Mengakali sensor, warga Iran gunakan uang kertas sebagai media protes

Uang kertas Iran Hak atas foto TWITTER/@MOHAMMA22877029

Sekelompok pengguna Twitter di Iran menyebarkan pesan-pesan protes dengan menulis slogan di atas lembaran uang kertas.

"Uang kertas adalah pembawa pesan yang tidak bisa disensor," tulis seorang pengguna, merujuk pada rumor tentang rencana pemerintah untuk memblokir permanen aplikasi perpesanan Telegram, yang merupakan alat komunikasi digital paling populer di Iran.

Slogan yang ditulis di uang kertas antara lain "Aku seorang pembangkang".

Sebagian slogan tersebut awalnya diteriakkan dalam unjuk rasa anti-pemerintah akhir tahun lalu.

Pada akhir Desember, para demonstran turun ke jalan untuk mengungkapkan ketidakpuasan mereka akan situasi sosial dan ekonomi di Iran.

Telegram diyakini merupakan platform utama yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan dan membagikan informasi tentang unjuk rasa, yang digelar di berbagai tempat di seluruh negeri mulai akhir Desember 2017 sampai Januari 2018. Hampir 8.000 twit telah diunggah sejak 28 April dengan tagar #Seratusribu_uangkertas_berbicara dalam bahasa Persia, menurut BBC Monitoring.

Sebagian besar unggahan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran akan gerakan daring baru ini.

Pesan lainnya berbunyi: "Musuh kita di sini, (tapi) mereka bilang itu Amerika".

Kebanyakan cuitan dikirim secara anonim, sehingga sulit untuk diverifikasi secara independen.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Apa yang sebenarnya terjadi di Iran?

Twitter resmi dilarang di Iran, meskipun pemimpin tertinggi, presiden, dan pejabat lainnya di negeri tersebut punya akun yang aktif. Masyarakat dapat mengakses situs tersebut dengan menggunakan layanan proxy.

Satu akun, @Iran_white_rose, menyebut kampanye uang kertas ini "jembatan antara media sosial dan masyarakat" dan tindakan "pembangkangan sipil".

Akun lainnya, dengan nama @N_a_r_r_a_t_o_r, mencantumkan foto selembar uang kertas dengan gambar seorang pengunjuk rasa yang mengenakan hijab — bentuk penghormatan kepada gerakan "Perempuan Jalan Engelab (Revolusi)" yang menentang aturan pakaian Islami di Iran.

Hak atas foto TWITTER/@N_A_R_R_A_T_O_R
Image caption Salah satu uang kertas yang diunggah menunjukkan gambar seorang pengunjuk rasa mengenakan hijab.

Pekan lalu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menutup kanal Telegram-nya. Ia mengatakan langkah ini akan membantu "menjaga kepentingan nasional". BBC Monitoring melaporkan bahwa hal tersebut dipandang masyarakat sebagai tanda akan dilakukannya pelarangan.

Sekitar 40 juta warga Iran – setengah penduduk negeri itu – menggunakan aplikasi Telegram.

Para pegawai pemerintah dan pejabat telah diperintahkan untuk berhenti menggunakannya.

Pihak berwenang mengajak warga untuk menggunakan aplikasi alternatif buatan dalam negeri, bernama Soroush.

Telegram juga baru-baru ini dilarang di Rusia setelah perusahaan tersebut menolak memberikan kunci enkripsi kepada pihak berwenang.

Topik terkait

Berita terkait