendiri.

Abdeslam, 28, dan terdakwa lain, Sofien Ayari, juga dihukum 20 tahun, dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan yang terkait terorisme.

Keduanya menembaki petugas yang menggerebek sebuah flat di Brussels pada tahun 2016.

Abdeslam ditahan di penjara di Prancis dan akan disidangkan pula di sana untuk perkara serangan Paris itu sendiri.

Dalam seluruh persidangan di Brussels itu, Salah Abdeslam menolak untuk menjawab pertanyaan hakim dan akhirnya menolak untuk menghadiri sidang.

Image caption Abdeslam saat ditangkap setelah melakukan pelarian selama empat bulan setelah melakukan serangan di Paris pada November 2015.

Abdeslam maupun Ayari, 24 tahun, tak hadir di pengadilan ketika putusan dibacakan Senin (23/4). Hukuman itu persis seperti yang dituntut jaksa -20 tahun penjara, yang merupalkan hukuman maksimum di Eropa.

Hakim Marie France Keutgen, mengatakan bahwa "tidak ada keraguan" tentang keterlibatan kedua orang itu dengan radikalisme.

Dia menyatakan: "Niat mereka jelas dari sifat senjata yang mereka gunakan, jumlah peluru yang mereka lepaskan dan sifat luka-luka yang diderita para petugas polisi. Hanya respon profesional para petugas yang mencegahnya menjadi lebih buruk."

Apa yang terjadi selama baku tembak dan sesudahnya?

Pada 15 Maret 2016, polisi Belgia yang memburu Abdeslam melakukan penggrebekan di kawasan Forest, Brussels.

Sasaran mereka adalah sebuah flat yang dicurigai menampung Abdeslam - yang pada saat itu telah melarikan diri selama empat bulan.

 

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Damian Grammaticas melaporkan situasi penggrebekan, dalam bahasa Inggris.

Ketika polisi mendekat, tiga penghuni melepaskan tembakan, sehingga terjadi baku tembak. Salah satu dari tiga orang itu terbunuh dan tiga perwira terluka.

Abdeslam dan Ayari berhasil melarikan diri, tetapi sidik jari Abdeslam ditemukan di flat itu, memastikan kehadirannya di sana.

Dia bisa ditangkap beberapa hari kemudian dalam sebuah serangan di daerah Molenbeek tak jauh dari flat pertama. Ia kemudian dikirim ke Prancis.

Di awal persidangan di Brussels, para petugas kedua negara membawa Abdeslam pulang pergi Paris-Brussels dengan penjagaan ketat pada setiap hari sidang, sampai kemudian Abeslam menolak hadir.

Topik terkait

Berita terkait