Jepang kenang korban bom atom Hiroshima

AS, Inggris dan Prancis untuk kali pertama hadir di peringatan Hiroshima
Image caption AS, Inggris dan Prancis untuk kali pertama hadir di peringatan Hiroshima

Warga Hiroshima, Jepang mengenang ulangtahun ke-65 serangan bom atom di kota mereka.

Untuk kali pertama, wakil pemerintah Amerika Serikat, yang menjatuhkan bom atom di sana, hadir.

Sekitar 140.000 orang tewas seketika atau mati beberapa bulan setelah bom dijatuhkan oleh pesawat AS pada tahun 1945 di hari-hari akhir Perang Dunia II.

Jepang menyerah kepada sekutu setelah bom atom kedua dijatuhkan ke Nagasaki tiga hari kemudian pada 9 Agustus.

Keputusan Washington mengirimkan duta besar AS untuk Tokyo, John Roos, dipandang sebagian kalangan di Jepang sebagai pertanda Presiden Barack Obama mungkin memutuskan untuk mengunjungi Hiroshima ketika dia bertandang ke Jepang.

Jika itu terjadi, Obama akan menjadi presiden Amerika pertama yang berkunjung ke negara tersebut ketika masih menjabat.

Ketika berbicara di Washington, Menlu AS State Hillary Clinton mengatakan negaranya bertekad untuk menyingkirkan senjata nuklir dari dunia.

''Presiden ini, Presiden Obama, bertekad keras untuk mengupayakan dunia tanpa senjata nuklir. Dia sudah berulang kali menyatakan dia menyatakan ini sebagai tujuan jangka panjangnya,'' kata Clinton.

Inggris dan Prancis, yang kedua-duanya negara nuklir, juga untuk kali pertama mengirimkan wakil di peringatan di Hiroshima.

Seruan PBB

Sekjen PBB Ban Ki-Moon juga hadir. Demikian juga wakil dari 75 negara.

Jepang, satu-satunya negara yang pernah menjadi sasaran serangan dengan senjata nuklir, sudah lama mengkampanyekan penghapusan senjata nuklir.

Hiroshima musnah akibat bom atom, dan pusat kota kini menjadi ajang Peace Memorial Park tempat peringatan tahunan berlangsung.

Setelah tiba di kota Jepang itu hari Kamis, Ban mengatakan: ''Satu-satunya cara untuk menjamin senjata semacam itu tidak akan pernah digunakan lagi adalah dengan menghapuskan seluruhnya.''

''Tidak boleh ada tempat bagi senjata yang tidak pandang bulu di dunia kita,'' tandas Ban.

Sebagian kalangan di Jepang mendesak Amerika Serikat meminta maaf atas serangan bom atom, namun wartawan BBC Roland Buerk di Hiroshima, menyatakan itu tidak mungkin terjadi.

Berita terkait