Terbaru  18 Februari 2010 - 07:09 GMT

Bangladesh usir pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya di Bangladesh hidup dalam kondisi sangat buruk

Sebuah organiasi bantuan kemanusiaan menuduh pemerintah Bangladesh melakukan pengusiran terhadap pengungsi tidak terdaftar Rohingya asal Birma.

Medecins Sans Frontieres (MSF) juga mengatakan sebuah krisis kemanusiaan mengancam di kam kumuh pengungsian dimana pengungsi yang terus bertambah kini tinggal.

Ribuan pengungsi pindah ke kam itu karena takut dituntut, kata MSF.

Disebutkan sejumlah doktor MSF yang bekerja di klinik setempat merawat para korban akibat pemukulan polisi dan warga Bangladesh.

Banyak pengungsi Rohingya -sebagian sudah tinggal di Bangladesh selama 30 tahun- mengatakan rumah mereka dihancurkan dan melaporkan bahwa penjaga perbatasan berusaha mengusir mereka keluar dari negeri itu.

Mereka menolak kembali ke Birma, dimana mereka tidak dibolehkan mendapat kewarganegaraan dan diberlakukan bahkan lebih buruk lagi.

Sekitar 6.000 orang tiba di kam Kutupalong dari berbagai daerah di tenggara Bangladesh sejak Oktober, saat dimana menurut MSF pengusiran mulai berlangsung.

'Krisis memburuk'

"Pengungsi berjejalan dalam sebuah bedeng tanah tidak sehat tanpa fasilitas penolong," kata Paul Critchley, Kepala misi MSF di Bangladesh.

"Mereka dilarang bekerja untuk mendapat penghasilan, juga tidak boleh diberi bantuan makanan. Saat jumlah mereka membengkak sementara sumber daya makin menipis, kami sangat khawatir tentang akan makin buruknya krisis," kata Critchley.

Sebuah laporan yang dirilis pekan ini oleh Arakan Project, sebuah kelompok lobi berpusat di Bangkok, menyatakan tudingan serupa.

"Sebuah bencana kemanusiaan terancam menimpa warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh," demikian laporan tersebut mengatakan.

"Situasi ini akan makin buruk bila pemerintah Bangladesh tidak segera menghentikan pengusiran besar-besaran dan larangan memberikan bantuan makanan dan mata pencaharian terhadap para pengungsi Rohingya."

Rohingya adalah suku Muslim dari barat daya Burma yang berbicara dengan dialek Bengal.

Mereka masuk dalam kelompok suku paling disia-siakan di dunia dan paling banyak menjadi korban kejahatan. Pemerintah Birma menolak kewarganegaraan dan hak mereka memiliki tanah.

Mereka dilarang bepergian atau menikah tanpa izin.

Mereka juga tidak diterima di Bangladesh, dimana sedikitnya 200.000 warga Rohingya kini menetap sebagai imigran ilegal, tanpa hak bekerja, hak kesehatan atau pendidikan.

Wilayah dimana mereka kini tinggal adalah satu dari wilayah paling miskin Bangladesh, dimana warga setempat mengeluhkan keberadaan mereka menghabiskan sumber daya wilayah itu, mereka mencuri pekerjaan yang ada, dan menjadi pelaku penyelundupan serta kejahatan lainnya.

Sekitar 30.000 orang terdaftar sebagai pengungsi oleh PBB, namun sisanya tidak punya hak dan sebagian besar hidup dalam kondisi mengenaskan di pinggir desa di Bangladesh atau di kam kumuh.

MSF menyerukan agar pemerintah Bangladesh dan lembaga pengungsi PBB UNHCR lebih memberikan perhatian terhadap perlindungan mereka.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.