Membantu warga lari dari majikan, Filipina meminta maaf kepada Kuwait

Kuwait, Filipina Hak atas foto AFP
Image caption Menlu Filipina, Alan Peter Cayetano, juga mengatakan staf kedutaan yakin campur tangan dalam situasi yang mengancam jiwa.

Pemerintah Filipina menyampaikan permintaan maaf kepada Kuwait setelah beredar video yang memperlihatkan staf Kedutaan Besar Filipina membantu beberapa warganya yang lari dari majikan yang diduga melakukan kekerasan.

Dalam salah video terlihat seorang perempuan lari dari sebuah rumah dan melompat ke mobil yang sedang menunggu.

Sementara video lain memperlihatkan seseorang berlari dengan cepat dari yang tampak seperti lokasi konstruksi ke sebuah mobil berwarna hitam.

Kuwait memprotes tindakan yang disebut sebagai pelanggaran kedaulatannya.

Menteri Luar Negeri Filipina, Alan Peter Cayetano, sudah menyatakan permintaan maaf namun menambahkan staf kedutaan yakin sedang campur tangan dalam situasi yang mengancam jiwa seseorang.

"Kami menghormati kedaulatan dan hukum Kuwait, namun kesejahteraan pekerja Filipina juga amat penting," tuturnya sambil menambahkan Kuwait bisa menerima penjelasan Filipina itu.

Hak atas foto AFP
Image caption Terdapat lebih dari 260.000 warga Filipina yang bekerja di Kuwait dan sekitar 65% adalah pembantu rumah tangga.

Cayetano mengatakan Duta Besar Kuwait di Manila sudah bertemu dengan Presiden Rodrigo Duterte terkait kasus tersebut.

"Kami kini mengirim surat kepada rekan kami, dan meminta maaf atas insiden tertentu yang dipandang Kuwait sebagai pelanggaran kedaulatan," jelasnya seperti dikutip kantor berita Reuters.

Menurut Cayetano, terdapat lebih dari 260.000 warga Filipina yang bekerja di Kuwait dan sekitar 65% adalah pembantu rumah tangga.

Hak atas foto Reuters
Image caption Jenazah Joanna Demafelis disimpan di dalam kulkas dan baru ditemukan lebih dari setahun kemudian.

Bulan lalu Presiden Duterte melarang warganya ke Filipina dan memerintahkan yang sudah berada di sana untuk pulang setelah kasus pembunuhan seorang PRT Filipina.

Joanna Demafelis, yang berusia 29 tahun, dibunuh dan jenazahnya ditaruh di lemari es di dalam apartemen di Kuwait yang sudah kosong karena ditinggalkan majikannya.

Pengadilan menjatuhkan hukuman mati atas majikan Defamelis, pasangan suami istri asal Libanon dan Suriah.

Topik terkait

Berita terkait