Sepekan jelang pemilu, Mahathir diselidiki karena dituduh sebar hoaks

Mahathir Mohamad Hak atas foto AFP
Image caption Mahathir Mohamad dicalonkan sebagai PM dari kubu opisisi Malaysia Januari 2018.

Sepekan menjelang pemilihan umum, polisi di Malaysia mengumumkan penyelidikan terhadap pemimpin oposisi dan mantan perdana menteri, Mahathir Mohamad.

Polisi menduga Mahathir menyebarkan hoaks atau berita bohong.

Pada akhir pekan Mahathir mengatakan bahwa pesawat terbang pribadi yang sedianya ia tumpangi ke Langkawi telah disabotase.

Mahathir mengatakan, "Untungnya (sabotase) diketahui lebih awal. Pesawat dicoba untuk diperbaiki, tapi tak bisa."

Informasi dugaan sabotase, kata Mahathir, didapat dari pilot beberapa saat sebelum lepas landas.

Situs berita Malaysia, The Star, mengatakan otoritas penerbangan sipil Malaysia (CAAM) segera melancarkan investigasi dan 'tidak menemukan indikasi sabotase' seperti yang dikatakan Mahathir.

Yang ditemukan CAAM adalah kebocoran udara di roda kiri pesawat yang dikatakan sebagai kerusakan kecil dan biasa terjadi.

Sejumlah laporan menyebutkan pejabat CAAM menyayangkan kliam sabotase tersebut, apalagi jika ditujukan untuk 'mendapatkan keuntungan politik'.

Mengomentari rencana investigasi polisi, Mahathir mengatakan ia siap mendengarkan dakwaan di pengadilan.

"Silakan mendakwa saya di pengadilan. Saya tak punya kabar bohong, saya hanya menyampaikan kebenaran," kata Mahatir dalam video yang diunggah oleh The Star.

Pengacara kelompok oposisi, Rafique Rashid Ali, seperti dikutip situs Malaysiakini mempertanyakan investigasi polisi.

Mantan menteri keuangan Daim Zainuddin juga mempertanyakan langkah polisi, dengan mengatakan, "Bagaimana bisa disimpulkan bahwa bocornya udara di roda pesawat sebagai berita bohong. Pesawat tidak sama dengan sepeda atau mobil ... nyawa Anda ada di tangan pilot."

Polisi menyelidiki Mahathir atas laporan gerakan akar rumput di bawah UMNO pimpinan Zulkarnain Mahdar yang mengklaim pernyataan Mahathir menyebabkan 'was-was dan keraguan atas tingkat keselamatan transportasi publik'.

Sejumlah analis mengatakan undang-undang baru tentang berita bohong dibuat untuk 'membungkam oposisi'.

Undang-undang hoaks disahkan bulan lalu dan berdasarkan UU ini mereka yang terbukti menyebarkan hoaks atau berita palsu bisa didenda US$125.000 dan penjara maksimal enam tahun.

Mahathir adalah figur penting di panggung politik Malaysia sejak negara ini merdeka pada 1957. Ia menjabat sebagai perdana menteri mulai 1981 hingga 2003.

Ia menjadi salah satu pemimpin oposisi Malaysia dan bertarung di pemilu 2018 pada usia 92 tahun.

Topik terkait

Berita terkait