Terbaru  19 Juli 2010 - 13:20 GMT

Singapura tangkap penulis Inggris

Alan Shadrake

Alan Shadrake membahas penggunaan hukuman mati di Singapura.

Polisi Singapura menangkap seorang penulis buku asal Inggris yang membahas penggunaan hukuman mati di Singapura dalam bukunya.

Alan Shadrake, 75 tahun, ditahan atas dakwaan pencemaran nama baik dan bisa dijatuhi hukuman penjara dua tahun.

Namun pemerintah mengatakan buku -yang juga berisi wawancara dengan petugas hukuman gantung- itu tidak dilarang.

Shadrake mengatakan kepada para wartawan sebelum ditahan bahwa ia tahu akan menghadapi masalah ketika datang ke Singapura akhir minggu ini untuk mempromosikan bukunya.

"Jika mereka melakukan sesuatu, ini hanya akan mengarahkan perhatian pada masalah tersebut, dan mereka tidak bisa membela diri," katanya kepada kantor berita AFP.

Melanggar aturan pengadilan

Shadrake, yang tinggal di Inggris dan Malaysia, adalah wartawan investigasi yang telah menulis untuk sejumlah suratkabar internasional.

Buku pertama dalam karirnya selama 50 tahun adalah The Yellow Pimpernels, yang merinci cerita orang-orang yang melarikan diri menyeberangi Tembok Berlin.

Sedag buku terbarunya -Once a Joly Hangman, Singapore Justice in the Dock- antara lain berisi wawancara dengan Darshan Singh, mantan kepala bagian eksekusi di penjara Changi Singapura yang sekarang sudah pensiun.

Jika mereka melakukan sesuatu, ini hanya akan mengarahkan perhatian pada masalah tersebut, dan mereka tidak bisa membela diri

Alan Shadrake

Ia juga menyertakan wawancara dengan para pegiat hak asasi manusia, pengacara, dan mantan perwira polisi.

Namun kantor jaksa agung mengatakan buku itu meragukan kenetralan, integritas, dan kemandirian sistim peradilan Singapura.

Kejaksaan juga ingin mengenakan dakwaan melanggar aturan pengadilan selain tindak pidana pencemaran nama baik yang menurut polisi sudah dikenakan.

Minggu lalu, pemerintah Singapura mengatakan kepada BBC bahwa buku itu tidak dilarang walau pemerintah punya hak untuk menyarankan agar toko-toko buku tidak menyediakannya.

Film dilarang

Hukuman mati adalah wajib di Singapura bagi kejahatan pembunuhan, pengkhianatan, penyelundupan narkotika dan kejahatan-kejahatan lain.

Para pejabat mengatakan hukuman mati merupakan faktor kunci untuk mempertahankan angka kejahatan tetap rendah.

Namun para pegiat hak asasi manusia sudah lama mengecam pemerintah Singapura karena menggunakan gugatan pencemaran nama baik untuk membungkam oposisi politik.

Dalam insiden terpisah Singapura melarang pembuatan film mengenai seorang pegiat hak asasi manusia oleh produser film lokal, dengan mengatakan film itu tidak diminati masyarakat.

Film karya Martyn See itu mengangkat kisah seorang mantan tahanan politik Lim Hock Siew dengan adegan dia sedang menyampaikan pidato yang diyakini menjadi alasan dia dipenjara secara tidak adil.

Lim ditahan selama dua dasawarsa dari tahun 1963 sebagai bagian dari operasi yang menurut pemerintah untuk mengakhiri pengaruh komunis di Singapura.

BBC navigation

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.