KTT Korea yang bersejarah dipenuhi dengan simbol-simbol

Kim Jong-un dan Moon Jae-in Hak atas foto EPA
Image caption Kim Jong-un dan Korea Selatan Moon Jae-in berjabat tangan di garis demarkasi.

Pertemuan puncak antara pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Jumat (27/04) dirancang secara seksama dan dipenuhi dengan simbolisme.

Simbolisme ini dapat ditemukan di hampir semua aspek pertemuan, mulai dari makanan, bunga dan diameter meja perundingan hingga penanaman pohon pinus.

Ini semua, kata panitia Korea Selatan yang mempersiapkan pertemuan, dirancang untuk "memberikan makna tentang datangnya perdamaian di Semenanjung Korea dan era kerja sama dan kemakmuran."

Berikut sejumlah simbolisme yang dicerminkan dalam pertemuan puncak bersejarah antara pemimpin dua Korea yang secara teknis masih dalam keadaan berperang itu karena tidak ada perjanjian yang mengakhiri perang Korea tahun 1953.

Lokasi pertemuan

Pertemuan berlangsung di Desa Panmunjom di zona demiliterisasi. Pemilihan lokasi ini sendiri sudah simbolis.

Dalam dua pertemuan puncak sebelumnya pada tahun 2000 dan 2007, pemimpin Korea Selatan lah yang melakukan perjalanan ke ibu kota Korea Utara, Pyongyang.

Kali ini, kedua pemimpin bertemu di garis demarkasi dan kemudian berjalan beriringin menuju Wisma Perdamaian untuk melakukan perundingan.

Hak atas foto AFP
Image caption Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mencetak sejarah baru.

Wisma tersebut berada di wilayah Korea Selatan dan baru kali ini seorang pemimpin Korea Utara melintasi garis perbatasan kedua negara.

Pasukan kehormatan Korea Selatan yang mengenakan kostum tradisional - tidak mengenakan seragam militer Korea Selatan - berbaris mengapit jalan yang dilalui kedua pemimpin.

Karangan bunga

Untuk dekorasi, ruang pertemuan dihiasai dengan bunga-bunga dalam wadah porselin warna putih.

Namun bunganya bukan sembarang bunga. Ada bunga peony sebagai simbol salam, bunga daisy bermakna perdamaian, dan ada pula bunga-bunga liar yang dipetik dari zona demiliterisasi.

Meja

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un duduk di meja bundar yang lebarnya tepat 2.018 milimeter, sebagai referensi tahun pelaksanaan pertemuan puncak.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ruang pertemuan diatur sebegitu rupa sehingga mengandung makna-makna tertentu.

Kursi-kursi pertemuan juga dibuat khusus untuk acara ini dan juga mencakup pesan kepada Jepang. Kursi-kursi yang terbuat dari kayu walnut itu dihiasi dengan peta Semenanjung Korea, termasuk pulau-pulau yang dikuasai oleh Korea Selatan tetapi juga diklaim oleh Jepang. Baik Korea Selatan maupun Korea Utara sama-sama tidak menyukai Jepang.

Dekorasi

Simbolisme di ruang pertemuan tidak hanya berhenti di meja dan kursi.

Hak atas foto Pemerintah Korea Selatan
Image caption Kursi dibuat khusus untuk Kim Jong-un dan Moon Jae-in dalam pertemuan puncak Korea.

Ruang itu dirancang supaya terasa seperti rumah tradisional Korea, Hanok, yang dilengkapi dengan jendela-jendela berpanel dari kertas.

Adapun karpet yang menyelimuti lantai dimaksudkan untuk mencerminkan pegunungan dan anak sungai yang ada di Semenanjung Korea.

Hak atas foto KCNA
Image caption Sebagian tanah yang digunakan untuk menanam pohon pinus diambil dari Gunung Paektu.

Dan lukisan lansekap di dinding adalah Gunung Kumgang, di Korea Utara. Menurut seorang juru bicara pemerintah Korea Selatan, banyak orang Korea ingin mengunjungi gunung tersebut.

"Gunung adalah simbol rekonsiliasi dan kerja sama antara Korea Selatan dan Korea Utara."

Pohon pinus

Sesi pertemuan sore ditandai dengan penanaman pohon pinus. Pohon tersebut berasal dari tahun 1953, seperti dilaporkan AFP. Perjanjian penghentian permusuhan diteken pada tahun tersebut.

Moon Jae-in dan Kim Jong-un mengangkat sekop untuk secara simbolis menanam pohon pinus di tanah yang diambil dari pegunungan di wilayah Korea Utara dan Korea Selatan.

Hak atas foto AFP
Image caption Penanaman pohon dilakukan secara simbolis oleh Kim Jong-un dan Moon Jae-in.

Pohon yang ditanam kemudian disiram dengan air yang diambil dari sungai-sungai di dua negara.

Di sebelah pohon pinus itu didirikan prasasti bertuliskan: "Menanam perdamaian dan kemakmuran."

Makanan

Makanan yang disajikan dalam jamuan makan malam untuk delegasi dari kedua negara juga penuh dengan simbolisme; setiap gigitan mempunyai arti.

Baik bahan maupun resep makanan berasal dari Korea Utara dan Korea Selatan, dari kota kelahiran pemimpin kedua negara, dan bahkan berasal dari zona demiliterisasi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Tidak semua simbol diarahkan ke Korea karena dua titik di peta itu diarahkan ke Jepang.

Di antara yang disajikan terdapat Naengmyun Pyongyang, mie dingin yang terkenal dari Korea Utara, kentang rosti Swiss karena Kim Jong-un menghabiskan masa mudanya di Swiss, makanan laut dari kota kelahiran Moon Jae-un dan nasi bibimbab tradisional, serta sayur yang ditanam di zona demiliterisasi.

Salah satu hidangan penutup, puding mangga, kembali menampilkan peta kedua Korea - tak luput pulau-pulau yang diperebutkan dengan Jepang.

Pemerintah Jepang sudah menyampaikan "protes keras" terkait dengan puding mangga yang kontroversial itu.

Berita terkait