Pemimpin Tertinggi Iran: 10 kebohongan Trump ketika AS mundur dari kesepakatan nuklir

Ayatollah Ali Khamenei Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Ayatollah Ali Khamenei mengatakan Presiden Trump membuat kesalahan setelah mundur dari kesepakatan nuklir.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan setidaknya terdapat 10 kebohongan yang diucapkan oleh Presiden Trump ketika mengumumkan Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir, Selasa (08/05).

Kesepakatan yang ditandatangani oleh Iran, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Uni Eropa pada tahun 2015 itu pada intinya membatasi aktivitas nuklir Iran sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi yang sebelumnya diberlakukan oleh PBB, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Namun Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Trump, memutuskan menarik diri dari kesepakatan

"Anda dengar tadi malam presiden Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan-pernyataan konyol dan sepintas," kata Ayatollah Ali Khamenei.

"Dalam pernyataannya, terdapat lebih dari 10 kebohongan. Ia mengancam rezim dan rakyat dengan alasan ini dan itu. Trump, saya katakan atas nama rakyat Iran: Anda keliru."

Anggota parlemen bakar bendera AS

Kemarahan juga disampaikan oleh para anggota parlemen. Ketika bersidang mereka membakar salinan kesepakatan nuklir. Sebagian di antara mereka memegang bendera Amerika sambil berteriak "Amerika mati."

Hak atas foto EPA
Image caption Para anggota parlemen Iran meluapkan kemarahan atas keputusan Presiden Trump.

Secara umum muncul skeptisme apakah Eropa benar-benar mampu mempertahankan kesepakatan nuklir.

Suara skeptis itu antara lain diutarakan oleh petinggi Garda Revolusi yang mengatakan Eropa sejatinya tergantung pada Amerika Serikat sehingga tidak mampu mengambil keputusan independen.

Namun demikian, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian berpendapat kesepakatn nuklir Iran "tidak mati" meskipun Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan itu.

"Amerika menarik dari dari kesepakatan tetapi kesepakatan itu masih ada," papar Le Drian.

Israel, Arab Saudi dukung Trump

Dikatakannya Prancis, Inggris, Jerman dan Iran akan menggelar pertemuan Senin mendatang (14/05).

Iran juga telah menyatakan akan berusaha mempertahankan kesepakatan, tetapi jika gagal maka akan memulai lagi pengayaan uranium di fasilitas nuklirnya. Negara itu menegaskan program nuklir sepenuhnya untuk tujuan damai dan telah mematuhi kesepakatan pembatasan aktivitas nuklir yang sudah diverifikasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

Hak atas foto Getty Images
Image caption Iran telah membatasi aktivitas nuklirnya setelah meneken perjanjian tahun 2015 ketika AS diperintah oleh Presiden Obama.

Banyak negara menyesalkan keputusan Presiden Trump. Rusia, di antaranya, yang menyatakan "sangat kecewa" atas keputusan Trump. Demikian juga Cina.

Namun langkah Presiden Trump justru disambut baik oleh saingan-saingan Iran di Timur Tengah, Arab Saudi dan Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan ia "mendukung sepenuhnya" penarikan AS dari kesepakatan "malapetaka".

Berita terkait