Delegasi berjuang di Kopenhagen

Presiden Barack Obama
Image caption Usulan kelompok lima negara, pimpinan AS, ditolak negara-negara berkembang

Delegasi di Pertemuan Puncak PBB tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen berjuang untuk mencegah pertemuan berakhir tanpa kesepakatan.

Sebelumnya, kelompok yang terdiri dari lima negara dengan pimpinan Amerika Serikat mengajukan sebuah usulan yang menurut Presiden Barack Obama sebagai kesepakatan yang berarti.

Jumat malam, kelima negara -yaitu Amerika Serikat, Cina, India, Brasil dan Arika Selatan- mencapai kesepakatan akhir atas sejumlah isu, antara lain untuk membatasi kenaikan suhu global kurang dari 2'C.

Namun bahasa dalam naskah kesepakatan -menurut wartawan lingkungan BBC Richard Black, memperlihatkan pembatasan kenaikan suhu 2'C bukan sasaran resmi tapi lebih pada pengakuan atas pandangan ilmiah bahwa kenaikan suhu harus dipertahankan di bawah 2'C.

Obama mengatakan kesepakatan itu bisa menjadi landasan bagi tindakan global walau mengakui masih banyak lagi yang harus dicapai.

Ditolak negara berkembang

Negara-negara berkembang menolak usulan itu karena berpendapat gagal membawa tindakan yang dibutuhkan untuk menghentikan perubahan iklim yang berbahaya.

Lumumba Stanislaus Di-Aping, perunding dari Sudan, mengatakan usulan itu meminta "Afrika untuk menandatangani jalur bunuh diri."

Dia mengatakan usulan tersebut tidak punya tanggung jawab dan moralitas.

"Janji US$ 100 miliar tidak akan bisa menyogok kami untuk menghancurkan benua," tuturnya.

Kesepakatan lima negara itu mencakup janji bantuan sebesar US$ 30 miliar bagi negara berkembang selama tiga tahun sebagai bagian dari bantuan US$ 100 miliar per tahun pada 2020 untuk membantu negara-negara miskin menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim.

Termasuk juga dalam kesepakatan adalah metode untuk verifikasi atas pengurangan emisi negara-negara industri.

Image caption Tuvalu menginginkan sebuah kesepakatan yang mengikat

AS mengatakan Cina sudah menarik penentangan atas langkah verifikasi itu.

Bagaimanapun mayoritas negara di Kopenhagen mendesak tuan rumah untuk menerima kesepakatan tersebut.

Untuk bisa diterima sebagai sebuah kesepakatan PBB, usulan harus didukung oleh semua 193 negara yang ikut perundingan.

Kesepakatan mengikat

Selama perundingan dua minggu di Kopenhagen, negara-negara kepulauan kecil dan negara pantai dengan permukaan daratan rendah meminta agar ada kesepakatan yang mengikat untuk membatasi emisi pada tingkat yang bisa mencegah kenaikan suhu lebih dari 1,5'C dibanding tingkat pra-industri.

"Bolehkah saya mengatakan bahwa dalam isitilah injili, sepertinya kami ditawari 30 keping perak untuk menjual masa depan kami," kata Ian Fry, perunding dari Tuvalu.

"Masa depan kami tidak dijual," tegasnya.

Fry mengatakan negaranya tidak akan menerima usulan yang diajukan kelima negara itu.

Penolakan juga disampaikan oleh delegasi Venezuela, Claudia Salerno Caldera.

"Tuan Presiden, saya bertanya apakah -berdasarkan dari sudut pandang Sekjen PBB- anda mendukung kudeta terhadap otoritas PBB," kata Caludioa Salerno Caldero merujuk pada Presiden Obama.

Penentangan utama atas kesepakatan ini datang dari negara-negara blok Amerika Latin, ALBA, dengan anggota antara lain Nikaragua, Venezuela, Kuba, Ekudor, dan Bolivia.