Suhu politik Afsel memanas

Zuma
Image caption Jacob Zuma meminta warganya bersatu ditengah isu rasial yang kembali mengemuka

Presiden Jacob Zuma meminta Afrika Selatan bersatu setelah suhu politik Afrika Selatan memanas pasca pembunuhan seorang pemimpin kelompok supremasi kulit putih, Eugene Terreblanche.

Zuma meminta para pemimpin partai berfikir ulang sebelum membuat pernyataan ke publik.

Wartawan BBC Karen Allen di Johannesburg melaporkan, Zuma menyadari pembunuhan tersebut bisa dengan cepat berkembang menjadi kekerasan rasial jika tidak ditangani secara sensitif.

Dia dengan cepat mengutuk pembunuhan tersebut ditengah kritik yang menyebut dia gagal mengendalikan Liga Muda partai Kongres Nasional Afrika, ANC, yang memerintah.

Dalam pidato televisi Presiden mengutuk dengan menyebut serangan tersebut sebagai pembunuh pengecut.

Dia mengatakan telah berbicara dengan anak perempuan Terreblanche dan berharap bisa menyampaikan secara langsung bela sungkawa yang mendalam kepada istrinya.

"Ini adalah satu momen yang menyedihkan bagi negara kita, kalau ada seorang pemimpin yang harus terbunuh,'' kata Zuma.

Dia mengatakan, warga Afrika Selatan jangan sampai membiarkan siapapun untuk mengambil keuntungan dari peristiwa ini dengan menghasut kebencian rasial.

Partai AWB (Afrikaner Weerstandsbeweging, atau gerakan perlawanan Afrikaner) menyambut pidato Zuma dengan berkumpul di dekat rumah Terreblanche pada hari Minggu.

Tapi sekretaris jenderal sayap kanan partai ini Andre Visagie mengatakan pembunuhan Terreblanche memiliki tekanan politik.

"Langkah selanjutnya yang akan dilakukan AWB adalah memakamkan pemimpinnya dalam damai, tapi setelah itu kami harus menuntut balas atas kematian pemimpin kami'', katanya.

"Tentu kami menyalahkan Julius Malema," kata Visagie kepada BBC.

"Kematian Terreblanche adalah sebuah deklarasi perang yang digaungkan komunitas kulit hitam Afrika Selatan kepada komunitas kulit putih yang telah dibunuh selama 10 tahun terkahir.''

Dia mengatakan ada kemarahan yang besar' diantara anggota AWB. ''Mereka meminta pembalasan dendam atas kematian Eugene Terreblanche," katanya.

Dia menyebut beberapa anggota menginginkan kekerasan, tapi dia meminta agar mereka menunggu keputusan partai yang tengah berkordinasi diseluruh wilayah.

Ancaman kekerasan rasial

Image caption Pembunuhan Terreblanche menyulut kembali kekerasan rasial di Afsel

Lebih dari 3.000 petani kulit putih dilaporkan terbunuh sejak apartheid berakhir tahun 1994.

Sebuah komite penyelidikan menunjukan pada tahun 2003 hanya 2% serangan di tanah pertanian yang memiliki motif politis, walau kritik mengatakan angka tersebut terlalu rendah.

AWB menyalahkan Julius Malema, ketua partai liga pemuda ANC yang menyulut aksi pembunuhan setelah menyanyikan lagu tentang pembunuhan petani berkulit putih.

Pekan lalu, Pengadilan Tinggi melarang Malema untuk bernyanyi sebuah lagu rasis era apartheid dengan kata-kata "bunuh Boer".

Boer adalah sebutan Afrika untuk petani, tapi seringkali digunakan untuk mengolok-olok orang kulit putih di Afrika Selatan.

Julius Malema dalam kunjungan ke Zimbabwe menolak bertanggung jawab dalam peristiwa pembunuhan tersebut.

"ANC akan memberi tanggapan atas tuduhan tersebut. Dalam kapasitas pribadi, saya tidak akan menanggapi atas apa yang orang katakan, saya tidak terkait dengan hal itu'', katanya.

Dibayangi masa lalu

Afrika Selatan adalah sebuah negara yang masih mencoba pulih dari pertikaian rasial masa lalu, dan masih tetap ada keraguan atas masa depan negara ini.

Image caption AWB menuduh Julis Malema terlibat dalam pembunuhan

Kawasan Ventersdorp kini semakin memanas setelah pembunuhan.

"Lelaki kulit hitam membunuh seorang lelaki kulit putih, sudah jelas itu akan menyebabkan banyak masalah,'' kata Kgomotso Kgamanyane, seorang kasir di sebuah stasiun pengisian bahan bakar lokal.

"Baru saja masuk seorang pelanggan kulit putih dan dia mengatakan kepada kami untuk pergi ke neraka,'' katanya kepada kantor berita AFP.

"Ini bisa menimbulkan kekerasan, karena dalam pikiran kulit putih kalau kami melakukannya karena rasa benci''.

Dua pria berusia 21 dan 15 tahun telah ditangkap dan dikenai dakwaan sehubungan dengan pembunuhan ini, kata polisi.

Mayat Terreblanche ditemukan di tempat tidur dengan luka-luka di wajah dan kepalanya. Ia diserang dengan golok dan tongkat kayu.

Terreblanche menjadi terkenal awal tahun 1980-an karena memperjuangkan wilayah terpisah bagi warga kulit putih dan memimpin sekelompok kecil orang yang bertekad melestarikan apartheid.

Berita terkait