Puluhan pencari suaka kabur dari tahanan

    Construction Camp di Pulau Christmas, tempat anak kecil, wanita dan keluarga tanpa anak held (Courtesy of Amnesty International)
Image caption Penahanan lama dikhawtirkan bisa menyebabkan gangguan jiwa

Sekitar 70 pencari suaka kabur dari tahanan di Darwin, Australia, untuk melancarkan memprotes perlakuan terhadap diri mereka.

Polisi tengah berunding dengan para tahanan tersebut untuk membujuk agar mereka kembali ke kamp.

Para pengungsi, yang diyakini polisi kebanyakan orang Afghanistan, membentangkan seprei yang dibubuhi pesan meminta bantuan dan belas kasihan.

Aksi kabur dari kamp itu terjadi menyusul dua hari demonstrasi oleh sekitar 100 WNI di fasilitas yang sama.

Demonstran mengatakan kepada media pemerintah bahwa mereka marah dengan lamanya proses pengajuan permohonan suaka mereka.

Sebagian dari mereka mengatakan mereka baru-baru ini diberitahu bahwa mereka tidak berhak untuk mendapat status pengungsi di Australia.

Seorang pria mengatakan dia telah berada di tempat penahanan tersebut sembilan bulan sejak tiba dengan perahu.

Investigasi

Penyelidikan tengah berlangsung atas cara para tahanan berhasil menerobos pagar pengaman pusat penahanan tersebut, kata juru bicara departemen imigrasi Australia.

Wartawan BBC Phil Mercer mengatakan sebagian tahanan mengusung pesan yang ditulis diseprei yang menyatakan ''beri kami belas kasihan'' dan ''kami tidak berdaya dan minta perlindungan''.

Lebih dari 100 orang asal Indonesia yang dituduh penyelundup manusia mengamuk di fasilitas yang sama akhir pekan. Mereka menyukut kebakaran dan merusak beberapa fasilitas.

Ian Rintoul, dari LSM hak pengungsi Refugee Action Coalition, mengatakan mereka adalah nelayan miskin yang ditipu oleh kawanan penjahat dan semestinya langsung dipulangkan saja.

''Saya rasa faktanya keseluruhan masalah nelayan Indonesia yang dituduh dengan pelanggaran penyelundupan manusia, di luar itu pertanyaannya adalah bahwa mereka semestinya ditahan, dipenjarakan,'' katanya.

''Dan, pemerintah Indonesia sebenarnya menyatakan hal yang sama,'' tambah Ritoul.

''Orang-orang ingin pulang dan wajar saja begitu,'' katanya.

Berita terkait